Artikel / Feature / Lain lain / January 24, 2014

Bayar mahal sekarang? Atau lebih mahal nanti?

4 besar? Atau jadi juara sekalian?

Juara? Sepanjang sejarah Premier League, ada sebelas kejadian di mana pemimpin liga pada saat hari Natal – gagal menjadi juara pada akhir musim. Liverpool adalah tim terakhir yang mengalami kesialan tersebut pada tahun 2009.

Posisi 4 Besar? Sejarah juga mencatat, bahwa tim yang memimpin klasemen pada hari Natal, nyaris selalu ada di posisi empat besar. Hanya Aston Villa yang berakhir di posisi 6 pada 1999.

 

BPL_table_xmas_leaders_history

Ketika Brendan Rodgers dan pemainnya mengungkapkan rasa percaya dirinya, bahwa Liverpool bisa jadi juara. Saya pribadi, cenderung mengabaikannya. Walau sejarah sedikit berpihak, namun sepertinya kekuatan tim kurang mendukung ambisi tersebut.

 

Tengah, Belakang Kiri dan Kanan

Pada pertandingan melawan Aston Villa, Rodgers memasang 4 penyerang di depan. Dia membusungkan dada dengan 22 gol dari Suarez & Sturridge. Duo mematikan tersebut didukung oleh kelincahan Sterling dan kreativitas Coutinho. Sang manajer seperti ingin menunjukkan daya ledak LFC kepada John Henry yang berkunjung ke Anfield.

Bukannya banjir gol, tapi justru kelemahan Liverpool ditunjukkan secara gamblang pada babak pertama.

Lini tengah. Tidak adanya gelandang bertahan murni menyebabkan Gerrard—yang digadang–gadang akan mampu berperan sebagai deep lying playmaker semacam Pirlo—melempem dibanjiri serbuan Weimann & Ahmadi (Lucas pada malam itu duduk di bangku cadangan. Btw, Lucas juga bukan gelandang bertahan murni. Posisi aslinya: box to box). Sang kapten sendiri akhirnya mengakui bahwa penampilannya di babak pertama jauh dari kata memuaskan. Entah memang baru adaptasi, atau memang bukan harinya. Tetapi untuk saat ini, prospek Gerrard untuk jadi pemain setipe Pirlo terlihat tidak menarik.

Sebelum pertandingan, Michael Cox dari Zonal Marking mengatakan bahwa Weimann akan jadi kunci untuk Villa. Sasarannya? Area bek kiri LFC yang dijaga Cissokho. Dan benar saja, Weimann membuat gol pertama Villa dengan berlari dari tengah lapangan tanpa kawalan.

Saking percaya dirinya, Villa lalu membiarkan Cissokho begitu saja; tanpa menugaskan seorangpun untuk mengawalnya. Otomatis, aliran bola terus diarahkan ke kiri. Sayangnya, diberi kesempatan semantap ini pun, Cissokho masih gagal berkontribusi positif pada pertandingan (monggo kalo mau ketok-ketok meja).

Di sisi kanan pun sama. Glen Johnson seperti bermain setengah hati (walau barusan, Rodgers mengatakan bahwa Glenjo memaksakan bermain, meskipun punya beberapa masalah cedera). Tapi, lepas dari itu, hilangnya form Glenjo di musim ini perlu jadi catatan khusus. Perpanjangan kontrak pun harus dipertimbangkan lagi.

 

Ambisi (Duit) Awal Prestasi?

Mana duit donatnya, John?” Sudah ada yang nyinyir seperti itu? (Memang duit donat bisa diadu sama duit minyak?)

Ketika Chelsea mengonfirmasi diterimanya tawaran mereka untuk Mo Salah, linimasa Twitter saya mendadak penuh keluhan dan caci maki. Terus terang, saya pribadi nggak terlalu pusing. Lini depan ditambahin Salah, Alhamdulillah. Nggak, juga ga masalah (menghibur diri, padahal ya tetep aja sepet. Aye!). Kita masih punya Suarez, Sterling, Sturridge, dan Coutinho (Baiklah, Moses, Luis Alberto, dan Aspas juga disebutin saja, biar kelihatan banyak).

Buat saya, saat ini kebutuhan paling mendesak adalah pemain bertahan. Terutama posisi gelandang bertahan dan bek kiri (dan kanan).

Cederanya Lucas dan Glenjo, selain menambah pusing Rodgers akan tipisnya lini tengah dan belakang, juga berpotensi memberatkan komite transfer. Klub pemilik pemain incaran bisa saja memainkan harga—merujuk ke kenyataan bahwa memang kedua pemain yang cedera tersebut adalah pemain penting. Dan kita memang desperate) untuk melapisi posisi tersebut.

Semakin mencemaskan, di konferensi pre-match lawan AFC Bournemouth, Rodgers mengatakan bahwa hanya ada 15 pemain di tim utama yang fit. Ini jauh dari kondisi yang ideal. (Positifnya, ini bisa jadi ajang unjuk gigi dan promosi untuk pemain lulusan akademi LFC). Setelah ini, kita masih harus menjamu Everton dan Arsenal beberapa minggu ke depan.

Musim ini adalah saat yang tepat untuk kembali ke liga Champion. Kesempatan yang harus diambil sepenuh hati dan tanpa keraguan; oleh para pemain, tim manajer, sampai owner. Sering kali sepakbola modern didikte kenyataan bahwa uang yang bicara. Membayar mahal untuk mendapatkan kualitas, kadang harus dilakukan. Dan lepas dari label harga, bukannya kita sudah membuktikan bahwa pembelian pemain pada jendela transfer Januari bisa berdampak bagus? Pembelian Coutinho dan Sturridge contohnya.

Cou_Stu

Jendela transfer masih akan dibuka sampai minggu depan. Bagi saya, lebih baik membayar sedikit lebih mahal sekarang. Karena terlempar dari 4 besar (gara–gara tipisnya skuat) dan gagal masuk zona liga Champions (lagi) adalah konsekuensi akhir musim, yang menurut saya; jauh lebih mahal dibandingkan selisih sekian juta Poundsterling untuk belanja pemain.

Jadi, bayar mahal sekarang? Atau terima konsekuensi yang lebih mahal pada akhir musim nanti?

 

@yanipatrik



Bookmark and Share




Previous Post
Ada Apa Dengan Donat
Next Post
(Mencoba) Memahami Kebijakan Transfer LFC







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Ada Apa Dengan Donat
Suatu senja, saat hujan penuh kegalauan. Masih bersyukur saya tidak sedang terjebak di jalan, diguyur hujan yang tak bosan...