Artikel / Feature / Lain lain / September 15, 2012

Financial Fair Play Dan Masa Depan Sepakbola Eropa

** Artikel ini ditulis dan disumbangkan ke blog ini oleh @vetriciawizach , seorang sahabat kami yang memang mumpuni dalam menulis. Sedikit special, karena tidak melulu membahas tentang Liverpool secara spesifik, namun artikel ini dapat memberi gambaran untuk kita semua, akan ada dimana, dan bagaimana posisi dan kondisi klub kita tercinta Liverpool FC, dengan segala kebijakan pemilik, juga dengan aturan Financial Fair Play yang diterapkan UEFA **

Financial Fair Play

Sekilas konsep ini terdengar indah di telinga dan seakan menjanjikan suatu pembebasan bagi para fans sepakbola yang sudah muak dengan klub yang bersaing secara tidak sehat. Pembebasan dari klub-klub seperti Chelsea, Manchester City, PSG, atau Zenit, yang dengan santainya menggelontorkan uang ratusan juta poundsterling untuk transfer dan gaji pemain.

Didukung kekuatan finansial yang berasal dari ‘oil money’, secara tak sadar klub-klub tersebut telah merusak tatanan sepakbola Eropa dengan kekuatan finansialnya. Terutama dalam masalah inflasi gaji.

Financial Fair Play

image from : sportige.com

Jika dihadapkan pada dua pilihan, klub lain atau Man. City/Chelsea/PSG, para pemain tentu akan berpikir dua kali untuk menolak kenaikan gaji dua kali lipat. Hal ini mengakibatkan klub-klub lain harus menawarkan gaji lebih dari biasa bagi pemain incarannya. Tak berhenti sampai disitu. Pemain-pemain dengan level kemampuan yang sama dengan pemain di klub kaya pun mulai menuntut untuk dibayar dengan ‘rate’ yang sama. Sebagai contoh, misalnya, Luka Modric. Dengan kemampuan teknik setara engan David Silva atau Juan Mata, jangan heran jika agennya Modric akan menuntut pada klub untuk dibayar setingkat dengan kedua pemain tersebut.

Namun, meningkatkan gaji Modric (contoh) pun tidak selalu menjadi solusi. Teman-teman satu tim sesama pemain inti bisa saja cemburu dan juga meminta agar gaji dinaikkan. Akibatnya anggaran untuk gaji pemain meningkat pesat.

Demikian pula dengan harga transfer pemain. Klub-klub yang memiliki pemain bagus berlomba-lomba mendapatkan harga jual yang minimal setara dengan harga yang ditawarkan oleh Man. City atau Chelsea. Apalagi jika sudah menyangkut pemain berkebangsaan Inggris. Dengan adanya aturan minimal 7 pemain homegrown di dalam skuad yang didaftarkan, maka harga pemain berkebangsaan Inggris pun melonjak drastis. Semua klub berebut mendapatkan pemain Inggris paling berbakat, dan mereka bersaing dengan Manchester City dan Chelsea dalam membeli. Maka jangan heran jika pemain sekelas James Milner bisa dibeli dengan bandrol senilai £ 26 juta oleh Man. City.

Untuk mengatasi  ini, Michel Platini dan beberapa petinggi UEFA lainnya lalu menawarkan suatu konsep Financial Fair Play.

Idenya sederhana. Dari musim 2014/2015 dan seterusnya, klub yang masih ingin bermain di kompetisi Eropa hanya bisa mengeluarkan uang sejumlah dengan yang mereka terima. Satu klub harus membayar gaji pemain, transfer, dan pengeluaran lainnya dari uang yang mereka dapatkan sendiri.

Stop spending the money you didn’t earn or you’re getting kicked out!

Menurut Platini, pemilik klub kaya seperti The Glazers dari Manchester United, Roman Abramovich dari Chelsea, Silvio Berlusconi dari AC Milan, hingga Massimo Moratti dari Inter Milan pun meminta adanya regulasi ini. Mereka capek karena terus menerus mensubsidi klubnya.

