Artikel / Lain lain / December 8, 2013

How Hard (without) Gerrard.

Anfield, 7 Desember 2013, dalam pertandingan ke-3 dari 8 yang akan dijalani dari periode awal Desember 2013 hingga awal Januari 2014, Liverpool FC menjamu WHU. Team yang meski sedang kembang kempis di papan bawah, memiliki pertahanan cukup bagus. Hanya kebobolan 15 gol dari 14 pertandingan.

Dan pada menit 56, sosok sentral di kubu Liverpool FC memberikan tanda ke bangku cadangan, dirinya minta diganti karena merasa tidak nyaman dengan kaki nya, setelah melepas umpan low cross. Steven Gerrard, cedera hamstring.

GerrardInjuryMalam ini, tersiar kabar, skipper Liverpool – tulang punggung tim – dinyatakan akan absen sebulan. Ya benar, sebulan dimana jadwal pertandingan begitu ketat, juga akan bertemu lawan-lawan kuat, pesaing perebutan tiket masuk Liga Champion Eropa.

Gerrard, sejauh ini memiliki catatan menawan. Dari 15 penampilannya, telah mengkreasi 39 peluang (terbanyak di BPL sejauh ini), yang berbuah 6 assists (tertinggi, sama dengan Ozil). Jelas merupakan kontribusi signifikan untuk tim. Namun, bukan hal yang luar biasa. Kenapa?

Sudah terlalu lama klub ini bergantung kepada kemampuan sang kapten. Hingga sering kali kita mendengar olok-olok, matikan Gerrard maka Liverpool tak akan berkutik. Dan seringkali kalimat tersebut bukan sekedar olok-olok, namun sebuah fakta.

Fakta yang harus kita terima juga bahwa Gerrard tak lagi muda. Dan mungkin, waktunya bersama klub yang dia cintai, tak lagi lama. Paling tidak, tidak bisa lagi tim bergantung padanya, menciptakan momen-momen magic, a la Olympiakos, Istanbul, maupun FA Cup Final 2006. Ada batasan yang tidak bisa disangkal, otot dan tulang-tulangnya yang tak lagi muda.

Malam tadi, dalam salah satu twit dari akun ini ada twit seperti berikut ini

LFCID_GERRARDAgak miris memang, jika mengingat kontribusi, kemampuan dan sejarah sang kapten hingga detik ini. Namun, sekali lagi, ini adalah hal yang harus kita hadapi.

Rodgers, yang tak jarang disebut sebagai manager yang tak punya plan B, dalam pandangan saya sudah memikirkan pentingnya Gerrard ini di mata fans, kelangsungan karir nya, yang di-sinkronkan dengan skema permainan tim yang Rodgers sendiri inginkan.

Menempatkan Gerrard di posisi lebih dalam, sebagai metronome permainan, adalah upaya menjaga kebugaran Gerrard. Lihat saja musim lalu, Gerrard jarang absen. Musim ini bahkan tak absen satu pertandingan pun. Dengan posisi barunya, Gerrard tidak sebebas saat dia ada di posisi lebih advance. Naluri menyerang, drive forward, yang seringkali berakhir dengan tekel-tekel brutal dari lini pertahanan lawan, tak lagi terjadi.

Tanggung jawabnya untuk membantu lini pertahanan pun, terbantu dengan partner nya yang jika tidak dalam posisi sejajar, ada di belakang nya, menutup area yang dia tinggalkan.

Selain demi menjaga kebugarannya, keputusan Rodgers untuk menempatkan Gerrard di posisi lebih dalam ini, juga berdasarkan pertimbangan taktikal. Di awal masa menjabat sebagai manager klub, saat Rodgers mengungkapkan filosofi permainannya, banyak para pengamat yang jelas lebih paham tentang taktikal sepakbola, menyebut, Gerrard adalah salah satu yang harus beradaptasi dengan filosofi Rodgers ini.

