Artikel / Feature / Lain lain / September 4, 2013

Jangan Mengulang Musim Lalu

Beberapa saat setelah ditutupnya jendela transfer musim panas pada tahun lalu, saya menuliskan sebuah artikel yang merangkum pergerakan Liverpool FC di pasar pemain. Hal yang saya soroti saat itu, adalah nett spend . Yang meski bukan merupakan komponen paling menentukan dalam perjalanan klub meraih prestasi, tapi setidaknya menjadi indikasi awal, seberapa besar upaya pemilik klub dalam mendukung manager nya untuk mewujudkan prestasi, dalam hal ini target klub.

Kali ini saya enggan repot mengumpulkan data dari berbagai laman informasi transfer pemain, malas juga rasanya melakukan penjumlahan dan perbandingan nilai uang yang sudah dikeluarkan klub untuk mewujudkan ambisi bersama, kembali ke zona Liga Champions. Saya sudah tiba pada kesadaran penuh, bahwa klub kita tercinta ini, tidak dimiliki oleh tycoon minyak dari Timur Tengah, atau Russia. Yang dengan mencabut bulu ketek saja, bisa membeli pemain seharga puluhan juta poundsterling. Yaa, meskipun ada satu klub pesaing utama, yang tidak dimiliki raja minyak, bisa berbuat lebih banyak dari klub kita.

Belajar dari musim lalu, kita boleh dibilang mengorbankan separuh musim pertama dengan minimnya kualitas pemain pelapis, juga kesulitan mencetak gol karena kegagalan merekrut penyerang, yang oleh Brendan Rodgers diidentifikasi jika berhasil direkrut akan dapat membantu produktifitas dalam mencetak gol.

Kondisi saat itu, sangat tertolong dengan upaya perekrutan pemain di musim dingin. Coutinho dan Sturridge. Yang begitu bergabung langsung membawa impact positif.

Sebelum saya dianggap seorang supporter yang berharap klub kita ini dimiliki raja-raja minyak dari Timur Tengah, yang dengan buang ludah saja bisa mendatangkan pemain berharga puluhan juta Poundsterling, rasanya perlu saya sampaikan dulu bahwa saya bukan termasuk yang seperti itu. Saya menolak prestasi instan. Saya hanya tidak ingin melihat klub mengulangi kesalahan yang sama, mengorbankan separuh musim dalam kondisi struggle. Dikarenakan belum lengkapnya komposisi pemain, sebagai akibat dari kegagalan mendatangkan pemain incaran.

Dari pengamatan saya yang awam (atau sering disebut , seperti anak SD) ini , saya beranggapan bahwa delapan pemain baru yang didatangkan pada jendela transfer kali ini, tidak menambah kedalaman skuad kita. Delapan pemain baru, memang kelihatan banyak, tapi coba tengok  jumlah pemain yang pergi juga kurang lebih sama. Akan sangat ada kemungkinan, di mana kita  kesulitan ketika pemain inti tidak bisa tampil karena cedera, suspension, atau sedang dalam performa buruk. Para pemain yang berstatus sebagai pemain cadangan, dalam hal kualitas tidak dalam level yang sama atau paling tidak, mendekati. Dan kondisi ini, menurut saya akan menghambat kita untuk bisa bersaing dengan klub lain.

BTMjxdjCEAAh8ds

Sudahkan terpikir oleh anda, siapa yang layak menggantikan Gerrard jika dia berhalangan tampil ? Atau siapa yang akan diberikan peran mengacak-acak pertahanan lawan ketika Coutinho sedang butuh untuk diistirahatkan. Atau siapa yang akan mengisi posisi Sturridge / Suarez, ketika salah satu diantara mereka harus duduk menonton dari tribun karena alasan tertentu.

Rodgers mengisyaratkan sejak awal musim bahwa dia butuh seorang pemain matang berkualitas, yang mampu meringankan beban para penyerang dalam mengkreasi, atau menciptakan gol dan jika perlu bisa menjadi dirigen permainan. Target utama saat itu, Mkhitaryan lebih memilih dipinang Dortmund. Ketika Rodgers sudah berfikir kembali bahwa posisi yang dia inginkan tersebut bisa diisi Coutinho, maka beralihlah prioritas jadi pemain yang bisa mengisi sisi kiri area serang. Costa, memilih tetap bertahan di Madrid, Willian lebih memilih kehidupan metropolis di London.

Setelah itu ?

Kemudian hening.

Marquee signing atau apalah itu istilahnya, beralih jadi seorang anak muda, bek Perancis yang terlupakan. Sakho. Pembelian termahal musim ini.

