Artikel / Feature / Lain lain / Sejarah / June 6, 2014

Jimmy McInnes – Secuil Kisah Sedih Di Kopstand

Banner-banner unik dengan kalimat menggelitik, gemuruh suara nyanyian dukungan (meski belakangan sudah tak sehebat dulu), applause serempak ketika ada moment hebat di lapangan, baik yang dilakukan pemain Liverpool atau pemain lawan, adalah hal-hal yang kita rekam dengan baik tentang The Kop, Kopstand, atau Spion Kop.

Kopites dengan segala kreatifitas dan kekompakannya, menciptakan kisah dan pesona tersendiri bagi The Kop. Pada era-pra internet, Spion Kop mendapat sebutan “sisi Anfield yang dapat menyedot bola” karena nampak seperti lautan. Lautan manusia yang tak berhenti melantunkan chants, nyanyian dukungan.  Tak sedikit legenda sepakbola dunia yang pernah bermain di Anfield memberikan testimoni khusus untuk salah satu sisi stadion Anfield yang dapat menampung 12.390 penonton ini.

Bagi kita – supporter Liverpool – Kopstand adalah benchmark, adalah mimpi. Bagaimana kita kemudian menginginkan suasana yang sama di tempat-tempat kita nonton bareng. Dan bagaimana kita mendambakan untuk bisa berada di antara ribuan Kopites jika suatu saat berada bisa berada di sana. Adalah kemeriahan, kekompakan dan tingginya kreatifitas mereka-mereka di sektor tersebut yang menghipnotis angan-angan kita. The Kop punya tempat tersendiri bagi kita.

Sebagaimana juga hidup manusia yang terdapat moment bahagia atau duka, The Kop pun demikian. Yang terekam baik dengan kita adalah momen-momen “spektakuler” yang pernah ada di Spion Kop, seperti ketika menghadapi St Etienne tahun 1977, semifinal UCL 2005 melawan Chelsea, pertandingan kandang jelang akhir musim lalu, atau sekian moment spesial yang di wakili The Kop dengan mosaic. Sementara di satu sisi lain ada cerita sedih di The Kop yang barangkali terlewat oleh rekaman kita.

***

Kesuksesan Shankly dalam membangun Liverpool menjadi kekuatan sepakbola di Inggris juga Eropa, mulai menampakkan hasil dapada musim 63/64. Sukses promosi dari Divisi Dua ke Divisi Satu (sekarang Premier League), di musim 61/62, LFC berhasil menjuarai nya di musim 63/64 dan sebagai kampiun, petualangan di Eropa pun dimulai untuk kali pertama. Bill Shankly adalah orang yang sangat ambisius, Liverpool ada untuk memenangkan piala dari semua ajang yang diikuti, begitu menurutnya. Keikutsertaan di European Cup untuk kali pertama bagi Liverpool tersebut disikapi nya dengan serius, tanpa melupakan kompetisi domestik termasuk FA Cup. Gelar yang juga belum pernah dimenangkan, tak luput dari bidikannya.

Ambisi Shankly tersebut tidak bisa berjalan lancar semuanya, terpecahnya fokus di berbagai ajang membuat penampilan Liverpool sebagai juara bertahan Liga Inggris saat itu, terseok pada musim 64/65. Liverpool terlempar ke posisi 7 pada akhir musim. Lain dengan pencapaian di liga, di FA Cup dan European Cup, Liverpool sangat digdaya. Pada musim tersebut, Liverpool berhasil menjuarai FA Cup untuk pertama kalinya dengan menaklukkan Leeds di Wembley. Sebagai pendatang baru di kancah Eropa, pencapaian Liverpool kala itu juga tergolong spektakuler. Berstatus sebagai kuda hitam, Liverpool bisa mencapai babak semifinal meski akhirnya harus tunduk dari Internazionale lewat agregat (3-4).

Sebelum era Shankly, sering dikatakan bahwa supporter Liverpool hilang gairah. Rententan kesuksesan di turnamen level tertinggi di bawah komando Bill, berdampak psikologis pada fans. Anfield selalu full house, dan antrian permintaan tiket pun menggunung. Ketika itu, permintaan tiket banyak dilayangkan melalui surat yang dialamatkan ke klub.

Membalas surat-surat berisikan permintaan tiket dan korespondensi administratif lain adalah tugas club secretary. Adalah James Sloan McInnes, atau dikenal dengan Jimmy McInnes orang yang kala itu menjabat sebaga club secretary. Jimmy adalah mantan pemain bek kiri Liverpool di akhir era 30’an. Menjadi pemain bola sebenarnya bukan cita-citanya. McInnes adalah seorang akademia, dan mau bermain Liverpool ketika itu karena alasan ingin meraih gelar B Sc di Liverpool University. Dengan tegas dia menyatakan tak ingin sepakbola mengganggu cita-cita akademiknya.

Ketika karirnya pemainnya berakhir, McInnes pernah menjadi backroom staff era manager George Kay sebelum akhirnya pada tahun 1955 ditawari posisi sebagai club secretary yang kala itu kosong karena pejabat sebelumnya meninggal. Alasan klub menawarkan jabatan tersebut tak lain tak bukan adalah karena gelar akademiknya. Selama 10 tahun, Jimmy bertugas mengatur distribusi tiket, jadwal, dan rencana perjalanan.

