Artikel / Feature / August 26, 2013

Filosofi di Tengah Atraktif & Pragmatis Liverpool

Liverpool FC Training Session

Kedatangan Brendan Rodgers ke Liverpool memang membuat banyak fans mengharapkan sebuah filosofi sepak bola berciri khas. Bukan tanpa alasan melihat Rodgers adalah penganut sepak bola modern dengan passing-passing pendek ala tiki-taka Barcelona.

Cukup berhasil memperlihatkannya saat melatih Swansea City, Rodgers mencoba filosofi yang sama di Liverpool. The Reds berhasil tampil atraktif dengan penguasaan bola tinggi. Namun, tak sepenuhnya berhasil ketika The Reds sangat mudah dibobol lewat serangan balik cepat.

Penampilan inkonsisten Liverpool pada paruh pertama musim lalu membuat Rodgers belajar bahwa filosofi agresif tak selalu berbuah hasil manis. Apalagi untuk tim yang baru dilatih satu musim.

Liverpool tidak pernah menang pada lima laga awal Premier League musim lalu dan menelan 6 kekalahan pada paruh musim pertama. Sudah berhasil menguasai ball possession dengan baik, The Reds harus tunduk lewat gaya pragmatis tim-tim macam West Bromwich Albion, Stoke City, hingga Aston Villa kala itu.

Hasil imbang 7 pertandingan juga menjadi pe-er tersendiri melihat sebagian hasil imbang datang dari tim-tim menengah ke bawah yang seyogyanya bisa jadi lumbung pemanfaatan poin.

Iya, Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho memang datang di waktu yang tepat. Pengaruh kedua pemain ini sangat besar pada paruh kedua, sehingga Liverpool hanya kalah tiga kali hingga akhir musim.

Namun, jika dinilai dari gaya bermain, Rodgers tak lagi fokus dengan gaya pass and move football. The Reds sejak saat itu menjadi tim yang lebih sabar, bahkan membiarkan tim lawan menguasai bola lebih banyak dan mematikan mereka lewat serangan balik cepat nan akurat.

Entah positif atau negatif melihat fakta tersebut. Pasalnya, Rodgers sempat mengatakan akan terus membuat Liverpool bermain atraktif, demi mencapai titik tertinggi filosofi itu sendiri.

Satu opini tersendiri muncul ketika seorang pelatih tak akan memaksakan tim mengimplementasikan suatu taktik, jika skuat yang dimiliki dirasa belum mampu untuk melakukannya.

Pola Pelan tapi pasti ditunjukkan The Reds sejak tur pramusim lalu. Jika dibandingkan dengan Chelsea, Manchester United, hingga Arsenal, yang kebetulan juga saya ikuti kiprahnya di pramusim, Liverpool menjadi tim Inggris yang paling tidak atraktif. Bermain sabar dengan operan lini perlini, peran tiga gelandang di tengah pun menjadi sangat krusial.

Mungkin ini bisa disebut dengan “Fase Amateur Strategi Pass and Move”. Ketimbang tiga tim lain, jelas gaya bermain Liverpool paling tak enak dilihat. Tetapi hasil menjadi yang utama. The Reds hanya kalah satu kali melawan FC Celtic pada pramusim. Terlepas dari lawan lain selain Celtic sangat tidak berkualitas, Hal ini bisa menjadi acuan gaya bermain Liverpool yang berada di titik diantara Atraktif dan Pragmatis.

Entah ini opini pribadi atau memang fakta yang terlihat, gaya bermain Liverpool seperti kebanyakan tim Italia. “It’s all about tactic”. Pada laga pertama melawan Stoke City, Liverpool terbilang bermain dengan gaya yang sama seperti pramusim. Terbukti dengan sekitar 20 shoot on goal yang berbuah satu gol Daniel Sturridge. Namun, The Reds selalu tertekan pada 20 menit terakhir laga.

Hal tersebut terulang pada laga kedua melawan Aston Villa. Pada babak pertama Liverpool bermain sangat baik (tidak atraktif), tapi berhasil menguasai ball possession. Namun, sisi pragmatisme tim terlihat pada babak kedua. Entah sengaja atau tak disengaja, Liverpool ditekan habis-habisan pada 20 menit terakhir laga.

Beberapa celah pun terlihat ketika Antonio Luna memborbardir sisi kanan pertahanan Liverpool yang diisi Glen Johnson dan Jordan Henderson. Menyadari sedang terpojok, Rodgers tak ingin mengambil risiko dengan memasukkan Joe Allen dan Aly Cissokho menggantikan dua pemain menyerang, Philippe Coutinho dan Iago Aspas.

Maksudnya jelas untuk bisa menahan bola lebih lama dan mengulur waktu. Menghentikan lawan dari lini tengah jelas strategi ampuh. Sayangnya, penampilan menurun Lucas Leiva pada babak kedua menjadi masalah tersendiri. Beruntung, titik terakhir pertahanan bernama Simon Mignolet kembali menjadi pahlawan dengan tepisan super atas sepakan kuat Christian Benteke.

Hasil 6 poin yang diraih dalam dua laga jelas sangat memuaskan. 6 poin yang baru bisa diraih pada laga ketujuh Liverpool musim lalu. Melihat Liverpool di peringkat kedua laiknya oase.

Namun, dari segi taktik, hal ini jelas belum memuaskan. Skuat yang belum mumpuni, kedalaman tim yang belum mencapai level maksimal, jelas menjadi pekerjaan rumah tersendiri.

Terlepas dari itu, Rodgers mulai mengerti cara terbaik meraih tiga poin. Tidak harus dengan cara yang indah terus menerus. Fans sudah haus akan kebanggaan. Dan sang manajer sudah mengerti path apa yang harus dilalui demi mencapai hal tersebut. Mengorbankan filosofi demi tiga angka.

Bursa transfer yang tinggal seminggu lagi jelas menjadi tekanan tersendiri. Luis Suarez belum aman. Krusial memiliki 1 pemain depan (versatile striker) dan 1 bek tengah mumpuni. Mudah-mudahan Rodgers bisa merealisasikannya. Tak perlu menuruti keinginan fans akan pemain bintang, cukup membeli mereka-mereka yang sekiranya dapat menaikkan intensitas permainan dan terbuang di klub yang diperkuat.

Filosofi bisa dibuat tahap demi tahap. Tapi, bukan berarti kejayaan harus mengikuti filosofi. Jangan ikuti FSG, tapi percayai Brendan Rodgers. Dia mengerti apa yang bisa diraih tim ini dan apa yang mampu membuat tim ini kembali ke tempat sesungguhnya.



Bookmark and Share




Previous Post
[Review] Aston Villa 0 vs Liverpool 1 - Sisi Pragmatis Brendan Rodgers
Next Post
Jumpa Lagi, Moyes !







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
[Review] Aston Villa 0 vs Liverpool 1 - Sisi Pragmatis Brendan Rodgers
Istilah "A Game of 2 Halves" cocok untuk mendeskripsikan pertandingan kedua LFC di musim ini di kandang Aston Villa. Liverpool...