Artikel / Feature / March 6, 2012

Kuyt Almighty dan Kerinduan Kami Pada Lucas Leiva

sebuah tulisan dari Abimanyu Bimantoro yang disertakan untuk kuis menulis dari @LFC_ID dan @Hooligans12th

Enam tahun berlalu sejak terakhir saya merasakan kegembiraan macam ini. Tim kesayangan saya akhirnya kembali mengangkat piala. Setelah melewati beberapa musim yang memuakkan, satu piala kembali masuk markas kebanggan, Anfield. Persetan jika ada yang mengatakan ini hanya piala liga yang tidak bergengsi, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan piala Premiership, piala yang sama sekali belum pernah kami menangkan dan akan selalu saya nantikan. Tapi jika anda pernah merasakan hawa sebuah kompetisi, anda pasti tahu bahwa memenangkan sebuah kejuaraan adalah orgasme yang sesungguhnya dalam kehidupan. Sama sekali tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya, yang jelas tidak ada yang lebih nikmat dari ini.

Pertandingan yang luar biasa (dan semakin luar biasa karena berakhir untuk kemenangan Liverpool), 2 jempol saya arahkan kepada sang lawan, Cardiff City. Tim yang sebenarnya berada satu divisi dibawah ini sama sekali tidak menunjukkan mental tim yang lebih lemah. Tidak terlihat rasa takut dan gentar ketika harus beradu skill dengan lawan yang memiliki skill beberapa tingkat diatas. Satu hal yang sama sekali tidak mudah untuk dilakukan oleh siapapun. Apalagi di pentas sebesar ini. Kalimat saya ini sama sekali bukan saya tujukan untuk menghibur, karena saya tahu tidak akan ada yang bisa menghibur orang yang kalah, apalagi ungkapan belasungkawa dari suporter lawan. Mimpi buruk ini akan terus menghantui dalam beberapa hari atau bahkan beberapa bulan ke depan.

Saya bukan orang yang saat ini memiliki kemahiran yang cukup untuk menganalisis jalannya pertandingan, hanya saja terdapat 2 hal yang menarik dari pertandingan ini. 2 hal yang justru datang dari 2 orang yang sangat sering mendapat hinaan dari penonton sepakbola. Orang pertama adalah Dirk Kuyt, Striker yang sekarang ini lebih sering ditempatkan di sektor sayap. Sebagai striker (apalagi Liga Inggris) banyak orang yang berpendapat Kuyt sangat tidak layak, ditambah ketika sekarang ini justru Kuyt sangat sering berada di posisi sayap. Jika bermain Football Manager, Kuyt adalah pemain pertama yang akan saya jual. Karena selain harganya yang cukup mahal, Kuyt selalu tidak bisa tampil memuaskan dalam permainan yang saya rancang. Dia tidak punya dribbling skill yang bagus, tidak punya passing yang super akurat, tidak bisa berlari sangat cepat, tidak juga shooting yang mematikan. Tapi satu hal yang Dia punya, kemampuan mencetak gol kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun caranya. Ya, sampai sekarang saya dan jutaan pendukung Liverpool lain mengidolakannya karena dia tidak pernah berhenti mencetak gol. Tidak peduli gol dicetak dengan cara yang tidak elegan, tanpa skill kelas dunia, dan yang paling terlihat adalah semangat yang pantang menyerah dan keberuntungan. Ditengah hinaan (yang terkadang juga datang dari pendukung Liverpool sendiri) dia terus berlari dan terus mencetak gol demi gol dengan caranya sendiri. Gol yang membawa kemenangan atau menyelamatkan Liverpool dari kekalahan. Kuyt sama sekali tidak membutuhkan kalimat ‘Man Jadda wa jadda’ (siapa yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil), karena kalimat itu sepertinya sudah melekat kuat di seluruh tubuhnya.

