Artikel / Feature / Lain lain / February 16, 2014

Aim For The Sky, Get Your Parachute Ready

Sempatkan sejenak untuk kembali melihat klasemen Premier League. Perolehan angka tiap tim dari setiap “kasta” sangat lah tipis. Apapun bisa saja terjadi di akhir musim nanti, siapa yang jadi juara, siapa yang ke Eropa, dan siapa yang harus turun ke kasta ke dua sepakbola Inggris.

Empat adalah posisi Liverpool FC di klasemen sementara, juga selisih poin dengan pemuncak klasemen, Chelsea. Sementara Chelsea, dan kekuatan lain, Manchester City, masih harus mengunjungi kita di Anfield. Anfield yang sudah kembali menampakkan ke-angker-annya. Tiga, adalah selisih dengan peringkat 5 klasemen. Delapan dan sebelas, selisih dengan dua seteru abadi LFC.

GW26

Apapun bisa saja terjadi.

Saya pribadi adalah orang yang meyakini bahwa kadang, keterbatasan dan kondisi terdesak adalah hal yang justru bisa membuat kita semakin kuat, dan berpikir untuk membuktikan diri menjadi yang lebih baik. Dan nampaknya, Rodgers beserta tim nya pun punya pemikiran yang sama.

Banyak hal positif yang bisa menyeret harapan kita – sebagai fans – ke tempat yang lebih tinggi, jika melihat sepak terjang Liverpool FC sejauh ini. Hal-hal positif yang muncul dari kondisi terdesak, dari sebuah keterbatasan.

Kegagalan manajemen untuk mendatangkan pemain yang diincar Brendan Rodgers dalam empat (ya, empat) transfer window, membuat Rodgers tidak bisa menerapkan filosofi sepakbolanya dengan benar. Banyak utak-atik yang dilakukakanya hingga malah membuat Liverpool memiliki banyak variasi taktik.

High defensive line dan possession football tak lagi menjadi hal yang mutlak harus di terapkan. Rodgers tak lagi keras kepala dengan filosofi nya, tiki-taka, death by football. Rodgers tak malu menginstruksikan Skrtel dan kawan-kawan bermain rapat di depan kiper, Rodgers juga berhasil menerapkan counter attacking football yang mematikan. Memanfaatkan kemampuan Suarez, Sterling, Sturridge, Coutinho, dan Gerrard yang mahir dalam hal ini.

Semua perubahan tersebut disesuaikan dengan lawan-lawan yang dihadapi. Rodgers yang konon banyak disebut tidak pernah punya plan B, mengejutkan kita semua. Belum lagi jika kita mau melihat peningkatan mengagumkan dari produktifitas gol yang berasal dari set pieces, sesuatu yang sudah lama sekali bisa dicapai LFC. 17 gol berasal dari set piece, tertinggi di Premier League sejauh ini.

Tanyakan tentang counter attack dan attacking set piece nya Liverpool tersebut pada Arsene Wenger, Andre Villas Boas, atau Roberto Martinez.

scoreline

Kita juga bisa melihat bagaimana Liverpool bisa lebih sabar membongkar parkiran stupa candi dan piramid piramid kecil di pertahanan lawan. Cara bertahan Tony Pulis yang dicontek oleh Mark Hughes, René Meulensteen, dan Lambert di awal musim bersama Aston Villa, bisa ditaklukkan.

Masih ingat bagaimana Suarez dan Gerrard, membuat Coutinho kesal karena harus mempersingkat selebrasi gol nya melawan Fulham kemarin? Gambaran mentalitas “tidak cepat puas” dengan hasil seri. Juga bagaimana sesuatu bernama kolektifitas, bukan hanya terejawantah saat melakoni pertandingan saja. Kolektifitas, penghargaan dan keceriaan saat merayakan gol juga nampak mewakili mentalitas yang sehat di dalam seluruh pemain.

