Artikel / Feature / Lain lain / June 3, 2014

Home Is Where The Heart Is

” Well time flies and the years go by, but memories never fade
I’ve been gone much too long, gotta get back there someday

But my travelin’ days ain’t over yet
And no matter how far away
There’s one thing I can’t forget “

Firehouse – Home Is Where The Heart Is

Lagu tersebut rasanya cocok untuk rekrutan paling gres LFC, Rickie Lambert. Tujuh belas tahun sejak dilepas oleh Liverpool Academy, Lambert akhirnya kembali ke tempat asalnya, Liverpool Football Club.

Selama 17 tahun tersebut berbagai kisah hidup dia jalani. Kisah hidup yang dalam perjalanannya, menempa mentalitas seorang Lambert. Kisah hidup yang menggambarkan bahwa untuk mewujudkan mimpi, manusia harus terus berharap dan bekerja keras. Dari mulai dianggap tidak berpotensi oleh klub yang dia cintai sejak kecil, bermain hanya 3 kali dalam 2 tahun kontrak bersama Blackpool, bekerja sebagai buruh pabrik agar bisa dekat lokasi ke Macclesfield dan berlatih bersama mereka, hingga sekarang masuk dalama squad Inggris untuk Piala Dunia.

From a bloke who worked with jars to being a star Bersama Southampton, Rickie perlahan menjadi bintang. Dia menjadi salah satu sosok kunci dalam proses bangkitnya Soton dari League One hingga ke Premier League. Bergabung ke St Marry Stadium sejak musim 09/10, Lambert tampil 229 kali, menyumbangkan 115 gol dan 68 assist. Sebuah prestasi tersendiri untuk sosok pemain yang benar-benar memulai karir dari nol. Bahkan sempat merasa terbuang.

Hingga akhirnya, Brendan Rodgers menghendaki Rickie untuk pulang kampung. Banyak yang tercengang apa yang menjadi landasan pemikiran Rodgers merekrutnya. Tak sedikit supporter LFC yang mempertanyakan, kontribusi macam apa yang akan diberikan pemain yang sudah berusia 32 tahun, menjelang penghujung karir, untuk LFC yang sedang merintis kebangkitan? Di luar sana pun, banyak pendukung klub lain yang mentertawakan perekrutan Lambert ini.

Sebelum jauh, silahkan tanya diri anda sendiri, kira-kira siapa pemain depan yang mau dalam sepanjang musim duduk di bangku cadangan? Ya, karena akan sangat susah mendapatkan jam bermain ketika melihat fakta bahwa The Reds punya Suarez dan Sturridge yang musim lalu sedang sangat on fire. Atau, relakah anda jika frontline LFC dengan komposisi Sturridge – Suarez harus dirubah dengan kedatangan pemain depan mahal yang baru?

Dalam pandangan saya, Rickie akan bersedia melakoni peran sebagai “backup” duet maut SAS. Meski masih berkontribusi signifikan bersama Soton, pergantian manajer di sana bisa saja berdampak pada jam bermain nya. Mungkin Lambert tak akan lagi menjadi pilihan utama, karena alasan usianya yang tak lagi muda. Selain mungkin akan datang striker yang oleh manajer baru nanti, dirasa bisa lebih berkontribusi. Jadi, dengan resiko yang sama tentang peluang bermain yang terbatas, bukankah akan menyenangkan bermain dengan klub idola nya ? Belum lagi didukung fakta bahwa Liverpool FC juga bermain di Eropa, yang berarti akan ada banyak pertandingan yang harus di jalani. Bergabung dengan klub idolanya, saat mimpi utama sebagai pemain untuk bisa tampil di Piala Dunia sedikit banyak akan mempengaruhi proses “nerimo” nya Lambert yang makin menua.

Di penghujung musim kemarin, pria asal Irlandia Utara ini menjelaskan dalam sebuah interview tentang pemain seperti apa yang dia inginkan.

“Our criteria that we look for is players with strong technique and football intelligence. They need to mentally have the attitude and the capacity to learn. And they have to be so hungry to fight for every ball on every day in training and in the game.

“You’ll get some players who are specialists and who need to play in particular positions, but if we can get players in who are multi-functional, and can play in different roles and are multi-dimensional in their work, it sets us up and gives me more options as a coach.”

Dengan tinggi 187 cm, banyak yang mengira bahwa Lambert adalah tipikal striker ortodok Inggris. Kuat di udara, dan hanya menunggu di area serang, untuk menunggu bola-bola lambung. Nyatanya tidak, kemampuan olah bola nya pun mumpuni.  Menurut whoscored.com Lambert lebih sering memainkan bola bawah dan lay offs. Pengalamannya bermain sebagai seorang gelandang saat bersama Rochdale pun membuatnya memiliki kreatifitas selayaknya gelandang serang. 54 key passes dia buat musim lalu, 10 di antaranya berbuah  assist. Dari whoscored.com juga, Lamber tercatat sebagai pemain depan yang tampil di atas 30 games yang memiliki akurasi passing cukup signifikan (69.7%) yaitu 775 passing berhasil dari total 1112 passing. Masih butuh bukti lagi ? Sebagai seorang pemain depan murni, Rickie juga berhasil melepaskan crossing sebanyak 52 dimana 15 diantaranya sukses salah satu catatan terbaik.