Regulasi ini juga lahir dari hasil pengamatan 3 eksekutif UEFA yang pergi ke Amerika untuk studi banding pada Februari 2008. Kala itu Andrea Taverso, Gianni Infantino, dan William Gaillard, mengamati bagaimana NFL, NBA, MLS (Major League Soccer), dan beberapa olahraga lain dijalankan di Amerika. Bagaimana aturan-aturan seperti salary-cap (pembatasan jumlah maksimum gaji pemain) dapat membuat klub-klub dapat bersaing secara adil, dan sehat secara finansial.

Tapi untuk menerapkan aturan yang sama di Eropa tidak mudah. Adanya aturan pasar bebas Eropa membatasi UEFA untuk menetapkan adanya salary-cap. Jika pun dipaksakan, maka bisa saja pemain menuntut UEFA ke pengadilan. Karena itu, yang diatur secara ketat hanya bagian pemasukan dan pengeluarannya saja. Bahkan hutang juga tidak dimasukkan dalam komponen perhitungan. Selama klub bisa membayar hutang serta bunganya, serta tidak menderita kerugian, maka UEFA tidak akan melarang keikutsertaan mereka dalam kompetisi Eropa. Menurut salah satu jurnalis terkemuka, Gabriel Marcotti, untuk masalah hutang ini UEFA berharap pengaturannya ada di tangan masing-masing pengelola liga. Contohnya di Inggris. Setiap calon pemilik baru klub harus menjalani fit and proper test dari FA agar klub tidak terbebani oleh hutang pemilik.

Walau dilaksanakan mulai 2014/2015, tidak serta merta klub yang menderita kerugian langsung dikeluarkan dari Eropa. Di tahun pertama FFP, klub masih boleh menderita kerugian (akumulasi dari tahun 2012/2013 dan 2013/2014) sebesar £36 juta. Lalu di tahun kedua FFP, maksimal kerugian berkurang jadi £ 24 juta, dan di tahun selanjutnya pun akan terus berkurang.

Ditendangnya klub dari kompetisi Eropa juga menjadi opsi terakhir bagi UEFA. Bagi klub-klub yang bandel, bisa saja dikenakan penalti berupa pembatasan jumlah skuad di kompetisi Eropa, denda, dan pembatalan uang hadiah.

Lalu bagaimana nasib Liverpool dan klub-klub lainnya di era FFP?

(Sebenarnya Swiss Ramble dengan sangat brilian telah membahas hal ini di blog-nya. Saya coba rangkumkan)

Pemasukan utama klub di bagi ke dalam tiga bagian, yaitu matchday income (pemasukan dari tiket), hak siar televisi, dan aktivitas komersial seperti penjualan merchandise. Saat ini, lima klub teratas di dunia dengan penghasilan tertinggi tiap tahunnya adalah: Real Madrid (€ 433 juta), Barcelona (€ 407 juta), MU (€331 juta), Bayern Munich (€ 290 juta), dan Arsenal € 227 juta). Liverpool berada di peringkat ke-9 dengan € 184 juta, sementara Chelsea di peringkat ke-6 dengan € 226 juta.

Financial Fair Play

Diambil dari swissramble.blogspot.com

Dari tabel di atas terlihat bahwa dari sisi pemasukan komersial (sponsor, penjualan jersey, dan merchandise), Liverpool hanya berada setingkat di bawah MU dan lebih unggul dibandingkan Chelsea dan Arsenal. Hal ini didorong oleh adanya perjanjian sponsorship dengan Standard Chartered dan Warrior, serta besarnya fanbase Liverpool di seluruh penjuru dunia. Namun, Liverpool tertinggal jauh dari Arsenal dalam MU dalam hal pemasukan dari penjualan tiket dan pendapatan hak siar televisi.