Kenyataannya, kurang lebih benar. Keberadaan Gerrard dengan posisi barunya, menimbulkan efek domino yang lain. Ada tugas ganda untuk pemain yang mendampinginya di zona tersebut. Menutup space yang dia tinggalkan. Dan tak jarang, harus berakibat pelanggaran di area tersebut. Gerrard tak lagi muda, tak lagi berlari track back menutup zona yang dia tinggalkan. Dari sejak jaman Rafael Benitez, sudah banyak yang menyatakan, Gerrard tidak disiplin dalam menjaga daerahnya. Kebebasan dan hasratnya menjelajah tiap jengkal lapangan, juga tak bisa dibendung begitu saja.

Di periode paling krusial musim ini, tanpa bermaksud menyebutnya sebagai blessing in disguise, absennya Gerrard ini adalah ujian untuk seluruh pemain yang ada, juga buat Rodgers untuk menentukan formula baru. Ajang latihan untuk masa depan, saat sang kapten legendaris ini, tiba pada saatnya gantung sepatu.

Selepas digantikannya Gerrard dalam pertandingan kemarin, Liverpool menemui beberapa dodgy moment hingga harus kebobolan melalui gol bunuh diri Martin Skrtel. Akan tetapi setelah itu, di mata saya, Liverpool menemui keseimbangan permainan. Free flowing football.

Angka-angka statistik, sebelum dan sesudah digantikannya Gerrard, akan menjelaskan bahwa tidak terjadi penurunan signifikan. 90 passing sukses di area pertahanan WHU dan 13 peluang tercipta setelah Gerrard keluar, berbanding 98 passing sukses dan 17 peluang tercipta sebelum pergantian. Jika ada yang bilang bahwa lawan yang dihadapi kemarin adalah “hanya” WHU, maka sekali lagi harus diingatkan bahwa, WHU ini baru kebobolan 15 gol. Setidaknya fakta tersebut bisa cukup membuat tenang, karena Liverpool tidak terlihat menemui kebuntuan sepeninggal Gerrard.

Di atas, saya menyebutkan tentang periode ini akan menjadi ujian bagi pemain LFC juga Rodgers. Karena memang masih harus menghadapi Spurs, Chelsea, ManCity yang jelas merupakan tim kuat. Apakah permainan di 20 menit terakhir melawan WHU kemarin, bisa diulangi saat menghadapi tim-tim tersebut.

Tak jarang memang, Liverpool bisa “mengatasi” absen nya Gerrard dengan hasil positif saat melawan tim kuat. Quarter Final UCL 2005, di Turin. Oktober 2009 di Anfield menghadapi Manyoo. Dan masih ada lagi.

Dan kali ini, momen yang harus dihadapi oleh Rodgers. Bagaimana memotivasi para pemain, dengan tidak adanya sosok influential dalam diri Gerrard.

Allen mungkin akan menjadi katalis baru permainan Liverpool dengan absen nya Gerrard. Bermain lebih dalam berdampingan dengan Lucas. Dengan Hendo ada di flank, dan Coutinho bermain di belakang Suarez. Buat saya, mobilitas Allen yang relatif lebih energik (karena masih muda), awareness dan disiplin menjaga zona nya, akan menjadi kunci. Terlebih, latar belakang Rodgers membawa Allen dari Swansea saat itu, adalah karena Allen yang sudah lebih mengerti bagaimana filosofi sepakbola Rodgers, dan berharap dapat mengimplementasikannya bersama Liverpool

Kita mungkin tidak akan melihat lini tengah sekuat era dimana chant “Best Midfield In The World” sering berkumandang. Kita tidak akan melihat Mascherano sebagai pemutus serangan yang gagah berani dalam diri Lucas, kita juga tidak akan melihat Allen menjelma jadi Alonso dengan passing ajaib nya, dan terakhir tak akan juga melihat era keemasan Gerrard melayani/bekerjasama dengan Torres dalam diri Coutinho.