Perjalanan klub mengarungi kompetisi di musim 64/65 dengan rentetan pencapaian mencengangkan tersebut membuatnya hanya mengambil libur 1 hari sejak memasuki tahun 1965. Hal ini disebabkan dengan padatnya jadwal juga banyaknya surat, dan permintaan tiket yang masuk ke kantornya. Joan McInnes, istrinya memberikan kesaksian saat itu bahwa Jimmy sudah berangkat ke kantor jam 7 pagi dan baru kembali pukul 11 malam, setiap harinya. Tak jarang, McInnes harus tidur di tempat tidur lipat (camp bed) di kantornya di Anfield karena terlalu lelah untuk kembali ke rumahnya yang berada di Wirral. Joan menambahkan bahwa Jimmy adalah orang yang berkomitmen atas tugasnya, sehingga seberat apapun pasti dia coba selesaikan meski harus kerja ekstra.

Beban pekerjaan nampaknya menjadi tekanan tersendiri bagi Jimmy. Setelah memenuhi semua permintaan untuk partai final FA Cup, Jimmy dihadapkan pada babak semifinal melawan Internazionale yang hanya berselang 3 hari dari partai final tersebut. Beban pekerjaannya makin meningkat ketika pada leg pertama tersebut Liverpool berhasil membungkam Inter dengan skor 3-1. Permintaan alokasi tiket yang tentunya sangat banyak, menanti jadi tugas berikutnya.

Jimmy McInnes, sebelah kiri Shankly – pict taken from : thekopmagazine.com

McInnes kala itu juga mungkin sudah terbayang potensi Liverpool bisa mempertahankan keunggulan, dan memenangkan leg ke-2 di San Siro. Jika saja benar, tugas yang lebih dahsyat pasti akan dia hadapi. Mulai dari alokasi tiket, maupun rencana perjalanan. Pagi, 5 Mei 1965 dikisahkan Jimmy nampak sangat enggan beranjak dari tempat tidurnya di Wirral. Meski demikian, dia tetap berangkat ke kantor nya di Anfield. Hari itu pun, semua tugasnya untuk mengatur rencana perjalanan tim ke Italia untuk leg-2 di San Siro sudah dia selesaikan.

Seorang petugas maintenance stadion yang sedang melakukan tugasnya melakukan pemeriksaan stadion,  menjumpai Jimmy di area track di belakang The Kop dan sedang menarik seutas kabel dari panel listrik dengan pakaian kerja yang sudah kotor. Hal yang sangat janggal dilakukan oleh seorang club secretary. Namun demikian si petugas maintenance tersebut tidak banyak bertanya, apalagi Jimmy juga berujar kepadanya untuk melanjutkan saja tugasnya.

5 Mei 1965, sekitar pukul 16.00

Di kediadamannya di West Derby, Liverpool, Bill Shankly sedang menikmati sore bersama istri tercintanya, Ness. Shanks saat itu sedang membaca liputan istimewa tentang kemenangan LFC atas Inter malam sebelumnya. Ness, seperti biasa sedang sibuk dengan teka-teki silang nya. Ketika kemudian dering telepon memecah keheningan. Ness mengalihkan pandangannya ke Shankly, untuk kemudian dibalas dengan senyum dan anggukan.

“Ya sayangku, sudah pasti itu telepon untuk ku”

“Baiklah, aku panaskan air untuk teh sore mu sayang” begitu timpal Ness.

Bill mengangguk lalu kemudian menuju ke tempat di mana telepon berada, mengangkat telepon, berbicara singkat, lalu membanting telepon itu. Kegusaran melanda dirinya. Bill berkemas, bergegas menuju garasi. Bill memacu mobilnya menuju Anfield.

Tiba di Anfield, Shankly menuju kantornya. Bunyi telepon di kantornya tak dia gubris. Tak ada orang di ruang kerjanya. Shanks menuju ruangan club secretary, telepon disana pun berdering, tetap tak dia pedulikan. Dan sama, tak ada orang. Bill berlari keluar kantor, menuju sisi luar The Kop, di sudut antara The Kop dan Kemlyn Road stand (sekarang Centenary Stand) , Bill melihat Arthur Riley, Bill mendapati polisi dan ambulan. Bill melihat Joan McInnes, istri Jimmy. Tak jauh dari kerumunan, ada kantung jenazah.

Bill Shankly memacu mobilnya kembali ke West Derby. Bill memarkir mobilnya, dan menuju ruang tengah. Didapatinya Ness berdiri menyambutnya dengan muka bingung.

“Jimmy meninggal sayangku” ucap Bill ke Ness

“Meninggal? Kapan? Kenapa? ” tanya Ness

“Jimmy gantung diri, di Archway turnstile, di bawah The Kop” – jawab Bill

 

“I’ve been a slave to football. It follows you home, it follows you everywhere and eats into your family life. But every working man misses out on some things because of his job.”Bill Shankly

Kalimat dari Bill Shankly tersebut, sangat tepat dengan apa yang dialami James Sloan McInnes. Jimmy harus kehilangan hidupnya, karena beban pekerjaannya.

So long, Jimmy !

 

 

 

 

 



Bookmark and Share




Previous Post
Home Is Where The Heart Is
Next Post
Sakit!



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Home Is Where The Heart Is
" Well time flies and the years go by, but memories never fade I've been gone much too long, gotta get back there someday But...