Artikel / September 9, 2013

Liverpool Aren’t Shite

Sebuah counter artikel dari @takur_singh atas tulisan bergaya sarcasm “Liverpool Are Shite” dari Yorke. Tulisan ini telah diijinkan oleh penulis untuk di saling ulang dari artikel asli dari halaman web ini. (red)

Seperti kebanyakan yang saya lakukan dalam rutinitas akhir pekan, saya selalu mencoba menyempatkan diri untuk membaca dan mengupdate informasi seputar sepakbola khususnya tim favorit saya yaitu Liverpool FC. Dari beberapa berita dan artikel yang saya baca, ada sebuah tulisan menarik (dan bahkan cenderung lucu) dari sebuah web atau blog yang berjudul  ”Liverpool are shite”. Saya sengaja tidak menyertakan link web tersebut karena memang tulisan tersebut….lucu.

Ditengah-tengah euforia keberhasilan Liverpool mengalahkan Manchester United dengan skor tipis 1-0 minggu lalu, ternyata masih saja ada (beberapa) fans yang nyinyir dengan perolehan tersebut. Ya, salah satunya adalah tulisan yang bertajuk “Liverpool Are Shite” tersebut.

Dalam tulisan tersebut dibicarakan bagaimana Liverpool bermain dengan buruk, bermain negative football, bahkan dikatakan disitu Brendan Rodgers sebagai pembual karena menjanjikan tiki-taka tapi prakteknya “memarkir bus” di area pertahanan sendiri. Sang penulis juga membawa-bawa fans di Anfield sana yang diasumsikan merasakan kekecewaan yang sama dengan dirinya melihat penampilan Liverpool sore itu. Tak hanya scousers, para pendukung Liverpool di Indonesia pun tak luput dipinjam namanya untuk mengamini kekecewaan sang penulis. Masih banyak explicit content lain yang tertulis disitu sehingga saya rasa tidak layak saya sertakan linknya dalam blog saya  ini.

Mari kita  kilas balik kepada kiprah LFC dalam beberapa waktu silam, maka dengan begitu kita akan mendapati Liverpool FC adalah sebuah klub yang dapat dianalogikan sebagai seseorang yang sedang bingung menghadapi pasangannya yang labil. Banyak maunya.

 

Inkonsistensi

Masih sedikit segar dalam ingatan musim 2008/2009 sebagai musim dimana harapan untuk menjuarai Liga Inggris sangat besar. Liverpool dibawah asuhan Rafael Benitez sangat trengginas dalam mencetak gol untuk mengalahkan lawan-lawannya. Manchester United terjungkal di Anfield dengan skor 2-1, dan harus menanggung malu ketika dihajar di Old Trafford dengan skor menawan 4-1. Tak hanya itu, Real Madrid juga harus tersingkir dari UCL menanggung malu dengan skor agregat 5-0. Namun, harapan itu seola sirna ketika musim pertandingan memasuki bulan Januari – Februari. Dari 7 pertandingan Liga Inggris, Liverpool hanya mampu menang 2 kali yaitu melawan Chelsea (2-0) dan Portsmouth (3-2), 4 kali seri, dan harus rela dihantam Middlesborough di Riverside Stadium.

Hasil pada bulan Januari – Februari tersebut, paling tidak menurut beberapa fans, menjadi salah satu faktor gagalnya Liverpool merengkuh mahkota juara Liga Inggris yang sudah lama didambakan dan harus puas dengan bertengger pada peringkat kedua dibawah Manchester United dengan selisih 4 poin. Inkonsistensi. Kata itulah yang sangat akrab di telinga pada masa itu. Beberapa fans juga berharap dan berandai-andai jika saja gol-gol di gawang LFC bisa disubsidi silang, pasti hasil akhir akan berbeda. Dengan kata lain, tak peduli berapa gol yang tercipta asal bisa menang pasti musim tersebut Liga Inggris menjadi milik Liverpool.

Harapan tersebut dikabulkan, paling tidak, pada awal musim ini. Melalui 3 gol dari 3 pertandingan dan belum pernah kebobolan satu biji gol-pun Liverpool bisa dengan nyaman, paling tidak sampai gameweek ketiga ini, untuk berada dalam posisi puncak klasemen Liga Inggris dengan selisih dua poin dari pesaing terdekatnya Chelsea dan selisih 5 poin dari Manchester United dengan game played yang sama. Sesuatu yang pantas mendapatkan apresiasi. Namun, masih saja ada yang nyinyir. Tak tahu diuntung.