Terkait dengan statistik di atas, sudah disebutkan bahwa kemampuan tersebut didapat Rickie dari pengalamannya melakoni peran sebagai gelandang. Peran lama nya ini kadang di lakoni nya. Dalam beberapa kesempatan kita bisa melihat Lambert bermain sebagai sayap kanan (dari situ, catatan crossing nya tadi dicapai) atau turun menjemput bola mengisi peran sebagai seorang attacking midfielder, membuka ruang untuk pemain lain (Lallana atau Jay saat di Saints) dan memberikan assists. Selama perjalanan karirnya, sebagai eksekutor dari titik putih, Rickie tidak pernah meleset dalam 34 penalti yang dia ambil. Selain itu Rickie juga piawai dalam mengeksekusi tendangan bebas, meskipun di sektor ini nantinya dia harus bersaing dengan Suarez maupun Gerrard.

Sedikit contoh area jelajah Rickie Lambert bersama Soton

Kemampuannya bermain dan berkontribusi dari beberapa area permainan tersebut, sesuai dengan kriteria Rodgers dalam mendapatkan pemain yaitu multi-functional atau multi-dimensional. Selain itu, statistik di atas juga menegaskan bahwa Lambert sekali lagi bukan tipikal striker konvensional Inggris yang hanya bertugas menceploskan gol ke gawang lawan. Lambert bisa melakoni peran sebagai team player, bukan sosok individualist atau selfish.

Sesaat setelah Suarez melontarkan niatannya ingin hengkang musim panas lalu, sebagai bagian dari handling issue tersebut Rodgers mengeluarkan pernyataan seperti ini

“In terms of the remarks that were made, this is a football club that has always worked a certain way. The Liverpool way is all about a club with ambition, a club that strives to be the very best, a club that is about commitment. That means that everyone is committed to the cause of fighting for the shirt.

“It’s also about dignity and being dignified in how you speak about the club, on and off the field, and it’s about unity

Lambert muda saat masih bersama LFC Academy

Kaitannya dengan Lambert, hal-hal yang diingini Rodgers di atas tentunya akan mudah diimplementasikan oleh pria 32 tahun tersebut. Didukung dengan latar belakangnya sebagai ex binaan akademi, Lambert akan sangat paham tentang nilai-nilai Liverpool Way. Harapannya, jika nanti ternyata kesempatan bermainnya terbatas, Rickie tak akan mengeluarkan komentar buruk ke media. Lambert juga akan tau betul perasaan bangga mengenakan “the famous Red shirt with Liverbird upon it’s chest” sehingga akan membuatnya berusaha memberikan yang terbaik untuk tim.

Kondisi ini akan didukung dengan kriteria lain dari Bucks, yaitu hunger dan attitude. Sebagai putra daerah yang sudah menyaksikan tim idolanya sudah menunjukkan progres signifikan menuju kebangkitan dari tidur lamanya, Rickie pasti akan berusaha memberi kontribusi maksimal. Kerja keras dan perjuangannya hingga menjadi seorang pemain seperti sekarang ini bukti otentik bahwa Lambert memiliki attitude yang sangat bagus. Jadi lengkaplah sudah.

Tiga puluh dua tahun untuk seorang pemain bola, adalah ibarat masa-masa akhir karir gemilangnya. Tapi jika dapat memberikan kontribusi signifikan, saat start maupun sebagai pengganti , maka harga 4 juta Poundsterling untuk Lambert adalah bargain. Coba tilik lagi, berapa usia Batistuta saat bergabung ke Roma dari Fiorentina. Berapa usia Sheringham saat bergabung dari Spurs ke Manyoo. Zola dari Parma ke Chelsea. Milito dari Genoa ke Internazionale, dan Ibrahimovic dari Milan ke PSG. Kesemuanya dengan nilai transfer yang menakjubkan. Jadi pada skala tertentu, dan demi menjaga ekspektasi kita, kita bisa berharap Lambert bisa memberikan kontribusi yang sesuai dengan nilai transfernya.

Now it’s up to you Rickie lad!

Your travelin’ day is ain’t over yet, so prove your self. Give your best for the people at your homeland.

‘Cause Home is where the heart is.

Do it with your heart.

Welcome home …

@ryswanto – Sore, 3 Juni 2014



Bookmark and Share




Previous Post
Tak Ada Yang Ringan, Yang Berat Harus Sama Dipikul
Next Post
Jimmy McInnes - Secuil Kisah Sedih Di Kopstand



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Tak Ada Yang Ringan, Yang Berat Harus Sama Dipikul
Banyak hal menarik dari artikel "Berat Kali Beban Tuan Rodgers Ini" tulisan mas @dalipin68 di detik sports, beberapa hari...