Berita & Rumor / September 1, 2013

Jumpa Lagi, Moyes !

vs_manyoo

Meskipun dua aktor penambah level panasnya laga ini tidak ada, namun tetap tidak akan mengurangi tensinya. Dua? Benar, dua, di mata saya. Sudah tak akan ada lagi seorang kakek yang mengunyah permen karet (atau entah giginya sendiri), duduk berjajar dengan staff dan pemain cadangan ManUtd. Alex Ferguson, tokoh kawakan yang sangat berhasil menjaga panasnya tensi pertandingan antara kedua klub selama menjabat. Yang satu lagi, adalah Suarez. yang belakangan seolah menjadi Advent Bangun, sementara ManUtd, supporternya dan media jika digabungkan jelang atau setelah laga ini adalah Barry Prima.

Uniknya, kedua klub paling bergelimang prestasi di ranah kekuasaan Ratu Elisabeth ini sedang dalam kondisi yang sama dalam hal upaya mempertahankan salah satu pemain terbaiknya. Liverpool dengan Luis Suarez, dan ManUtd dengan Rooney.

Jika Rodgers, di musim pertamanya belum berhasil membuat supporter LFC orgasme dengan mengalahkan seteru bebuyutan nya ini , demikian pula Moyes. Pengganti Ferguson ini sempat tutup mulut dalam interview jelang pertandingan, ketika ditanya mengenai rekor buruknya saat membawa timnya bermain di Anfield. Entah karena bibirnya lengket karena permen karet si kakek tua yang dia gantikan, atau entah karena memang dia rasa tidak perlu. Karena publik sudah tau. 12 kunjungan ke Anfield, 7 draw, 5 kalah.

Pressure untuk kedua manager.

rodgers-moyes

ManUtd cukup diuntungkan dengan ditunjuknya Andre Marriner sebagai wasit untuk pertandingan nanti malam, eh … bukan. Maksud saya, mereka cukup diuntungkan dengan waktu istirahat yang cukup. Laga melawan Chelsea, Selasa dini hari lalu, adalah saat istirahat mereka sekaligus sesi latihan, pantas saja tidak ada gol.  Sementara Liverpool harus menyerahkan tumbal tiga orang pemainnya terpaksa cedera, hanya untuk mengalahkan klub dari divisi bawah, dalam laga League Cup, turnamen para tikus. Mickey Mouse Cup.

Cederanya palang pintu andalan baru Liverpool, Kolo Toure, menyisakan keraguan di banyak pihak. Dari Rodgers yang pusing menentukan siapa yang akan disandingkan dengan Agger, meskipun konon sudah datang Sakho yang mirip-mirip Toure, tapi tipis kemungkinan dimainkan karena alasan administrasi. Tinggal tersisa Skrtel, pasangan sejati Agger di era Kenny Dalglish, yang mungkin kaki nya masih berat untuk berlari, karena konsumsi besi-besi yang jadi kebiasaannya, belum terpakai maksimal sejauh ini.

Bicara taktik, ada sedikit kekhawatiran saya dalam proses pengambilan langkah pragmatis Rodgers sejauh ini. Dalam tiga laga kompetitif terakhir, Liverpool seperti menutup diri, setiap kali sudah meraih keunggulan. Dari laman-laman statistik yang saya lihat, ada trend dimana memasuki babak ke-2 ( dalam 3 laga terakhir, LFC sudah unggul di babak pertama) LFC seperti menerima dengan iklas, saat lawan gantian mendominasi permainan. Jumlah passing dan passing sukses lawan, meningkat. Kondisi ini  pula yang menyebabkan, Mignolet seperti ditambah sesi latihannya. Lawan berhasil menciptakan lebih banyak peluang di babak 2.

Entah ini memang bagian dari evolusi taktik Rodgers yang konon masih banyak belajar dalam hal pendekatan taktik tiap laga, atau mungkin karena ingin lebih melatih para pemain dalam hal passing dan posession, atau bahkan karena alasan menjaga stamina pemain agar tidak terlalu lelah, karena pertimbangan tipis nya squad yang dimiliki, sehingga ada kekhawatiran akan tidak sanggup selalu menuai kemenangan sepanjang musim.

