Artikel / Feature / September 4, 2013

Liverpool Memaksa Fans untuk “Berharap”

fans2

Lelah adalah kata yang tepat untuk seluruh fans Liverpool. Tampil klimaks sebagai medioker sejak musim 2009-10 hingga 2012-13 lalu, The Reds seperti siput yang menonton cheetah.

Cheetah disini adalah Tottenham Hotspur dan Everton yang mendadak bisa tampil berkembang, membeli pemain-pemain berkelas dan paling utama, finis di atas Liverpool dalam dua musim terakhir.

Awal musim selalu jadi awal harapan seluruh fans untuk melihat timnya melakukan start dengan baik. Sesuatu yang jarang dilakukan Liverpool pada tiga tahun terakhir. Karena itu, saya pribadi awalnya tak berharap banyak dengan The Reds saat ini.

Perspektif ironis muncul ketika Tottenham bisa-bisanya membeli pemain seperti Erik Lamela, Christian Eriksen, hingga Roberto Soldado. Jika ingin dibandingkan dengan pemain baru Liverpool yang memiliki posisi yang sama, adalah Victor Moses, Luis Alberto, dan Iago Aspas. Perbedaan kualitas? Jelas. Bukan kritikan kepada manajemen, tapi posisi Liverpool yang kurang nyaman membuat (mungkin) kita hanya bisa mendatangkan pemain-pemain ini.

The Reds saat ini lebih memilih mendatangkan pemain yang dianggap bisa membuat skuad semakin dalam. Bertahannya Luis Suarez, Daniel Agger (yang mungkin hijrah Januari karena kedatangan Mamadou Sakho), dan Martin Skrtel, sudah cukup menyenangkan. Smart Move dengan mendatangkan delapan pemain anyar juga menarik.

Maaf, membicarakan transfer pemain memang selalu menarik dan sulit dihentikan. Kembali ke topik. Tak ada harapan muluk-muluk dari saya pribadi untuk Liverpool musim ini pada awalnya.

Bisa finis di peringkat enam dan memperlihatkan progres dari dua musim ke belakang rasanya sudah cukup. Mediokeritas Tanpa Batas memaksa saya untuk menurunkan ekspektasi yang sekarang seperti hukum alam bagi fans.

Sayang seribu sayang, Liverpool tanpa diduga mengawali musim dengan sangat baik. Berhasil menang tiga kali beruntun memecahkan rekor The Reds yang tak pernah melakukan hal tersebut sejak 1994, dimana saat itu saya baru berusia empat tahun.

Euforia kesiangan pun muncul ketika The Reds belum juga kebobolan dan menjadi satu-satunya tim yang belum kemasukan di Premier League hingga League Two (Divisi 3 Liga Inggris), dan berhasil memimpin klasemen setidaknya hingga dua minggu ke depan.

Liverpool memberikan harapan kepada seluruh fans akan prestasi musim ini. Entah harapan nyata atau harapan palsu. Saya sendiri ogah jemawa melihat Liverpool masih memiliki 35 laga lagi. Manajer Brendan Rodgers mengatakan bahwa masih banyak pe-er untuk anak asuhnya terkait gaya bermain. Melihat filosofi pragmatis The Reds pada semua babak kedua pada tiga laga Premier League yang membuat jantung kita menghentak untuk keluar terus menerus jelas tidak baik.

Terlepas dari itu, Liverpool memperlihatkan mental yang luar biasa, sesuatu yang tidak dimiliki dalam beberapa tahun terakhir. Mereka ingin meyakinkan para fans bahwa Liverpool adalah tim besar yang bisa bersaing. Liverpool menampar semua sindiran dan nyiyiran yang ironisnya datang dari fans mereka sendiri, terkait berbagai hal negatif belakangan ini. So, jangan bohong jika angan-angan untuk angkat trofi ke-19 itu beterbangan bebas di kepala kalian, lads and lasses!



Bookmark and Share




Previous Post
[Ulasan] Pergerakan transfer LFC di jendela musim panas 2013-2014
Next Post
Jangan Mengulang Musim Lalu







2 Comments

Sep 04, 2013

pd transfer musim panas ini, saya kecewa dengan pembelian aspas, dan gagalnya menggaet henrikh mkhtaryan, namun saya senang dgn pmbelian mignolet, toure, sakho,alberto, LFC juga bisa mempertahankan suarez

untuk musim ini, saya hanya blum yakin apa LFC performanya akn konsisten ? alasannya adalah pemain pengganti yg masih pemain muda

contoh wisdom yg menggantikan glenJo yg cedera, sangat baik dalam bertahan, tpi untuk menyerang wisdom masih kebingungan


Dec 22, 2013

The reds memang hobi bkin fans penasaran, dan itu justru sebuah kenikmatan mendukung tim ini. Semoga saja ada kado indah di akhir musim atas penampilan apik mereka sejauh inh



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
[Ulasan] Pergerakan transfer LFC di jendela musim panas 2013-2014
Di transfer window musim panas yang lalu saya membuat artikel yang mengkritik kebijakan transfer FSG. Kenapa FSG? karena...