Artikel / February 14, 2013

Hanya Satu: Jamie Carragher

Di antara riuhnya chants dari para suporter di Anfield, satu suara lantang dari lini belakang menembus telinga para pemain Liverpool.

Suara lantang yang kental dengan logat scouse itu, milik Jamie Carragher.

 photo carra.jpg

Dari lini belakang, Carra mengatur barisan, selalu mengantisipasi bahaya yang datang −membaca jalannya pertandingan dan mengingatkan rekan-rekannya untuk selalu waspada. Hal ini diamini Alvaro Arbeloa, yang pernah bersitegang dengan Carra di pertandingan melawan West Brom (2009). Arbeloa mengatakan bahwa “Carra adalah boss sebenarnya di ruang ganti. Cepat naik darah, selalu mengatur rekannya, dan selalu berteriak”.

Mengawali karirnya di musim 96/97, sebagai seorang gelandang, Carra lalu ditempatkan di lapangan sebagai seorang full-back. Baik di sisi kanan, maupun di kiri. Saat itu, dia mengerjakan tugasnya dengan baik, tapi tidak istimewa. Hal ini berubah dengan kedatangan Rafa Benitez, yang kemudian menempatkan Carragher di posisi bek tengah. Di posisi inilah, Carragher mulai bersinar. Bersama Sami Hyypiä, mereka menjadi salah satu pasangan bek terbaik di Eropa.

Banyak bek tengah yang lebih cepat, lebih tangguh di udara, atau lebih kuat dari Carragher. Tapi hanya sedikit yang mampu menandinginya dalam mengantisipasi permainan lawan, dan mengagalkan serangan mereka.

Kuncinya ada pada cintanya pada sepakbola dan komitmen Carragher pada Liverpool. kKomitmen itu selalu diasah dengan kemauannya untuk selalu belajar. Rafa Benitez berkata “Bagi saya, Jamie adalah salah satu bek terbaik di Eropa. Dia selalu fokus pada permainan. Selalu berusaha untuk belajar. Itu adalah kunci bagi saya karena setiap musim dia menjadi (sedikit) lebih baik. Jamie selalu mendengarkan dan itu adalah salah satu dari alasan dia bisa terus berkembang. Di setiap sesi latihan selalu sama, selalu bekerja keras, selalu berusaha untuk belajar.  Jamie mengingatkan saya pada anjing pemburu. Ketika saya ingin sesuatu yang spesifik untuk dilakukan dalam pertahanan, dia sangat bersedia untuk belajar. Sebagai bek dia adalah seseorang yang Anda tidak inginkan sebagai lawan, atau menjaga anda”.

Carra adalah cerminan Liverpool, baik bagi klub maupun kota. Sebagai kota, Liverpool tidak pernah kenal kata menyerah dalam hal menuntut keadilan atas tragedi Hillsborough selama lebih dari dua dekade. Di final Liga Champion 2005, Istanbul, di penghujung pertandingan wajahnya berkernyit dengan rasa sakit, tubuhnya yang mulai menyerah dipaksanya untuk terus bermain.  Hasilnya? Liverpool meraih juara liga Champion untuk kelima kalinya, di partai final yang banyak dikenal sebagai salah satu final paling menegangkan sepanjang sejarah.

723 kali tampil sampai saat ini, hanya trofi Premier League yang belum sempat dimilikinya. Tapi itu tidak akan menodai fakta bahwa Carragher adalah salah satu permain terbaik yang pernah bermain untuk Liverpool.

Banyak terjadi, seorang pemain menjadi headline dengan berbagai alasan yang salah. Skandal, atau permintaan gaji yang tidak masuk akal. Menuntut tempat di tim, walaupun penampilannya tidak memuaskan. Atau bahkan pindah klub hanya karena tergiur dengan gaji yang lebih tinggi. Hal ini tidak terjadi pada Carragher.

Saat ditanyakan apakah dia kecewa terus-menerus dicadangkan, dia menjawab bahwa saat ini, adalah gilirannya untuk menghargai rekannya dengan duduk di bangku cadangan – hal yang sama yang sudah dilakukan oleh mereka yang sebelumnya dicadangkan waktu Carra mendapatkan tempat utama. Dia sudah punya waktunya sendiri. Bahkan ketika pendukung mulai mengkritik penampilannya yang di bawah standar. Dia mendengarkan, bekerja keras di Melwood, lalu kembali ke lapangan dengan penampilan yang membaik.

Lalu jika Anda tanyakan ke Carra, apakah dia menginginkan nomornya, 23, dipensiunkan sebagai penghormatan? Saya yakin dia akan menjawab “tidak”. Ini adalah testamen akan karakter Carra. Untuk menempatkan klub di atas ketenaran pribadi.  Bahwa dia, seperti pemain lainnya, sebesar apapun kontribusinya− tidak akan lebih besar dari Liverpool.

Dengan pensiunnya Carragher, musim depan tidak akan sama lagi. Di lini belakang Liverpool, akan ada satu suara lantang yang mendadak senyap. Tapi jangan salah, perjalanan Carragher tidak akan berakhir di sini. Di dalam kepalanya akan selalu riuh dengan sepakbola, dan dengan caranya sendiri−dia akan kembali dan membantu mendorong Liverpool untuk kembali ke puncak.

Terima kasih Carra, You’ll Never Walk Alone!

 



Bookmark and Share




Previous Post
Perkenalkan, Soel a.k.a @Soeljeckle. #PrayForSoel
Next Post
Terapi itu Bernama Liverpool FC







1 Comment

Feb 23, 2013

[…] February 14, 2013   yanipatrik   No comments […]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Perkenalkan, Soel a.k.a @Soeljeckle. #PrayForSoel
Surat ini titipan dari rekan2 di Bandung untuk menggugah @LFC demi membantu rekan kita @Soeljeckle yang sedang berjuang melawan...