 

Player Signing

Akhir-akhir ini seringkali terdengar istilah “Marquee Signing” atau “Marquee Player”. Ya, terjadi diskusi menarik di web, sosial media, maupun forum dengan topik Liverpool yang tidak melakukan marquee  signing atau tidak merekrut marquee player. Marquee signing mungkin bisa diibaratkan seperti LFC yang merekrut Torres atau Suarez. Marquee player, pemain dengan skill mumpuni, popularitas yang mendunia dan juga bisa diibaratkan juga pemain muda yang menjanjikan atau dalam istilah Football Manager adalah wonderkid.

Bagi saya pribadi, peduli setan dengan marquee signing atau marquee player. Selama pelatih bisa mendapatkan pemain yang dia suka dan dirasa sesuai dengan kebutuhan, it’s fine for me.

Tak banyak yang kenal Michu sebelum bermain untuk Swansea, apakah waktu itu Michu adalah marquee player? big no sampai para pemain fantasy manager menjadikan dia penambang poin dalam skuad fantasy premier league-nya musim lalu. Siapa Phillipe Coutinho sebelum januari 2013 direkrut LFC? hanya seorang pemain muda Inter Milan yang dipinjamkan ke Espanyol. Namun sekarang Phillipe Coutinho yang berharga 8,5 juta poundsterling pada januari silam sudah menjadi bagian penting dari lini tengah Liverpool bersama dengan sang kapten fantastik Steven Gerrard. Daniel Sturridge? Benchwarmer Chelsea yang membuat Torres seharga 50 juta poundsterling tertunduk malu melalui ritual goyangannya setelah dia cetak gol. A bargain signing of today might just be the marquee player of tomorrow. 

Saya lebih memilih pemain yang  bangga dan memiliki passion memakai jersey Liverpool ketimbang pemain tenar yang menjadikan Liverpool sebagai batu loncatan untuk menaikkan harga jual merekaApalagi pemain tenar berskill brilian dengan saldo gol yang gemuk namun membuat seorang pelatih kena pecat dan semusim sesudahnya merengek-rengek ingin hengkang karena klub yang dibelanya tak juga lolos ke UCL.

Pepe Reina, Xabi Alonso, dan Luis Garcia tak banyak diperbincangkan. Rafa membawa mereka ke Melwood, dan sampai sekarang mereka masih dicintai oleh pendukung Liverpool walaupun sekarang sudah tak merumput di Anfield. Karena apa? Karena passion mereka. Kecintaan terhadap klub walaupun mereka sudah tak bermain di Liverpool.

 

Summary

Mau beli marquee player? tau diri donk bargain power LFC itu apa? Lolos UCL juga enggak.

Beli pemain mahal? tar kalo jadi transfer-flop pasti pelatih atau manajemen disalahin.

Beli pemain murah? Dituduh pelit, tambah salah lagi. Maunya apa?

Liverpool kini bimbang menghadapi beberapa pendukung yang labil dan banyak maunya. Disatu sisi ingin menampilkan permainan atraktif, namun akan mengecewakan jika hasil buruk menyertai. Di sisi lain ingin mengamankan 3 poin, masih aja kena damprat kalo cuma menang tipis dan maen gak sesuai ekspektasi. Didalam kebimbangannya itu, ada hasrat dalam diri Liverpool untuk berbenah. Ada upaya untuk menghasilkan progress yang signifikan. Ya, sebuah keinginan untuk memuaskan kita, para pendukung Liverpool.

Dalam kegelisahan dan kebimbangannya tersebut Liverpool berujar lirih, “Trust me my friends, I ain’t shite.”



Bookmark and Share




Previous Post
Liverpool Are Shite
Next Post
Yes, Liverpool Aren't Shite. Sarcasm is.







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Liverpool Are Shite
PERINGATAN: Tulisan ini mengandung sarkasme tinggat tinggi. Harap cerna dengan baik saat membaca. (red) Kemenangan dengan...