Namun, saya pribadi beranggapan, Liverpool akan berhasil mengatasi masa-masa sulit ini tanpa Gerrard. Dari 20 menit terakhir melawan WHU kemarin, terlihat keseimbangan dan transisi bertahan-menyerang yang cukup rapih. Jika bisa diterapkan tanpa memandang siapa lawan nantinya, dan jika Rodgers bisa memotivasi pemainnya dengan baik, dan tidak memberikan materi motivasi yang sama seperti saat ditekuk Hull.

Get well soon, Skipper! We’ll be all right.

 



Bookmark and Share




Previous Post
Brendan Rodgers Salah Memilih Waktu
Next Post
It's Still Too Early To Open The Pandora's Box



Yanuar Ryswanto




2 Comments

Dec 09, 2013

Selalu senang dengan tulisan mas yan. Analisis nya enak dibaca, ga seperti tulisan penulis yg maha paling ngerti bola, yg sukanya cuman nyinyir berkedok sarcasm (biar eksis mungkin tujuannya).


Dec 09, 2013

Gerrard, meskipun dengan cara yang kurang enak, akhirnya bisa istirahat. Aneh memang BR selalu memaksa dia bermain in EVERY match for full 90 minutes. Padahal kalo kita mau jujur, SG udah ga efektif lagi buat bermain 90 menit penuh.

Midfield udah jadi PR buat BR sejak lama, padahal talenta ga kurang banyak. Lucas, Allen, Hendo, Alberto, Gerrard, Countinho. Bermain dengan 2 midfield, yang berarti Gerrard+1 other, udah pasti ancur. 3 midfield, yang berarti Gerrard+2 others selalu melempem, gampang ditembus seolah-olah ga ada orang, malah nambah beban kerja bek. Padahal dalam sistemnya BR saat ini fungsi midfield jadi perisai pertama sebelum bek.

Yah, kita kudu mau membuka mata, Gerrard saat ini malah jadi salah satu weak link di midfield kita. Kurang disiplin dalam short passing, terlalu banyak turnover, bermasalah dalam tracking back, tampak malas dalam pressing/marking padahal posisinya sudah deep. Hal ini membuat rekan2 midfield lain jadi punya beban ekstra buat nambal lubang yang ditinggalin Gerrard. Yang paling parah, mungkin karena efek usia, seringkali Gerrard keliatan not interested saat game berlangsung. Walking a lot, not even jogging. We don’t need that kind of attitude from our CAPTAIN, efeknya kerasa sampe ke semua pemain.

Don’t get me wrong, he’s still a great player, my very much idol, exactly. Tapi dalam sistem permainannya BR, Gerrard masih belum (atau bahkan ga akan pernah) ‘fit in’. Gerrard akan bermain bagus sebagai Gerrard sendiri, bukan dalam sistem.

Saya sih dari dulu udah penasaran gimana kita main tanpa Gerrard. Trio midfield Lucas, Allen, Hendo dengan Coutinho di kiri dan Alberto/Sterling di kanan tampak menjanjikan. Yang jelas sih short passing system nya bakal jalan lebih bener, dan midfield kita lebih punya energi buat pressing selama ada Hendo n Lucas sebagai engine, sementara Allen sebagai distributor bola dan Coutinho menjadi ‘creative spark’ nya.

Sekali lagi, saya ini penggemar berat Gerrard. Tapi menurut saya, LFC bisa main lebih efektif dengan sistem BR tanpa Gerrard, atau setidaknya tidak memainkan Gerrard 90 menit penuh di tiap pertandingan. Dan tentu saja, no player is bigger than the club.

Maaf tulisannya kacau ga beraturan dan kepanjangan 🙂

GWS skipper. YNWA.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Brendan Rodgers Salah Memilih Waktu
Hallo Brendan Rodgers, Saya adalah supporter Liverpool FC, yang masih kencur, pun tinggal jauh dari klub yang anda arsiteki....