Bukan sekedar gol extratime yang dicetaknya pada pertandingan tersebut, namun juga saya merasakan permainan Liverpool yang lebih hidup ketika Kuyt berada di lapangan mendapingi Suarez di barisan penyerang Liverpool. Penyerangan maupun pertahanan menjadi lebih solid dari sebelumnya. Penyelamatan di depan gawang serta eksekusi penalti yang sangat tenang adalah 2 karya lain yang Kuyt lakukan pada pertandingan Final ini.

 

Orang kedua adalah Lucas Leiva. Lucas tidak main di pertandingan ini, namun sepanjang pertandingan saya dan teman saya berkali-kali bergumam, “ah, coba Lucas main.” Saya berani mengatakan bahwa jika Lucas ada di lapangan, gol pertama Cardiff dan beberapa peluang Cardiff tidak akan terjadi. Gol pertama dan banyak peluang Cardiff lahir dari hasil ruang kosong di daerah pertahanan Liverpool yang saya yakin 100% bahwa disitu tidak mungkin kosong jika Lucas ada di Lapangan. Charlie Adam dan Steven Gerrard memang sangat luar biasa saat menyerang, namun sangat buruk ketika bertahan. Disitulah Lucas biasanya berada untuk menutupi kekurangan kedua rekannya.

Terlihat jelas pada proses terjadinya gol pertama, Kenny Miller bisa dengan leluasa menerima bola di depan kotak penalti Liverpool tanpa pengawalan. Charlie Adam berada pada posisi yang terlalu ke depan, sedangkan Steven Gerrard berada di sisi lain lapangan. Daniel Agger yang kemudian berusaha menutupi ruang kosong tersebut justru jadi membuat Joe Mason yang sebelumnya dia marking terbebas sehingga dengan mudah menceploskan bola hasil umpan terobosan Kenny Miller. Dalam 120 pertandingan final carling cup ini, setidaknya saya menangkap 5 kejadian serupa lainnya yang untungnya tidak berbuah menjadi gol.

Sama seperti Kuyt, Lucas datang ke Liverpool dan tampil dengan jutaan hinaan yang datang dari jutaan penonton sepakbola. Bahkan lebih parah dari Dirk Kuyt yang masih memberikan hasil nyata, kerja keras yang dilakukan Lucas sama sekali tidak membuahkan hasil yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Dibutuhkan sedikit analisis untuk membuktikan betapa pentingnya peran dari pemain asal Brazil ini. Beberapa tahun lalu Rafael Benitez merekrut Lucas Leiva ketika berumur 21 tahun dan mengatakan bahwa Lucas akan menjadi pemain yang hebat di masa depan. Semua orang tertawa (termasuk saya) ketika melihat penampilan awal pemain ini. Tidak seperti pemain brazil kebanyakan, Lucas bahkan tidak cukup pandai untuk mendribbling bola. Orang-orang semakin tertawa dan sebagian besar pendukung Liverpool mulai berang (termasuk saya) ketika Rafael Benitez tetap ngotot mempertahankan Lucas di dalam tim. Meski sempat menjadi pelapis Mascherano, Lucas kemudian kembali menjadi pilihan utama ketika Mascherano pindah ke Barcelona. Saya akui bahwa sebagai pendukung Liverpool pun berkali-kali saya menghina permainan Lucas, dan berkali-kali pula saya berharap dia keluar dari lapangan.

Namun tidak untuk saat ini. Saya tidak tahu latihan macam apa yang dia lakukan, yang pasti bukan satu hal yang mudah dilalui. Pemikiran semua orang mulai berubah. Meski hinaan masih sering datang ke permainan Lucas Leiva, namun statistik selalu membela ketika menunjukan bahwa lucas adalah pemain liga inggris terbanyak yang melakukan Succesful Tackle. Satu data yang seharusnya cukup untuk membuktikan betapa pentingnya Lucas bagi pertahanan Liverpool dan cukup pula untuk membungkam mulut semua orang. Data yang kemudian menjadi sumber penyesalan saya ketika dulu sering menghina Lucas. Data yang membuat saya sangat rindu melihatnya kembali bisa bermain dan menjadi tembok pertama yang sangat kokoh untuk siapapun yang ingin mencoba menembus pertahanan Liverpool.