Apapun kondisinya, jelas ini tidak bisa dibiarkan. Apalagi menghadapi ManUtd yang meskipun dalam dua laga terakhir mereka, nampak tidak memiliki statistik istimewa dalam hal penguasaan bola di final 3rd , maupun banyaknya peluang dibuat, tapi terlihat klinis. Dari 26 upaya tembakan ke gawang, dalam dua laga terakhir mereka, 10 menemui target, dan menghasilkan 4 gol. Klinis.

Akan kasihan Mignolet, jika nanti harus jungkir balik sepanjang pertandingan, atau lebih buruknya jika harus memungut bola dari gawangnya. Tidak lagi perawan di Premier League, apa jadinya jika nanti Premier League mengikuti langkah Indonesia untuk melakukan tes keperawanan.

Saya sendiri berharap, Liverpool dengan (utamanya) squad lebih muda, untuk tidak terlalu santun seperti beberapa musim belakangan saat menghadapi lawan. Sturridge, Coutinho, Aspas dan Henderson harus lebih kurang ajar dalam mempecundangi lini belakang ManUtd yang berisi orang-orang tua.

Coutinho-Sturridge-Liverpool-FC

Henderson, Coutinho dan Mignolet akan jadi pemain kunci LFC. Meski banyak begadang menjaga bayi nya yang masih merah, Henderson memiliki banyak energi untuk mengganggu lawan menguasai bola. Sesekali melakukan penetrasi, yang mungkin belum bisa lakukan ke pasangannya di rumah. Sekaligus membebaskan beberapa puluh jengkal area permainan, untuk dimanfaatkan Gerrard dari belakangnya.

Coutinho, yang liat semoga bisa membuat kesal Vidic – Ferdinand, sebagaimana kesalnya mereka saat menghadapi … errr Torres. Jika Coutinho gagal, masih ada Sturridge yang juga bisa melesat bagaikan Ferarri, tajam bagai silet. Sementara Aspas, dengan segala label kontroversinya saat di Spanyol, bisa membuat Evra ingat akan Suarez, sehingga hilang fokus. Tapi semoga tidak harus meludahi Evra, meskipun memang pemain ini ngeselin.

Van Persie, yang tetap masih ditakuti, dan berharga mahal di FPL semoga tidak berkutik dengan penjagaan bek kita … errr … ah sudahlah. Jikapun ManUtd bisa menembus lini pertahanan kita yang bagaikan orang lagi patah hati, rapuh, gantungkan harapan pada Mignolet agar bisa menyelamatkan atraksi penyelamatan gemilang yang mengingatkan kita semua pada Pepe Reina di musim awal bergabung ke LFC

Jangan sampai berhasil dikelabuhi oleh isu bahwa Rooney ga akan tampil karena cedera saat latihan. Jika dia bisa tampil, meskipun dalam keadaan ngambek maksimal, tetap akan jadi figur berbahaya. Seperti hal nya Van Persie yang bisa setajam samurai Jepang, meski minim peluang. Giggs dengan pengalaman dan lencana penghargaan sebagai pemain paling sering menghadapi LFC, juga bisa mendadak menjadi penentu. Waspadalah, waspadalah.

This Is Anfield, tanda yang disematkan di lorong masuk lapangan disematkan oleh Bill Shankly – yang esok akan merayakan ulang tahunnya di surga (mungkin alam barzah) – adalah untuk mengingatkan pemain LFC, untuk siapa mereka bermain, dan mengintimidasi pemain lawan, siapa yang mereka hadapi. Dalam beberapa musim terakhir, magi nya sudah luntur. Semoga malam ini, jelang ulang tahun se-abad nya Shankly, tanda dan kalimat tersebut menunjukkan tuah nya.

#Shankly100 #ThisIsAnfield



Bookmark and Share




Previous Post
Filosofi di Tengah Atraktif & Pragmatis Liverpool
Next Post
[Ulasan] Liverpool 1 - MU 0, Keberhasilan sebuah kegigihan.



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Filosofi di Tengah Atraktif & Pragmatis Liverpool
Kedatangan Brendan Rodgers ke Liverpool memang membuat banyak fans mengharapkan sebuah filosofi sepak bola berciri khas....