Berita & Rumor / September 3, 2012

FSG dan Brendan Rodgers. Harga Sebuah Filosofi.

“Di dalam sepakbola ada trinitas suci; Pemain, Manager dan Supporter. Para direktur tidak masuk hitungan, peran mereka hanyalah menandatangani cek” Bill Shankly

Kutipan legendaris dari almarhum Bill Shankly yang baru berulang tahun kemarin memang sungguh inspiratif namun kenyataannya adalah sesuatu yang sulit diterapkan terutama di sepakbola modern. Di era ekonomi yang sedang penuh tantangan ini wajar bila ketika melakukan sebuah investasi, sang investor merasa perlu memastikan investasinya tidak akan merugi. Memang, seandainya kutipan itu bisa diterapkan sepakbola mungkin akan bisa lebih sederhana, atau tepatnya peran kita sebagai supporter bisa menjadi lebih sederhana, pemain main, pelatih melatih, supporter? ya mendukung. Tidak perlu kita mengurusi net spend, anggaran gaji, infrakstruktur yang dibutuhkan untuk membangun stadium di sebuah wilayah pemukiman, etc. etc. Tapi kenyataannya sekarang hampir di setiap jendela transfer sejak era suram Gillett dan Hicks dan berurusan dengan Royal Bank of Scotland dll. kita mesti dihadapkan pada kenyataan bahwa sisi finansial selalu muncul ke permukaan untuk menjelaskan kenapa pemain A, B atau C tidak jadi merapat ke LFC.

Saya rasa mayoritas pendukung LFC tidaklah menginginkan seorang Sugar Daddy ala Abramovich atau Sheikh Mansour. Dengan latar belakang kota working-class dan paham sosialisme yang dianut Bill Shankly, mayoritas mengangguk setuju ketika John Henry mengatakan bahwa FSG akan memastikan bahwa Liverpool menjadi sebuah klub yang sustainable, yang tidak akan mengeluarkan lebih dari yang dia mampu dan mengacu kepada Financial Fair Play rules yang akan diterapkan oleh UEFA. Namun tentu, pasca era traumatis di tangan Gillett dan Hicks, wajar jika supporter akan melihat kinerja Owner baru dengan lebih awas. Once bitten, twice shy. Ketika memecat Kenny, seorang legenda hidup Liverpool yang mereka datangkan untuk membereskan kekacauan era Roy Hodgson dan menggantinya dengan Brendan Rodgers, seorang young and upcoming manager, mereka mengedepankan sebuah ide filosofi baru. Year Zero. Membangun LFC lagi dari pondasi dasar filosofi bermain dan ditangani manager muda yang mempunyai determinasi kuat untuk menjalani sebuah filosofi, possession football, tiki taka, sepakbola kolektif atau apapun itu sebutannya maka sebagian fans yang merasa kecewa legendanya tidak diberi kesempatan memperbaiki sebuah musim yang buruk pun mengangguk dan mengawasi dengan antisipasi sekaligus juga excitement. Liverpool adalah klub dengan sejarah filosofi sepakbola yang kental. Let’s see where this will take us. Begitulah kira kira sentimen dasar mayoritas pendukung. Ditambah lagi, FSG menjanjikan sebuah struktur baru. Dimana tanggung jawab seorang manager akan terbagi, sehingga dia bisa lebih fokus kepada tugas utamanya. “Sebuah grup yang saling mendukung dan yang memiliki tujuan yang sama” demikian penjelasan Ian Ayre sang managing director. Sounds great! Or is it?

Idealnya, ketika membuat keputusan yang begitu ekstrim, merombak total sebuah institusi dan mendatangkan individu pilihan anda sendiri, yang diharapkan adalah dukungan sepenuhnya terhadap individu tersebut. Anda mendatangkan seorang pelatih muda tanpa pengalaman memanage tim besar (dengan segala respek ke Swansea, Reading, dll) untuk menggantikan seorang legenda ke tim dengan ekspektasi sebesar Liverpool. Least you can do is support him. Itu lah yang membuat saya pribadi begitu kecewa ketika transfer window berakhir dengan saga Clint Dempsey yang mau tidak mau mengingatkan kita pada situasi Rick Parry-Rafa-Owner beberapa musim silam. Kita tidak membicarakan transfer puluhan juta. Direktur komunikasi Fulham menyebutkan bahwa tawaran terakhir Liverpool adalah £3m, £3m di bawah tawaran Spurs. Apakah £3m harga yang terlalu mahal untuk mendukung individu yang kau pilih sendiri untuk membangun pondasi timnya, terutama ketika sehari sebelumnya Brendan Rodgers dengan gamblang mengatakan “Kita jelas membutuhkan paling tidak seorang penyerang lagi”. Merujuk kembali ke self-sustainable LFC? Apakah keuangan kita sedemikian kakunya sehingga kita tidak akan mampu “berimprovisasi” dengan uang sejumlah £3m. Mengacu kepada Moneyball melihat usia Dempsey dan resale valuenya? Damien Comolli adalah penganut moneyball dan lihatlah kemana dia sudah membawa kita. Clint Dempsey berusia sama dengan Van Persie. Adalah bohong jika penulis mengaku yakin Dempsey akan memiliki efek yang sama seperti Persie di United. Tapi sekarang kita tidak akan pernah tahu, dan berharap dia tidak akan seefektif itu di Spurs, saingan kita merebut 4 besar. Ini semua tidak cocok dengan kata-kata Tom Werner di juni silam. “Kita mempunyai sumber daya untuk bersaing dengan tim manapun dalam sepakbola. Kita tidak perlu menjual pemain untuk membeli pemain baru“. Faktanya Rodgers sendiri kemarin mengaku, “Kita melepas 9 pemain dan hanya mendatangkan 3, dari sisi bisnis, Liverpool telah bekerja dengan baik”. Sekali lagi, dari sisi bisnis, dan supporter pun kembali harus berhadapan dengan sisi finansial klub. Kalau memang dari awal tujuannya adalah balancing the book, menstabilkan keuangan, kutipan Tom Werner itu tidak perlu disebutkan karena akan menjadi sebuah kebohongan yang mengundang reaksi. Kalau dari awal dikatakan kita akan mengandalkan Adam Morgan, Yesil dan anak muda lain, bilang saja begitu. Tidak akan ada supporter yang merasa terlalu kecewa.

