Artikel / Feature / Lain lain / January 21, 2014

Ada Apa Dengan Donat

dunkin-nudie

Suatu senja, saat hujan penuh kegalauan.

Masih bersyukur saya tidak sedang terjebak di jalan, diguyur hujan yang tak bosan memandikan bumi yang memang kotor ini. Ruangan yang tak lagi ber-AC menjadi tempat berteduh saya, sambil membaca. Sebuah kicau digital yang terejawantah dalam huruf-huruf yang merangkai kata menyusun kalimat, muncul di layar telepon cerdas saya. Liverpool mencapai kesepakatan kerjasama dengan Dunkin Donuts, merk donat favorit saya saat lajang. Donat yang gerai nya tak bosan saya jadikan tempat nongkrong tiap akhir pekan, sebelum saya tau banyak senang membuang waktu di sana.

Suatu malam, setelah senja itu, di sebuah gubuk reot. Berteman suara rintik hujan yang menghujam atap asbes. Secangkir kopi, tanpa donat.

Liverpool FC menjalin kerjasama dengan Dunkin Donuts. Merk donat yang menutup seluruh gerai nya di Inggris, pertengahan 90an. Merk donat yang seperti ingin kembali masuk ke ranah Kerajaan Inggris Raya, dengan membuka lagi satu gerai di utara London. Jauh dari Liverpool. Merk donat yang konon paling banyak kalorinya, saat di Inggris sedang ada Pekan Nasional Peduli Obesitas.

Suatu malam, masih riuh suara hujan di luar. Berteman kopi yang tak lagi utuh secangkir dan tetap tanpa donat.

Saya tersenyum. Senyum karena kerjasama baru dengan donat Amerika itu.  Obesitas terjadi pada pundi pundi uang klub yang saya cintai akan terjadi. Pemain baru bisa segera di miliki. Semoga bukan mimpi. Mungkin

dunkin3Jelang tengah malam, lanjutan hari itu. Cangkir kopi sudah tanpa isi, masih tanpa donat.

Saya menerka nerka. Mengada ada. Apa yang ada di benak Brendan Rodgers. Apa yang akan dia suguhkan. Untuk John W Henry dan istri cantiknya yang akan datang. Di Anfield. Jelas bukan donat. Imitasi kacamata dari dua buah donat. Mungkin. Kacamata dari donat, yang bisa dipakai melihat dari lobang di tengahnya. Apa yang kurang dan dibutuhkan untuk memperbaiki skuad Liverpool FC. Liverpool FC yang baru menjalin kerjasama dengan donat Amerika. Liverpool FC milik John W Henry.

pizzuti-henry

Pagi setelah hari itu, masih hujan. Hujan di seluruh negeri. Bukan hujan donat. Saya masih ditemani kopi. Tanpa donat.

Lini masa twitter, seragam. Hujan, banjir. Tagar yang juga seragam. #Matchday. Di sini, jauh dari Liverpool. Entah apa yang sudah diputuskan Brendan Rodgers. Menghadapi Aston Villa. Malam nanti. Menyuguhkan tontonan menarik untuk pemilik. John W Henry dan istrinya yang cantik. Linda Pizzuti. Yang hadir di Anfield nanti.

Lewat tengah malam, masih tetap hujan. Di sini. Jauh dari Liverpool. Jauh sekali. Masih berteman kopi. Menatapi televisi. Tanpa donat.

Brendan Rodgers dan keputusannya. Meninggalkan apa yang disebutnya filosofi. Atau mungkin menciptakan filosofi baru. Filosofi donat. Bolong di tengah. Filosofi donat, menempatkan Gerrard di lini tengah. Seorang diri. Bagai lubang dalam sebuah donat. Suarez dan Sturridge yang produktif adalah topping toppingnya. Mignolet dan para bek, bernasib bagai kopi. Pahit.

devil-and-homer1Lewat tengah malam, masih terdengar curah hujan. Di luar. Kopi sudah tersingkir, berganti alkohol. Masih tanpa donat.