Seorang attacking midfielder yang diharapkan bergabung, mungkin masih dicari, sampai bertemu nanti. Januari. Mungkin akan ada Coutinho-Coutinho, atau Sturridge-Sturridge lain yang bisa kita gaet.

Bagi para penggemar permainan simulasi Football Manager, jika anda ingat saat masih bernama Championship Manager, ada cheat yang bisa membantu kita untuk menambah dana transfer klub, atau membujuk pemain manapun yang tadinya enggan bergabung dengan klub asuhan kita, akhirnya mau bergabung. Lalu coba ingat lagi, dengan cara tersebut, setelah klub yang kita tangani berisikan pemain-pemain berstatus bintang, puas begitu saja kah kita ?

Kondisi belum didapatnya seorang penyerang berlabel marquee signing (ehm, dalam hal kematangan dan kualitas) ini adalah satu-satunya ketidakpuasan saya setelah tutupnya transfer window ini. Dalam empat pertandingan awal kita kemarin, saya menilai perubahan pendekatan taktik Rodgers, salah satunya didasari atas kondisi ini.

Sepakbola fluid sepanjang laga, yang biasa dia terapkan, berubah menjadi … negative football . Rodgers mungkin berfikir bahwa tidak bisa dia mengandalkan Coutinho terus menerus sebagai pembongkar pertahanan lawan yang kebetulan dalam 4 laga awal, tidak ragu melayangkan tekel keras. Sturridge juga bisa jadi akan lari-larian membuka ruang, tanpa pernah ada bola sampai ke kaki nya. Aspas pun masih harus dipasang adaptor di badannya, agar bisa segera menyesuaikan dengan tempo Premier League.

Saya akan coba tuangkan pemikiran saya mengenai perubahan taktik Rodgers ini, secara lebih terperinci dalam artikel lain, nanti lain hari

Diluar ketidak puasan saya itu tadi, jika melihat secara keseluruhan pergerakan Liverpool di bursa transfer boleh dibilang cukup sukses. Parameter suksesnya jelas mungkin berbeda buat tiap orang. Dalam pendapat saya, dilepasnya pemain pemain bergaji mahal yang dirasa tidak memberikan kontribusi maksimal ke klub, entah dijual maupun dipinjamkan, merupakan langkah strategis. Hal lain adalah, berhasil meminjamkan beberapa pemain yang diyakini masih bisa menunjukkan potensinya, ke klub-klub divisi utama. Dan yang paling penting, saya meyakini bahwa pemain yang didatangkan sekarang ini adalah benar-benar pemain pilihan Rodgers (atau komite rekruitmen) yang dirasa cocok dengan filosofi sepakbola yang diusungnya.

Dengan begitu, patut ditunggu bagaimana pragmatis nya Rodgers dalam mensikapi kedalaman squad yang segitu gitu aja dan memanfaatkan pemain yang dimilikinya sekarang untuk bisa tampil maksimal demi mewujudkan cita-cita kembali ke Liga Champion, bertarung dengan klub pesaing lainya. Tentunya dengan tanpa beban, karena menilik pada fakta bahwa klub-klub langganan 4 besar belanja cukup serius, jikapun ada yang tidak mengeluarkan banyak uang belanja, paling tidak, squad yang dimiliki sudah mapan. Belum lagi ketika melihat fakta bahwa Cardiff dan Southampton pun, belanja lebih banyak dari Liverpool FC.

 

 



Bookmark and Share




Previous Post
Liverpool Memaksa Fans untuk "Berharap"
Next Post
Liverpool Are Shite



Yanuar Ryswanto




1 Comment

Sep 04, 2013

pd transfer musim panas ini, saya kecewa dengan pembelian aspas, dan gagalnya menggaet henrikh mkhtaryan, namun saya senang dgn pmbelian mignolet, toure, sakho,alberto, LFC juga bisa mempertahankan suarez

untuk musim ini, saya hanya blum yakin apa LFC performanya akn konsisten ? alasannya adalah pemain pengganti yg masih pemain muda

contoh wisdom yg menggantikan glenJo yg cedera, sangat baik dalam bertahan, tpi untuk menyerang wisdom masih kebingungan

blum ada pemain yg dpat menggantikan peran gerrard

blum ada pelapis coutinho, ini sangat penting di pertandingan sebelumnya coutinho terus”an mndapat tekel tekel keras, ini membahayakan bila smpe coutinho cedera, alberto mungkin blum bisa menggantikan peran coutinho

blum yakin saat suarez kembali bermain, performanya akan seperti tahun lalu



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Liverpool Memaksa Fans untuk "Berharap"
Lelah adalah kata yang tepat untuk seluruh fans Liverpool. Tampil klimaks sebagai medioker sejak musim 2009-10 hingga 2012-13...