Feature / March 12, 2012

Kenapa Saya Mendukung Liverpool FC?

Tulisan ini disumbangkan oleh @lodybear untuk mengikuti kuis menulis yang di selenggarakan oelh @LFC_ID dan @Hooligans12th.

Banyak klub besar dengan segudang prestasi di jagat sepak bola. Tapi kenapa hati ini terpaut pada klub merah dari Merseyside? Pertanyaan ini mungkin susah dijawab karena mengandung banyak subyektifitas. Kita bisa memilih klub manapun sebagai idola kita. Walaupun klub itu ada di belahan dunia lain dan kita, entah mengapa, memilki ikatan emosional yang susah dijelaskan. Dan pilihan saya jatuh pada klub Liverpool FC.

Memang yang namanya Fans, tidak ada yang bisa menghalangi eforia untuk klub kesayangannya. Klub kalah, kita sedih. Klub menang, kita ikut senang. Berusaha menabung untuk bisa beli jersey kesayangan. Tembok kamar yang dipenuhi poster klub dan pemain. Rasanya memang mirip jatuh cinta J . Oleh karena itu tulisan ini sangat subyektif karena perasaan yang sama juga bisa dirasakan oleh semua fans sepak bola, dalam dan luar negeri.

Di medio awal 90-an, saya mulai mendukung LFC. Kok bisa? Kenal juga engga sama pemiliknya. Tidak ada satupun kerabat yang main di klub ini. Lalu kenapa bisa? Ya itu tadi. Ini mirip jatuh cinta. Susah dijelaskan. Di era 90-an ini LFC ada dalam masa antiklimaks dari kedigjayaannya. Kok mau-maunya mendukung klub yang ngga pernah juara liga? Saya hanya tersenyum bila ada yang menanyakan hal itu. Senyum yang mengandung arti; “Loe ngga bakal ngerti kenapa gue support klub ini”.Ini pilihan yang tidak pernah disesali. Ngga pernah juara, tapi malah makin cinta. Bodoh? Ya itulah jatuh cinta. Tidak selalu rasional.

Sosok pertama yang melekat di benak masa muda saya adalah Ian Rush. Kumisan, galak di kotak pinalti dan karismatik. Setelah itu ada Robbie Fowler. Ya, The God bikin hati makin kepincut. Mungkin Robbie adalah salah satu penyerang paling efektif di kotak pinalti. Tidak sedikit pemain-pemain hebat yang singgah di LFC; Xabi Alonso, Mascherano, Torress, dan sederet nama lainnya. Namun lagi-lagi tanpa mahkota liga tapi hati ini tidak juga berpaling ke klub sebelah dengan lambang setan  yang lagi jago-jagonya.  Tapi seperti kata ungkapan, yang paling penting adalah lambang di dada, bukan nama di belakang jersey. Saya mengangguk setuju. Selama mendukung LFC, memang belum sekalipun merasakan eforia juara liga. Tapi ada banyak momen luar biasa yang tidak akan saya tukar dengan klub manapun.

Bila saya tidak mendukung LFC, saya akan kehilangan momen piala UEFA 2001. LFC menundukkan Alaves dengan skor 5-4 dengan golden goal. Skor yang luar biasa untuk final UEFA. LFC memang tidak punya Eric ‘tendangan kungfu’ Cantona, tapi LFC punya Robbie ‘The God’ Fowler. Hattrick Robbie ke gawang Arsenal dalam 4 menit 33 detik sangat sulit dilupakan. Masih ingat bagaimana LFC mencukur Real Madrid 4-0 di Champions League 2009? Klub ini seperti ditakdirkan untuk selalu mencetak momen-momen luar biasa. Piala FA 2006 dan piala Liga 2012 adalah 2 pertandingan LFC yang tidak disarankan ditonton untuk fans yang lemah jantung. Begitu intens dan drama yang tak kunjung selesai sampai peluit panjang ditiup. Memang klub sebelah mampu meraih kemenangan 0-1 menjadi 2-1 di injury time dan juara Champion League adalah suatu momen yang bagus. Tapi hey, LFC mengejar ketinggalan 0-3 menjadi 3-3 dan menang adu pinalti di Final Champion League. Dalam 100 tahun kedepan, klub manapun akan sulit mendapatkan momen seperti itu. Ini satu tips buat fans LFC; bila sedang kehilangan semangat dalam hal apapun, coba tonton footage pertandingan tersebut. Dijamin anda akan tertular inspirasi dan semangat yang dibakar oleh Stevie G dan seluruh fans The Reds di Istambul malam itu. Pertandingan itu begitu megah dan penuh dengan drama dengan hasil yang luar biasa sehingga dinobatkan sebagai The Greatest Final in competition history. Oh ya, Malam itu juga saat dimana  Andriy Shevchenko kehilangan 1/3 kepercayaan dirinya. J

Kalau bicara subyektifitas memang tidak ada habisnya. Namun saya bangga sudah memilih LFC sebagai klub yang saya dukung. Akan datang lebih banyak momen istimewa yang akan tersimpan manis di kenangan. Satu lagi yang saya syukuri, saya tidak pernah melihat nama G. N*ville di line up tim pujaan saya. Thank God.

 

#YNWA

Lody (@lodybear)



Bookmark and Share




Previous Post
12 Laga Yang Harus Dimenangkan.
Next Post
Saya, Liverpool dan Twitter







2 Comments

Mar 12, 2012

Gue merasakan hal yang sama, mate.
Sumpah, setiap hal yang dijabarkan disini menjelaskan perasaan yang sama dengan gue.
Masih merasakan juga saat LFC bisa jadi juara tengah musim, namun pada akhir musim lagi-lagi gelar BPL lepas dari genggaman.
Merasakan juga akhirnya rekor juara 18 kali, disamai oleh musuh “setan” itu.
Namun, dalam lebih dari 2 dekade sejak gw masih TK, klub ini ngga mampu membuat gue berpaling pada tim lain, entah di Liga Inggris maupun liga lain.
Apalagi musim ini, miris memang melihat tim yang kita cintai berada di posisi 7 di klasemen sementara, padahal Carling Cup sudah kita menangi dan sebentar lagi FA Cup kembali kita dapatkan.
Yup, cinta itu tak pernah pudar, mate.

We do and will always sing You’ll Never Walk Alone with pride and a Liverbird on our chest.


Dec 09, 2013

Ane dukung lfc pas jamannya manajernya roy hogson
Ane liat di whoscored.com rank lfc secara statistik semakin membaik
Akhirnya pas jamannya rodgers 2012/2013 lfc tembus rank3 secara statistik di whoscored.com
Sekarang 2013/2014 gameweek 15 lfc rank1 secara statistik di whoscored.com
Jadi berdasar quick count dengan sample 40% game, lfc berpeluang juara epl 2013/2014
At least big4 jika liat statistik whoscored.com
In math we trust hehe



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
12 Laga Yang Harus Dimenangkan.
  Jatah ke Europa (League) sudah berada di tangan berkat raihan gelar juara Carling, namun kita masih ingat betapa...