Artikel / Feature / Lain lain / July 11, 2014

Farewell, Genius!

140 karakter dalam setiap tweet tidak bisa menjelaskan lebih detil sebuah pemikiran, bahkan ketika dirangkai dalam serial tweets sekalipun. Untuk itulah tulisan ini saya buat untuk lebih menjabarkan 23 tweets saya beberapa hari lalu, tentang opini – atau lebih tepatnya – dugaan saya atas apa yang kira-kira menjadi latar belakang keinginan Suarez untuk pindah.

Saya pernah dibuat tercengang untuk akhirnya maklum, berdecak kagum, dan mengamini apa yang dituturkan seorang sahabat saya. Suatu malam, sekitar dua tahun lalu saya menanyakan kepada sahabat tersebut tentang “kemurahan hati” nya. Ya, sahabat saya tersebut seringkali mengeluarkan uang yang tidak sedikit – menurut saya – demi menyokong kesenangan, terciptanya tawa, dari teman-teman dekatnya.

Apa yang saya tanyakan saat itu adalah, kenapa sahabat saya itu bisa sebaik itu, tanpa mengharapkan sesuatu timbal balik yang konkrit dari teman-teman nya yang sudah “diberinya” kesenangan? Jawaban darinya kira-kira adalah bahwa  yang dia lakukan boleh dibilang menebus apa yang pernah dia alami di masa lalu, sebelum dia sukses dan makmur seperti sekarang. Menurutnya, kala itu dia sering mendapat bantuan dari teman-temannya. Jadi sekarang ini dia tanpa pamrih mengeluarkan sebagian yang dia punya untuk menyenangkan teman-temannya. Kebahagiaan, keceriaan, tawa dari teman-temannya itu memunculkan kepuasan sendiri untuknya.

Personal Satisfaction.

Singkatnya, selalu ada alasan seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang bagi orang lain, alasan tersebut tidak masuk akal.

***

Selalu ada amarah, duka dan kesedihan bagi pihak yang ditinggalkan. Demikian hukum yang berlaku dalam kehidupan di semesta yang kita huni ini. Demikian juga yang sekarang dirasakan supporter Liverpool FC – termasuk tentunya kita –

Hari ini Luis Alberto Suarez Diaz, seorang pemain yang sudah mendapatkan tempat khusus di hati kita semua resmi hijrah ke Barcelona. Untuk beberapa saat nanti, kita akan terjebak dalam kemarahan, kesedihan. Bagaimana tidak, jika mengingat apa yang sudah dia perbuat untuk klub kita tercinta. Semua kontribusi nya untuk klub jelas tidak bisa kita pungkiri. Sesuatu yang sangat membanggakan karena telah membantu Liverpool FC kembali ke khitah nya, masuk kembali ke jajaran elit Eropa. Dan tidak bisa dipungkiri juga akan ada perlawanan dalam benak kita semua, tentang apakah benar Suarez mencintai klub ini sepenuh hati?

Kemudian kita dibawa kembali ke peristiwa peristiwa yang menggambarkan dan membentuk opini kita, bahwa Suarez benar-benar mencintai klub ini. Dari selebrasi gol emosional dalam derby Merseyside atau North West Derby hingga isak tangisnya ketika hasil akhir melawan Crystal Palace di penghujung musim lalu menyudahi mimpi kita semua untuk mengakhiri musim sebagai kampiun. Hingga yang paling akhir, ucapan perpisahannya, sesaat setelah resmi bergabung ke Barcelona.

Jika benar Luis mencintai klub ini, lalu kenapa harus mau pergi ? Sebuah pertanyaan yang seragam, di benak kita semua, hari ini.

Semua yang dilakukan saat bersama LFC 2.5 musim ini mungkin benar dilakukannya dengan cinta. Dengan totalitas. Sebagai upaya membayar dukungan dan kepercayaan klub, supporter, manager saat dirinya terlibat kasus-kasus yang menyulitkannya. Dari mulai kepindahannya dari Ajax – yang kebetulan juga setelah melakukan gigitan terhadap Omar Bakkal – tuduhan ucapan rasis ke Evra, hingga kembali menggigit pemain lawan (Ivanovic)  yang menyebabkannya dikenai sanksi.

Profesional. Mungkin itu yang lebih tepat disebut, ketimbang memperdebatkan tentang kecintaannya nya untuk klub adalah sesuatu yang tulus atau tidak. Apalagi membahas loyalitas. Karena di era sepakbola yang sudah sangat komersial juga status social seorang pesepakbola, loyalitas adalah barang langka.

Lupakan sejenak segala teori konspirasi yang memuluskan kepindahannya ke Barcelona (pernah saya tweet-kan juga, silahkan lihat TL saya beberapa minggu lalu)

pict credit to @MostarLFC

Dari sudut pandang saya yang lain, saya beranggapan bahwa salah satu kalimat dalam ucapan perpisahan Suarez tersebut adalah benar faktor utama kepindahannya. Keluarga, dalam hal ini istrinya, Sofia Balbi (juga Delfina dan Benjamin)

“ … but playing and living in Spain, where my wife’s family live, is a lifelong dream and ambition”

Keinginan Sofia untuk kembali ke Barcelona, bukan semata karena dia dan keluarganya pernah tinggal di sana. Lebih jauh, saya membayangkan betapa letihnya dia ketika suaminya didera berbagai persoalan saat di Inggris. Belum lagi tekanan psikologis yang dia dapatkan ketika media dan public sepakbola Inggris atas setiap peristiwa, yang mungkin hanya karena suaminya pernah meluluhlantahkan sebuah klub di suatu pertandingan. Bagi Suarez, semua cerca, tekanan dari media dan public sepakbola Inggris bisa dijadikan motivasi untuk tampil lebih bagus di lapangan. Tapi tidak bagi seorang istri, seperti Sofia Balbi. Apa yang akan dia jadikan jawaban bagi Delfina saat nanti mulai paham, ketika di televisi, Koran, internet membahas eksentriknya sang ayah dengan bahasa yang menyudutkan? Akan sanggup berapa lama Sofia bisa mendustai putrinya dengan jawaban-jawaban klise?

Dua gol Suarez ke gawang Inggris di penyisihan grup Piala Dunia, Juni lalu jelas memperburuk suasana. Media lebih gencar membahas tentang kasus gigitan Suarez ketimbang kegagalan timnas nya di hajatan akbar sepakbola itu. Bagaimana nanti ketika public mendapatkan gilirannya? Bisa saja dalam kurun waktu yang lama, Suarez akan mendapatkan “boo” di setiap stadion yang dia datangi bersama LFC.

Sofia Balbi telah mendampingi Suarez sejak belia. Atas keberadaannya-lah Suarez bisa bangkit dari semua keputus-asaan-nya. Suarez bisa keluar dari kelamnya masa kecilnya. Apapun akan dilakukan Suarez untuk Sofia. Silahkan anda baca lebih rinci mengenai betapa berpengaruhnya Sofia bagi hidup dan kehiudapan Suarez sebagai pribadi biasa maupun pesekabola.

Dan ketika Sofia bilang lelah dengan semua “intimidasi” , bahasa yang menyudutkan, character assassination dari media dan publik sepakbola Inggris, maka hanya satu yang ada dalam benak Suarez, pindah.

Sama seperti kisah tentang sahabat saya itu. Orang akan mau melakukan apa saja, untuk orang lain yang pernah berjasa atau berpengaruh bagi hidupnya. Dan lagi-lagi, mungkin alasan ini tetap tidak bisa kita terima. Ketika kita hanya berfikir bahwa Suarez telah mengecewakan kita.

Masih tentang identiknya cerita tentang sahabat saya itu dengan latar belakang kepindahan Suarez yang saya uraikan di atas. Selalu ada pihak-pihak yang memanfaatkan setiap kesempatan. Pada kisah sahabat saya itu, banyak muncul pihak-pihak yang memanfaatkan kebaikannya, baik dengan tujuan baik, maupun sekedar memanfaatkan.

Pada kasus Suarez, Pere Guardiola adalah pihak yang memanfaatkan situasi kegalauan Sofia untuk mendorong suaminya segera pindah. Pere Guardiola paham betul kepribadian Suarez yang mau melakukan apa saja untuk pihak yang dia anggap mendukungnya. Pere Guardiola sebagai agent Suarez, tau betul bahwa Sofia mungkin mengalami tekanan. Dan Pere Guardiola jelas sangat mengerti bahwa Sofia akan senang kembali ke Barcelona, kota tempatnya tinggal saat remaja.

Adik dari Pep Guardiola, sama seperti kakaknya adalah putra asli Catalan. Sebagai putra daerah, jelas ada keinginan untuk berkontribusi untuk klub yang dia cintai, klub yang dia dukung. Karena dirinya tak berada dalam struktur klub, maka dia berfikir hal lain untuk dia berkontribusi. Melengkapi klub idolanya yang sudah memiliki penyerang bertalenta, prolific dan menghiibur dalam diri Messi, Neymar, dengan Suarez mungkin yang ada di benaknya. Dengan begitu Barcelona akan kembali merajai  dan menjadi kekuatan yang ditakuti di sepakbola Spanyol dan Eropa, demikian mungkin pikirnya. Selain tentunya faktor komersial. Anda semua tentu sudah membaca mengenai begitu besarnya agent fee yang harus dibayarkan klub-klub dalam setiap transfer pemain.

Luis Suarez datang ke Liverpool FC ketika klub sedang terpuruk, sekarang pergi meninggalkan klub setelah membantunya kembali ke jajaran elit Eropa. Mungkin tangisnya awal Mei lalu, adalah kekecewaannya tidak bisa melengkapi balas budi untuk LFC dengan membantu menjadi juara. Tidak ada alasan bagi kita untuk membencinya, sebagaimana saat idola seperti McManaman, Owen dan Torres pergi.

So long Luis, farewell and good bye.

Thank you for everything you’ve done for our beloved club.

No good luck with your new club.

You bite our hearts.

– @ryswanto , 11 Juli 2014 –


Tags:  barcelona benjamin bite delfina Inggris liverpool liverpool fc Luis Luis Suarez sofia balbi suarez

Bookmark and Share




Previous Post
Sakit!
Next Post
The Curious Case Of Liverpool's Defense



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Sakit!
Sakit. Rasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh tertentu. Tidak hanya tubuh, rasa tidak nyaman pada perasaan atau jiwa...