Sebenarnya dalam hak siar televisi Premier League, Liverpool mendapatkan jumlah yang hampir sama dengan MU, Chelsea, dan Arsenal karena memang dibagikan secara (hampir) merata. Namun, ketiga klub tersebut pada musim lalu ikut serta dalam Champions League sehingga mendapatkan jatah uang hak siar tambahan. Chelsea yang jadi juara saja bisa mendapatkan €17 juta tambahan dari hak siar Champions League ini.

Saya menduga, hal ini-lah yang mendorong Ian Ayre pada Oktober 2011 lalu mencetuskan ide pembagian hak siar Premier League non-UK (foreign TV rights) yang berbeda untuk masing-masing klub. Menurutnya, klub seperti Liverpool, Arsenal, dan MU, yang memang memiliki fanbase lebih besar di luar Inggris,       seharusnya mendapatkan jatah foreign TV rights yang lebih besar dan tidak dibagi sama rata.

image : mirror.co.uk

Kondisi ini berbeda dengan Spanyol yang mengizinkan masing-masing klub untuk menegosiasikan hak siarnya masing-masing. Karena itu jangan heran jika Barcelona dan Real Madrid bisa mendapatkan €166 juta dari uang hak siar televisi, sementara klub Spanyol lainnya terpaksa mengais-ngais. Bahkan, klub Inggris Wolves saja bisa mendapatkan uang hak siar yang lebih besar dari sebagian besar klub-klub yang berlaga di Liga Spanyol.

Selain uang dari hak siar tadi, Liverpool juga pendapatannya tertinggal dari klub-klub lainnya dalam hal pendapatan dari Champions League. Man. City yang hanya berlaga sampai di babak grup saja bisa mendapatkan uang sejumlah €26.5 juta dari uang partisipasi Champions League. Bandingkan dengan Atletico Madrid yang hanya mendapatkan € 10.5 juta dari hasil memenangkan Europe League.

The verdict: adil atau tidak adil?

Tergantung dilihat dari sudut pandang siapa. Pemilik klub-klub yang memang sudah memiliki pemasukan besar secara teratur, them European giants, tentu akan senang dengan aturan ini. Mereka secara legal dilarang untuk mengeluarkan uang dari kantong pribadi. Tinggal bagaimana caranya meningkatkan pemasukan dari ketiga poin yang telah disebutkan: hak siar tv, perjanjian komersial, dan pendapatan dari tiket. Contohnya MU. Mereka bahkan sudah bisa mendapatkan £40 juta dari perjanjian sponsorship dengan DHL untuk training kit mereka (sekali lagi saya ulangi: untuk TRAINING KIT saja)

Klub-klub dengan pemilik kaya akan dibuat sedikit masygul. Mereka akan mencari-cari celah untuk mentrasfer kekayaan sang pemilik melalui perjanjian komersil.

Contohnya adalah Manchester City dan sponsorshipnya dengan Etihad. Man. City mendapatkan suntikan dana sejumlah £400 juta dari hak penjualan nama stadionnya (menjadi Stadion Etihad) dalam perjanjian yang berlaku selama 10 tahun. Padahal rekor harga hak nama tertinggi sebelumnya hanya sejumlah £187 juta untuk Madison Square Garden. Atau bandingkan dengan Arsenal yang hanya mendapatkan £90 juta dari Emirates untuk perjanjian selama 15 tahun. Aneh bukan?

UEFA, yang dalam aturannya mengatakan bahwa perjanjian komersil klub hanya diizinkan sesuai ‘rate’ pasar, lalu mengadakan penyelidikan perjanjian tersebut. Jika keganjilan-keganjilan seperti ini terus dibiarkan maka pemilik klub MU, Arsenal, dan bahkan Liverpool (John Henry sudah mengomentari dan mempertanyakan perjanjian itu) tentu akan merasa gerah. UEFA juga tentu tak mau kehilangan klub-klub tersebut. Secara finansial, memang lebih menguntungkan untuk UEFA jika mereka mendepak Man. City atau Zenit dari kompetisi eropa dibandingkan jika klub dengan global fanbase seperti Bayern Muenchen atau MU walk out dari Champions League.