Inilah yang membuat saya sangat menyukai Liverpool. Tim ini selalu meraih kemenangan dengan cara yang tidak biasa. Tidak dengan sekedar mendatangkan pemain bintang dengan harga mahal. Tidak dengan sekedar memanfaatkan pemain-pemain dengan skill ajaib yang kemudian mencetak gol yang sedikit diluar akal sehat. Tidak sekedar dengan membuat satu skema permainan brilian yang tidak bisa disentuh lawan. Namun dengan sesuatu yang menjadi tugas utama manusia hidup di bumi setelah beribadah kepada tuhan, berjuang. Final Liga Champions 2005, Final Piala FA 2006, serta Final Piala Carling 2012 adalah tiga pertandingan yang tidak mungkin hilang dari benak saya yang membuat saya semakin menyukai Liverpool. Tim ini selalu mengajarkan saya untuk terus berjuang meski ditengah-tengah hujatan dari berbagai pihak. Suatu pelajaran yang kemudian berlanjut ke mimpi saya yang paling liar untuk bisa memberikan kontribusi nyata bagi tim ini.

Yah apapun itu, ini adalah malam terindah dalam 5 tahun terakhir saya. Saya hanya ingin sedikit berpesan untuk sebaiknya kembali berfikir ulang bagi orang-orang yang mengatakan “You’ll never win again,” karena faktanya kami menang malam ini. Saya yakin penantian Trophy Premiership pertama bagi Liverpool akan segera berakhir dalam waktu dekat ini. Selamat untuk semua pendukung Liverpool dimana pun berada. Selamat berorgasme bagi semua pemain dan staf tim Liverpool. Khusus untuk 2 tokoh utama tulisan ini, Dirk Kuyt dan Lucas Leiva, terimakasih untuk pelajaran hidupnya.

 



Bookmark and Share




Previous Post
Sejarah Liverpool FC.
Next Post
Another Final & Another Trophy







3 Comments

Mar 16, 2012

sumpah merinding baca nya.. sepakat tentang lucas, saya ingat ketika jaman rafa, berkali-kali heran kenapa rafa membuat blunder dengan transfer lucas?? dan saya ingat betul ketika lucas main dan dia punya peluang shot on goal ketika ada rebound dari hasil corner dan dia menendang sekeras mungkin dan jauuuhhh dari sasaran.. ketika itu saya bilang bahwa dia tidak pantas berada di LFC tendangan nya pun masih bagus agger (padahal agger bek), tapi sekarang?? kita benar-benar merindukan dia dan sepakat bahwa kita membutuhkan nya..

dan haha, saya melakukan hal yg sama di FM karna saya menjual Kuyt secepat mungkin, tapi in real life saya bener-bener khawatir tentang isu transfer Kuyt ke inter pas winter kemaren.. we do love KUYT!!!

#YNWA

@Yogie_Ramdhani


Jun 16, 2012

Abi, tulisan lo menginspirasi. 🙂


Sep 16, 2012

Jadi kangen dirk kuyt :'( kangen ngeliat kegigihannya dia bermain,kangen ngeliat semangatnya..pun sama dengan lucas gw juga inget banget awal2 dia dtg,dgn rambut gondrongnya gw sering ngetawain dan ngeledek “pemain macam apa ini?” ,mungkin bukan hanya gw yg berfikir seperti tapi liverpudlian lainnya jg berpendapat demikian. But then lucas bisa ngebungkam semua omongan itu,dan sekarang semua liverpudlian sepakat, lucas adalah pemain vital untuk LFC.. get well very soon lucas and kuyt, I miss you so damn much :'( good luck and thx for d insipiration #YNWA



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Sejarah Liverpool FC.
Oleh: Soni Mohammad. “we are reds , not devil. YNWA! “ Sekilas Liverpool Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai...