Artikel / Pertandingan / December 28, 2012

Hanya Kado Kecil Dari Santa

Hanya Kado Kecil Dari Santa untuk Luis

Rugby team, physical team, group of thugs, long ball merchants, atau apalah istilah yang disematkan untuk Stoke City nampaknya tidak diambil pusing oleh mereka. Ya karena dengan gaya seperti itulah mereka bisa bertahan hingga musim ke-5 di Premier League yang konon, beriklim keras. Jadilah mereka juga harus tampil keras.

Dan merekalah yang harus dihadapi Liverpool di Boxing Day.

Ketika kemenangan pada Boxing Day, seolah menjadi kado Natal yang paling afdol bagi supporter klub sepakbola di Britania Raya, maka akan nampak berbeda yang ada di benak seluruh pendukung Liverpool FC.

Meskipun berangkat ke Britannia dengan bermodal spirit setelah berhasil menjungkalkan Fulham dengan 4 gol tanpa balas, tiga hari sebelumnya akan tetapi yang harus dihadapi adalah tim dengan catatan rekor kandang yang sangat impresif. Belum pernah kalah, dan hanya kebobolan 3 gol. Jelas merupakan pekerjaan berat untuk Liverpool yang musim ini sama kesulitannya mencetak gol atau menjaga gawangnya dari kemasukan gol. Belum lagi ketika ada asa untuk memperpendek jarak yang hanya 5 poin menuju posisi 4, gerbang menuju gengsi sepakbola Eropa sekaligus sumur uang. Beban.

Catatan belum pernah menaklukan Stoke di kandangnya sendiri sejak 2008, musim dimana Liverpool hampir menjadi kampiun liga Inggris, adalah hal yang makin menambah keyakinan supporter Liverpool seantero dunia. Untuk tidak bisa menikmati kado Natal berupa kemenangan di Boxing Day.

Ahh, salah nampaknya. Baru sekitar 1 menit sejak Howard Webb memberikan komando agar pertandingan dimulai lewat nyaring bunyi peluitnya, Ryan Shawcross sudah ingin bertukar kaos dengan Suarez. Kaos Suarez sudah ditarik sejak Suarez memasuki area kerja Shawcross melalui sisi kanan, hingga jatuh tersungkur.

Penalty.

“We’re going to have a party, when Suarez gets a penalty” demikian berkumandang dari sekian ribu supporter Liverpool yang ada di Britannia sore itu. Kesampaian.

Tapi … ini adalah pesta yang sangat singkat.

Karena 3 menit sejak Kapten Yang Musim Ini Tidak Terlalu Fantastik menceploskan bola sepakannya dari titik putih mengelabuhi Begovic, Stoke City membalas dengan mudah. Tidak hanya cukup sampai di situ, 7 menit setelah balasan itu, Stoke berulah seperti The Grinch yang ingin mengacaukan acara Natal di Who-ville. Stoke berbalik unggul.

Selanjutnya Liverpool yang masih belajar mengamalkan filosofi sepakbola ala Rodgers, kembali diingatkan pada satu hal esensial dalam filosofi itu. Pressing. Stoke dengan pemain-pemain kekarnya memaksa hampir semua pemain Liverpool untuk belajar lagi bagaimana pressing dan memenangkan bola. Akibatnya ? Tiki-taka, death by football, pass and move atau apalah gaya bermain Liverpool ala Rodgers ini, jadi tidak bernyawa. Ya, karena nyawa dari gaya bermain ini, yaitu lini tengah porak poranda akibat pressing dari Stoke.

Upaya Liverpool untuk bisa melanjutkan pesta, nampak sia-sia ketika lini tengah tak bisa bekerja. Sibuk menghindari pressing sekaligus gempuran lawan. Kondisi ini menyisakan sedikit celah untuk mengirim umpan mematikan, dan celah yang sedikit itu sering ga bisa dimanfaatkan oleh seorang bocah 18 tahun yang diharapkan dengan kecerdikannya mampu mengirim umpan kejut mematikan ke petarung hebat lini depan Liverpool, yang belakangan diketahui dipaksakan bermain dalam cedera (ringan) ankle. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya pilihan kawan yang siap menerima umpan di area pertahanan lawan. Hanya bocah plontos yang bergerak mencari posisi tapi seringkali tak dilirik. Pergerakan Kaptain Yang Dulu Fantastik dari lini ke-2 untuk bantu menyerang atau mengirim umpan mematikan sangat terkebiri akibat pressing pemain Stoke.