Financial Fair Play

image : ©uefa.com 1998-2012. All rights reserved.

Tapi, diperketatnya aturan komersial ini bukan berarti klub-klub kaya tak punya jalan lain dalam era Financial Fair Play. Satu hal lain yang perlu dicatat dari FFP ini adalah, UEFA tidak memperhitungkan biaya infrastruktur (pembangunan stadion, atau pusat latihan) ke dalam perhitungan pengeluaran tahunan. Poin ini lah yang akan dimanfaatkan oleh Sheik Mansour. Ia telah menggelontorkan uang hampir senilai £80 juta untuk membangun 17 pusat pelatihan ekslusif untuk akademi Man. City, dan peremajaan area kumuh tempat akademi akan didirikan. Maka jangan heran jika dalam 5-10 tahun kedepan Man. City dapat menelurkan pemain-pemain paling berbakat di dunia sehingga tak perlu bergantung lagi pada pembelian pemain kelas dunia.

Lalu bagaimana dengan klub-klub medioker atau klub kecil?

Hampir tidak mungkin bagi mereka untuk menyaingi klub besar baik dari sisi pendapatan, dari penjualan tiket, merchandise, atau bahkan hak siar televisi. Sementara itu mereka tetap terkena imbas dari inflasi harga gaji (yang tetap akan tinggi karena klub dengan pemasukan besar tetap mampu membayar). FFP tidak akan membuat klub seperti Wigan, Swansea, atau Newcastle berada di level persaingan yang sama dengan Man. United, Chelsea, atau Man. City. Prediksi saya, akan ada gap finansial yang sangat lebar antara beberapa kelompok klub (elit, medioker, dan klub kecil) dan sulit untuk satu klub melompat dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Tapi, harus diakui semenjak 10 tahun lalu memang kondisinya sudah seperti ini. FFP hanya ‘melegalkan’ status quo klub-klub elit ini saja. And face it, Liverpool suporter…you don’t really care about Swansea/West Ham/Newcastle ability to compete, do you?

Lalu bagaimana dengan fans?

Siap-siaplah mengeluarkan uang lebih banyak. Tak boleh ada ‘subsidi’ dari pemilik berarti klub harus memaksimalkan pendapatan mereka. Bersiaplah dengan klub yang akan mengeluarkan jersey, jaket, dan merchandise baru setiap tahunnya. Bersiaplah suatu saat liga-liga Eropa akan hilang dari TV lokal karena harga hak siar yang mahal. Bagi para penduduk lokal Liverpool nun jauh disana, bersiaplah dengan harga tiket masuk stadion yang semakin tinggi.

image : sportige.com

Selamat tinggal suporter kelas pekerja, selamat tinggal kompetisi yang seimbang, selamat datang Financial Fair Play.

 

*** Bagi yang mau baca-baca tentang Financial Fair Play, juga penjabaran lebih detil, kami share juga beberapa artikel referensi di bawah ini ***

UEFA Statement On Financial Fair Play

UEFA Club Licensing And Financial Fair Play Regulations (pdf)

 UEFA Financial Fair Play Regulations : Opinion and Deep Analysis on Swiss Ramble


Tags:  Ayre Eropa Fair Financial Financial Fair Play LFC liverpool Platini Play Sepakbola Eropa

Bookmark and Share




Previous Post
Bursa Transfer, Net Spend Dan Kedalaman Skuad
Next Post
Hillsborough - 23 Tahun Penantian







1 Comment

Sep 15, 2012

A “worth to read” article!!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Bursa Transfer, Net Spend Dan Kedalaman Skuad
*** Artikel ini dikirim oleh Yanuar Ryswanto, kritik, diskusi, selain bisa di posting di sini, juga bisa lewat twitter penulis...