Artikel / Feature / Pertandingan / August 23, 2011

Gameweek 2 : Penantian 11 Tahun

Gambar tersebut adalah moment 13 Februari 2000, menit 18 di Highbury. Lebih dari 11 tahun lalu. Titi Camara adalah pemain Liverpool terakhir yang membawa LFC menang atas Arsenal di kandangnya sendiri.

Tidak heran jika Liverpool, terlebih kita sebagai supporter, segera bisa mengulangi kemenangan di kandang Arsenal. Suatu pengharapan yang sangat wajar, apalagi melihat calon lawan boleh dikatakan sedang “kacau” dengan sederet peristiwa tidak mengenakkan, seperti baru hengkangnya sang kapten, gossip akan berpindahnya salah satu pemain kreatif mereka (Nasri), rentetan cedera dan larangan bermain beberapa pemain kunci lainnya.

Namun, datang ke Emirates, apapun kondisinya memang bukan hal mudah untuk sekedar berharap menang. Sekalipun mudah kita prediksi bahwa lawan akan menurunkan pemain yang tersisa, yang notabene adalah pemain-pemain non “regular starter” , tetap saja akan sulit. Lalu apa yang kita dapat? Yaaa, akhirnya penantian 11 tahun tersebut terwujud. Kita dapat mengalahkan Arsenal di kandangnya, 2-0 !

Setelah ini saya tidak akan berbicara mengenai statistik, saya tidak cukup telaten mengumpulkan data statistik pemain dengan detil. Saya hanya akan sedikit membahas beberapa hal yang menurut saya adalah “key moment” dalam pertandingan tersebut

Starting XI

Mengejutkan buat saya begitu melihat deretan nama yang akan diturunkan dalam pertandingan tesebut beberapa saat sebelum kick off. Jujur, sebenarnya saya berharap Suarez yang akan turun mengawal lini depan kita. Meski selebihnya sudah sesuai dugaan. Lalu kenapa saya berpikiran Suarez akan turun, entah berduet dengan Carrol atau sendirian di depan ? Saya pikir kemampuan Suarez membuka ruang, ditambah liatnya dia saat menguasai bola, akan cukup membantu membongkar ruang, yang bisa dimanfaatkan oleh Downing, Adam, Kuyt atau Hendo. Tapi ternyata Carroll yang dimainkan sebagai striker tunggal.

Andy Carroll

Bukan salah Carroll saya pikir jika setiap kali dia bermain, distribusi bola kita jadi lebih didominasi bola atas. Efektif ? Menurut saya kurang. Meski memang tercatat ada peluang emas nya yang dimentahkan oleh kiper Arsenal, Szs…Scz …ahhh Szczesny (susah saya mengingat ejaan yang pas buat pemain ini 🙂 )

Sejak pertandingan pre-season, saya mengamati bahwa kehadiran Carroll seperti menjadi magnet tersendiri bagi pemain kita yang lain, untuk sesering mungkin mengirimkan bola lambung kepadanya. Filosofi pass and move yang diusung Dalglish, jadi seperti tidak terejawantahkan secara benar dengan kondisi ini

Sebenarnya Carroll, tidak hanya handal bola atas. Jikapun harus bermain bola bawah, kemampuan Carroll cukup mumpuni. Cukup komplitnya kemampuan Carroll sebagai striker inilah yang mendasari pembeliannya. Nah, tapi saya pribadi kok sedikit khawatir, jika ternyata keputusan menurunkannya bukan karena taktik, melainkan upaya membuktikan bandrol harganya yang sangat mahal menurut saya. Tapi semoga tidak, ini coba saya tanamkan dengan mengingat bagaimana Rafa dulu memberi kepercayaan, dan bersabar atas Crouch, sampai dengan dirinya “klik” dengan pola permainan tim, hingga akhirnya secara beruntun mencetak gol. Tapi kan ….. Crouch harganya tidak semahal Carroll, ah tapi sudahlah mari kita sama sama berharap dan menunggu panen dari 35 juta Poundsterling kita itu 🙂

Jordan Henderson

Menurut saya, pemain ini digadang-gadang akan “menggantikan” kapten kita, dengan kemampuan nya sebagai pemain box-to-box. Namun di pertandingan kemarin, meskipun memang tampil cukup efektif dengan bola bola simpel nya, akan tetapi menurut saya pergerakannya jadi seperti tanggung. Hendo jelas bukan pemain sayap, juga tidak optimal jika bermain di belakang striker. Saya sendiri belum tau pasti, akan diplot dimanakah Hendo, agar kemampuannya bisa maksimal. Karena kemarin itu, seperti ada redundant antara Hendo dan Adam.

Charlie Adam

Seperti saya katakan sebelumnya bahwa, kehadirannya seperti menjadikan adanya redundant peran antara dirinya dan Hendo. Tapi, coba jika anda menyimpan atau sempat menonton tayang ulangnya, amatilah di 15 menit terakhir, Adam bermain sedikit lebih ke dalam, sejajar dengan Lucas. Kondisi ini efektif karena peran lebih mobile di belakang striker, dilakoni dengan baik oleh Meireles, begitu dia masuk. Disamping itu, keseimbangan lini tengah sangat terjaga, karena Lucas jadi sedikit ringan pekerjaannya. Tidak seperti sebelumnya, harus menutup ruang yang ditinggalkan Adam

Jose Enrique

Bek kiri baru kita ini memang dalam 2 pertandingan awal bermain sangat apik. Tidak heran jika dalam pertandingan kemarin dia terpilih sebagai Man Of The Match. Enrique sudah sangat “dewasa” dalam permainannya, tau kapan harus naik membantu serangan, kapan harus disiplin menjaga area nya. Saya pribadi sudah cukup senang melihat Enrique sudah lebih sering terlihat melakukan overlapping di sisi kiri kita. Momen apa yang anda ingat dari permainan Enrique kemarin, selain 2 kali memberikan back pass berbahaya ke Pepe Reina? Buat saya, pergerakannya melewati beberapa pemain Arsenal itu, masih teringat sampai sekarang 🙂

Martin Kelly

Anak muda hasil didikan akademi ini semakin memukau penampilannya, Arshavin yang selama ini jadi momok tiap kali kita bertemu Arsenal, dibuat tak berkutik. Kelly yang pada dasarnya seorang bek tengah, berkembang pesat sebagai bek kanan.  Saya jadi kepikiran, pos bek kanan biarlah jadi milik Kelly. Lalu akan dikemanakan Glen Johnson? Jadikan sayap kanan! 🙂

Game Play

Babak pertama, meskipun sempat menghasilkan beberapa peluang, tapi menurut saya sedikit monoton karena seperti “memvorsir” Carroll sebagai target man, hingga akhirnya Vermaelen mendapatkan rating 9 di salah satu media, karena keberhasilannya mematikan Carroll. Sementara lini kedua kita sering telat masuk mengisi ruang yang berhasil dibuka oleh Carroll. Begitu Carroll digantikan Suarez, pass and move ala King Kenny seperti terejawantahkan dengan sempurna. Hingga akhirnya berbuah 2 gol kemenangan kita. Ini sebenarnya sudah disiratkan oleh Lucas di salah satu wawancaranya sebelum pertandingan. Bahwasanya untuk mengalahkan Arsenal, harus menguasai lini tengah, bukan sebaliknya “melupakan lini tengah” dengan hambur bola bola atas.

Midfield kita, Downing, Hendo, Adam, Lucas, Kuyt juga Meireles (setelah masuk) adalah pemain-pemain yang mumpuni memainkan bola, nyaman mengolah bola, jadi mustinya bola bola bawah dan filosofi pass and move bisa teraplikasi dengan baik. Bahkan Carroll pun akan bisa mengimbanginya.

Emmanuel Frimpong

Hahaha, bintang pertandingan kemarin buat saya 🙂 Tidak, saya tidak akan membahas pemain ini, meskipun memang keberadaannya di lapangan, sangat mengganggu aliran bola lini tengah kita, juga mengganggu mata kita dengan polah tingkahnya 🙂  Hanya saya sedikit tergelitik ketika di suatu media supporter LFC, ada yang mempertanyakan Apakah kita bisa menang, seandainya dia tidak mendapatkan kartu kuning ke-2 (yang semestinya layak diganjar langsung kartu merah, atas tekel berbahayanya ke Lucas), yang mengakibatkan dia diusir Pak Atkinson. Kalau menurut saya, ini kok seperti mempertanyakan, bagaimana seandainya Liverpool tidak dibeli (dengan hutang) oleh Gillet dan Hicks ketika itu 🙂

Rasanya sudah cukup panjang lebar saya, dalam mengungkapkan pemikiran saya atas pertandingan kemarin. Sampai detik ini saya masihbersuka ria menikmati kemenangan di kandang Arsenal yang sudah kita tunggu 11 tahun, saya juga gembira tidak ada pemain yang cedera, dan terakhir banget, saya suka sekali gambar ini ….. (L4)

 



Bookmark and Share




Previous Post
Away Day Pertama: Emirates
Next Post
Kyrgiakos meninggalkan Liverpool.







1 Comment

Aug 23, 2011

thanks bro, artikel ini keren…..makasih buat konstributor2 yg setia sharing all about our lfc…. you’ll never walk alone, and we will be the champion….



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Away Day Pertama: Emirates
Selain harus bermain tandang, hampir semua hal memihak Liverpool untuk mendapatkan 3 poin di Emirates sekaligus mengakhiri...