Pressing Stoke sejak lini tengah (Stoke warna biru)

Entah mungkin masih kepikiran Brendan Rodgers yang ngamuk-ngamuk di ruang ganti, pemain Liverpol seperti makin digampar di muka oleh gol ke-3 Stoke yang dicetak melalui proses kelimpungannya jagoan lini belakang Liverpool yang penuh tattoo. Alih-alih mengejar ketertinggalan, Liverpool malah makin jauh ditinggalkan Stoke, dengan 3 gol, juga ditinggalkan di klasemen.

Pergantian pemain yang dilakukan oleh Rodgers pun dianggap oleh banyak orang sebagai suatu kesalahan, karena tidak membawa improvement pada pola permainan, apalagi hasil akhir pertandingan.

Statistik Lengkap (Stoke - kiri , Liverpool - kanan)

62% penguasaan bola, 532 passing dengan akurasi 84% ,  110 lebih passing di daerah area lawan, 1/3 nya ke Suarez, pemain menyerang terbaik yang kita miliki yang tidak terlalu baik kondisi kaki nya dan 17 percobaan tembakan ke gawang menjadi sangat tidak berarti apa-apa. Ketika ternyata malah lawan bisa memanfaatkan inferior nya statistik possession – pass accuracy – shots on goal mereka, untuk menghukum Liverpool yang sibuk mencari peluang dengan lebih banyak memindahkan bola.

Kata apa yang dapat mewakili tim yang lebih sedikit menguasai bola, tapi bisa memaksa lawannya untuk lebih banyak membuat clearances (LFC 39, Stoke 18) .  Efektif. Dan itu adalah Stoke City.

Sementara dari sekian banyak ball possession dan passing yang dilakukan Liverpool di area pertahanan lawan, minim sekali yang terkonversi jadi peluang. Iya, sekedar terkonversi menjadi peluang pun gagal. Ketat.

Statistik yang identik dengan saat dihajar Aston Villa. Semua statistik unggul, tapi dihukum dengan 3 gol. Dan … kerepotan lini pertahanan (termasuk lini tengah) dalam menghalau gerak striker bertipe sama, besar, kuat, trengginas. Aston Villa dengan Benteke, dan Stoke dengan Kwyne Jones. Lihat saja, keduanya menjadi Man Of The Match atas peran mereka memporak porandakan pertahanan Liverpool.

Kekalahan pada gameweek 19 penanda sudah setengah musim Rodgers menukangi Liverpool, dengan raihan poin 25 dari 19 pertandingan. Kurang lebih sama dengan raihan musim 10/11 di bawah asuhan Hodgson.  Dengan alasan under-achieved, saat itu Hodgson dipecat oleh FSG sebagai pemilik baru. Dan atas pengalaman tersebut, sudah terdeteksi ada supporter yang udah menginginkan Rodgers dicopot. Sudah seharusnya kah ?Ahh, nanti saja kita bicara itu.

Masih ada 19 pertandingan lagi untuk kita menaruh harap, semuanya menjadi lebih baik. Semua komponen klub bertanggung jawab pada upaya perbaikan dan mendukung proses pembaharuan yang sedang berlangsung. Owner harus mendukung kebutuhan Rodgers akan pemain, utamanya pemain depan. Rodgers harus lebih pragmatis dalam menerapkan taktik, para pemain harus bisa beradaptasi dengan pola permainan baru, dan kita, supporter juga memberikan waktu.

Tak ada kado Natal besar di Boxing Day kali ini, hanya sebuah kado kecil dari Santa yang dititipkan melalui Howard Webb, – Suarez memenangkan penalty.

Dan Stoke City FC, tetap tidak peduli disebut sebagai tim rugby.

 

 



Bookmark and Share




Previous Post
S Di Akhir Pekan
Next Post
Daniel Andre Sturridge







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
S Di Akhir Pekan
Bukan, saya bukan mau bicara tentang es (salju) di Inggris sana, yang memang sudah diperintahkan turun setiap bulan Desember,...