Anda tertarik dengan statistik? Tulisan Kristian Walsh di Liverpool Echo ini akan membuai anda terbang, sekaligus bisa menjadi barometer sekaligus kompas buat kita semua, untuk mengukur, dan tau kemana arah harapan kita.

***

Arsenal berhasil kita hancurkan pekan lalu, dan malam nanti mereka akan menjamu Liverpool di ajang FA Cup. Mereka akan menjadi tuan rumah yang ketakutan. Jelas belum hilang dari ingatan para pemain mereka, 20 menit paling menjengkelkan dalam karir mereka, ketika 4 gol bersarang di gawang mereka yang sebelumnya begitu rapat. Belum lagi, mereka harus memikirkan kengerian lain di tengah pekan besok, menghadapi raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Keuntungan berpihak pada LFC, yang baru akan bermain lagi pekan depan. Bermain di kandang melawan Swansea. Jadi tidak ada alasan untuk mengistirahatkan pemain yang sudah tau bagaimana mengobrak abrik Arsenal. Bahkan nanti malam, mungkin, hanya mungkin, Arsenal akan turun dengan pemain lapis dua nya. Bukankah uang dari Liga Champion lebih penting?

Don’t change the winning team.

Bubuhkan air jeruk dan garam, pada luka mereka. Sekaligus merintis jalan ke final yang lain, saat kandidat juara yang lain, Chelsea, semalam dibekuk Manchester City.

***

Saatnya menikmati periode penuh harapan, sejak terakhir kita bisa merasakannya di musim 2008/2009. Musim dimana Rafael Benitez memupuk asa kita semua untuk meraih gelar ke 19. Musim dimana akhirnya kita kecewa, karena hasil-hasil menggelikan yang berdampak pada berubahnya takdir. Musim yang harus kita jadikan pelajaran.

Musim ini, Rodgers berhasil menyuguhkan sepakbola atraktif varitatif. Sesuatu yang menjanjikan lebih. Dan pelajaran dari musim 2008/2009, kiranya bisa dijadikan acuan, bagaimana mensikapi sisa musim kompetisi.

Kekhawatiran akan kinerja lini belakang yang masih seringkali bocor, dan kebobolan gol-gol bodoh, dalam waktu dekat mungkin akan segera tersingkirkan dengan kembalinya Agger, Sakho, Johnson, Enrique.

Terus meraih hasil positif, juga kemenangan spektakuler atas Spurs, Everton, dan Arsenal, mungkin akan jadi hal terbaik untuk mengatasi penyakit menahun LFC, inkonsistensi.

Jadi mari kita berharap, lebih banyak. Karena tidak ada yang salah dengan berharap lebih. Jika pada akhirnya berujung kekecewaan, adalah hal wajar, karena kita manusia. Tidak ada yang salah dengan berharap lebih, yang salah adalah kecewa yang berlarut larut.

shank

Aim for the sky and you’ll reach the ceiling. Aim for the ceiling and you’ll stay on the floor.”

Kalimat dari Sang Legenda, Bill Shankly. Kalimat yang harus selalu kita amalkan. Khususnya musim ini. Posisi 4 di akhir musim, bukan jaminan untuk pemain spektakuler yang kita miliki, Suarez untuk tinggal. Karena masih ada babak kualifikasi untuk bisa masuk ke elit Eropa. Masih ada kemungkinan gagal, dan juga masih ada kemungkinan Suarez ditukar 100 juta pounds, jika amit-amit gagal.

Mari kita menyongsong double winner.

Apapun bisa saja terjadi.

God bless, Liverpool FC.

Get yor parachute ready.



Bookmark and Share




Previous Post
(Mencoba) Memahami Kebijakan Transfer LFC
Next Post
RAJIN CETAK GOL PEMBUKA PANGKAL JUARA



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
(Mencoba) Memahami Kebijakan Transfer LFC
Bukan Liverpool rasanya kalau tidak melalui transfer window dengan drama. Sejak saga Xabi Alonso, kepindahan Torres, kasus...