Aston Villa melahap sajian baru di Anfield. Donat. Bukan donat Amerika yang belum ada gerai nya. Aston Villa dengan filosofi memakan donat. Donat ala Rodgers. Donat di tubuh Liverpool FC. Menggigit dari pinggir. Menusuk. Mempermainkan tengahnya yang sudah bolong.

Lewat tengah malam, masih terdengar gemericik hujan. Dua ribu seratus enam puluh. Bukan. Bukan harga sebuah donat. Dua ribu seratus enam puluh detik. Liverpool FC berubah seperti donat. Bolong di tengah. Dua gol bersarang di gawang Mignolet. Pahit, seperti kopi tanpa donat. Publik Anfield tercekat. Seperti tersedak donat. Tanpa kopi.

Dua ribu tujuh ratus. Bukan juga harga donat. Dua ribu tujuh ratus. Pahit untuk Coutinho. Seperti menenggak kopi. Brendan Rodgers tak lagi percaya donat. Donat yang bolong di tengah. Lucas Leiva menambal lubang di tengah donat. Donat bermana Liverpool FC. Liverpool FC bukan lagi donat. Tapi sudah terlambat.

Lewat tengah malam, bumi semakin berair. Mata saya mengikuti. Seribu dua ratus. Bukan. Bukan harga donat. Seribu dua ratus detik. Lucas Leiva menambal donat. Lalu cedera. Bukan karena digigit. Karena Lucas bukan donat. Pahit seperti kopi. Terancam pulang kampung bukan untuk turut Piala Dunia. Dunia sepakbola. Bukan dunia donat. Lucas Leiva pulang kampung, mungkin untuk menonton saja. Bersama keluarga. Sambil menikmati donat. Mungkin donat Amerika.

Lewat tengah malam, sudah enggan memikirkan donat. Liverpool FC yang tak lagi seperti donat, harus rela kalah. Kalah 2 angka. Skor akhir 2-2. Bukan skor kacamata. Kacamata dari dua buah donat.

Pagi, setelah tengah malam itu. Hujan sudah bosan. Hanya menetes pelan. Rintik kecil.

Terbayang Liverpool FC yang seperti donat. Bolong di tengah. Sepeninggal Lucas Leiva yang cedera. Gerrard akan tetap jadi lobang. Liverpool FC, bolong di tengah. Seperti donat.

Terbayang Liverpool FC digigiti seperti donat. Dari pinggir. Dari Johnson yang mungkin kebanyakan makan donat. Lemas karena kebanyakan gula. Tak bisa lari. Liverpool FC digigit dari pinggir seperti donat. Dari sisi Cissokho. Yang hitam manis. Manis seperti donat.

Sore, setelah tengah malam itu. Hujan sudah semakin malas. Berteman kopi. Tetap tanpa donat.

Berharap Henry melihat. Melihat lobang di tengah seperti donat. Melihat Liverpool FC yang seperti donat. Bolong di tengah. Lalu bergegas meminta Ayre yang bangga dengan donat. Ayre yang berkisah tentang kerjasama Liverpool FC dengan donat. Donat Amerika. Agar berbelanja untuk Rodgers. Bukan berbelanja donat. Berbelanja untuk menambal lobang di tengah. Agar Liverpool FC tak seperti donat. Bolong di tengah. Berbelanja dengan uang dari donat. Donat Amerika.

Jelang tengah malam, di hari yang sama. Di hari yang sama saat saya melihat Liverpool FC seperti donat. Saya tertidur. Saya bermimpi. Mimpi nonton di Anfield. Sambil menikmati donat. Donat Amerika.

homer_sleeping-e1339093186191



Bookmark and Share




Previous Post
Makin Dalam, Gerrard!
Next Post
Bayar mahal sekarang? Atau lebih mahal nanti?







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Makin Dalam, Gerrard!
"The manager told me that moving forward I'll be playing this role a lot more. It's going to take a bit of getting used to it. I'll...