Penjelasan lain untuk saga ini adalah miskalkulasi dan gagalnya kinerja Ian Ayre sebagai managing director dalam melakukan negosiasi. Lalu dimana struktur baru yang gunanya mendukung Rodgers dan membiarkan dia fokus pada tugasnya. Buyar karena Rodgers menolak bekerja di bawah DoF? Lalu buyar juga dong justifikasi memecat Kenny Dalglish. Atau memang struktur barunya adalah kita memiliki seorang businessman, tanpa pengetahuan/pengalaman di dunia sepakbola, sebagai Direktur yang bertanggung jawab atas rekrutmen pemain demi memastikan kita tetap sustainable. Apa bedanya dengan jaman Rick Parry? Ian Ayre telah melakukan pekerjaan hebat di bidang marketing. Ya, tidak disangkal. Tapi apa gunanya rekor kerjasama jersey dengan Warrior jika £3m saja untuk pilihan utama manager tidak di kasih? Patut dipertanyakan, apakah seseorang businessman dapat dipercayakan mengambil keputusan sepakbola yang penting seperti menambah ekstra £3m untuk memastikan pemain incaran utama tidak dibajak tim rival? Jika tidak, maka tugas FSG lah mengambil tindakan tegas. Setegas mereka ketika memecat Kenny Dalglish setelah 1.5 tahun, setegas mereka ketika mengatakan bahwa Brendan Rodgers adalah satu-satunya target yang mereka perhitungkan. Bukan Rafa, bukan Martinez, bukan Van Gaal tapi Brendan Rodgers.

Dua setengah tahun sudah FSG menjadi pemilik di LFC. Memang bukan waktu yang lama, tapi juga tidak sedikit. Mereka memang mengaku mereka telah masuk ke sebuah dunia yang sama sekali baru buat mereka. Tidak disangkal semua yang telah terjadi menjadi ujian yang hebat juga bagi mereka. Tapi waktu tidak menunggu siapapun. Kesabaran supporter memang telah terbukti, tapi jika tidak ingin investasi mereka semakin terpuruk karena keputusan-keputusan yang berpotensi besar seperti masuk ke awal musim yang berat tanpa cadangan striker senior maka mereka harus lebih cepat dalam belajar. Tim sekelas Liverpool tidak pantas membuat banyak miskomunikasi dan miskalkulasi dalam board room. Jika mereka memang ingin belajar tentunya. Dimulai dengan keterbukaan, pada manager juga pada supporter. Tidak usah terlalu banyak mengumbar janji. Supporter sudah melalui terlalu banyak hal untuk jatuh pada perangkap janji-janji. Siapa sih saya sok-sokan ngajarin yang punya Liverpool. Iya, memang cuma seorang supporter. supporter yang maunya bisa sekedar mendukung, melihat pemain main, pelatih melatih dan owner?…yah maunya owner melakukan yang terbaik buat Liverpool, bukan sekedar untuk keseimbangan debit kredit di pembukuan banknya.

(mn)



Bookmark and Share




Previous Post
LFC vs Man. City. Membangun kembali benteng Anfield
Next Post
Bursa Transfer, Net Spend Dan Kedalaman Skuad







2 Comments

Sep 03, 2012

wah bacaan diatas sangat menarik. ntah karena kata-katanya yang mendalam atau memang situasi LFC saat ini memang seperti itu. memang kita suporter tidak berhak dalam hal transfer pemain ataupun dalam keuangan tim. tetapi kita adalah suporter yang sewajarnya patut mengeluarkan pendapat tentang kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pihak owner.


Sep 06, 2012

yup …. tapi kabar terkini, bahwa ternyata seretnya keuangan kita itu karena uang di pakai untuk gaji pemain2 red sox boston di MLB ….

susah juga ya …. emang ndukung LFC harus siap mental untuk jadi stress hehehehe



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
LFC vs Man. City. Membangun kembali benteng Anfield
Salah satu yang paling mengecewakan dari musim lalu adalah performa LFC di Anfield. Bukan saja dari segi hasil, tapi dari...