Artikel / Feature / Lain lain / December 2, 2012

LUCAS LEIVA: THE RETURN OF THE MIDFIELD BOSS

*** tulisan berikut adalah sumbangan dari @ryswanto , kritik dan diskusi mengenai isi artikel, bisa disampaikan langsung lewat fitur komen di bawah, atau kontak langsung via akun twitter penulis ***

 

Senyum bahagia, ada di berbagai bentuk bibir milik jutaan supporter Liverpool, saat melihat salah satu idola nya sudah bisa kembali bermain. Lucas Leiva, sosok yang pernah menerima cercaan dan makian,dianggap tidak layak mengenakan seragam merah dengan Liverbird di dada kiri. Namun dengan kematangan, mental yang kuat, bisa membalikkan anggapan tersebut.

2011/2012, tepatnya 29 November 2011 cidera yang dia alami saat melawan Chelsea di Carling Cup, dinilai menjadi titik balik, merosot tajam nya performa tim di paruh kedua musim tersebut. Yang akhirnya juga sedikit banyak “berakibat” lengsernya Kenny Dalglish.

*****

Setelah sempat bermain dalam 2 game awal musim ini, nasib buruk masih menaungi  Lucas, cedera saat tampil melawan ManCity, berakibat pada “diperpanjang” nya masa rehabilitasi dan penyembuhannya, hingga, tadi malam.

Penampilannya kemarin melawan Southampton, buat saya pribadi merupakan sebuah titik cerah untuk banyak pihak. Rodgers, Gerrard, midfield three, lini pertahanan, juga Jordan Henderson. Selain itu, diukur dari penampilannya (OK, saya tau, ini “hanya” melawan Southampton) semalem, berdasar statistik, sudah cukup mencengangkan untuk ukuran pemain yang baru bermain lagi setelah lama cidera.

108x menyentuh bola, 40 diantaranya di daerah lawan. Melakukan 88 kali passing, dengan akurasi 86.4% , 23x di antaranya di daerah lawan, 6x nya di daerah pertahanan lawan dan mengkreasi satu peluang. Peran nya sebagai metronome, pengatur, penyeimbang lini tengah dan orang yang memulai aliran bola, sangat terlihat jelas, karena dari jumlah sentuhan pada bola (touches) , passing malam tadi, Lucas menjadi yang terbanyak dibanding pemain lainnya. Penyeimbang? Yaa, karena perannya dalam memutus serangan, menjadi filter aliran bola lawan sebelum memasuki daerah pertahanan LFC, juga sangat tergambar jelas, dengan bukti 8 tekel sukses, memenangkan 4 dari total 4 aerial duel, 9 recovery ball, dan 1 clearance.

Tapi bukankah peran itu bisa dilakoni Allen dengan baik? Tunggu, kita tengok bahasan selanjutnya

*****

THE RETURN OF LUCAS LEIVA : END OF MIDFIELD THREE DILEMMA

Pada awal menjabat sebagai  manager LFC, Rodgers menyampaikan sedikit tentang pakem dari system permainan yang akan dia bangun di LFC. Tiki-taka, pass and move atau apalah orang menyebutnya. Dan disana, dia menyebut bahwa lini tengah adalah inti / core daripada system tersebut. Lini tengah pada system ini, dihuni oleh 3 pemain tengah yang mempunyai spesialisasi. Satu orang dengan kemampuan defensive, game read, yang bertugas menjadi pemutus serangan, dan langsung me-recycle bola. Satu orang yang bisa mengatur bola dari bawah, punya game read bagus, sehingga pada saat dibutuhkan untuk bantu bertahan, dia juga bisa melakoni. Dan satu orang attacking midfield, yang bisa mengkreasi peluang untuk 3 pemain depan, membuka ruang untuk dirinya sendiri, dan muncul dari 2nd line saat dibutuhkan. Assessment Rodgers pada squad LFC saat itu, 2 pemain sudah ada. Lucas dan Gerrard, dan guna melengkapi nya, didatangkanlah Joe Allen.

Tidak beruntung, Lucas yang diharapkan awal musim sudah bisa pulih dari cidera, malah kembali mengalami cidera serius setelah baru bermain 2 game. Kondisi ini yang memaksa Rodgers untuk melakukan improvisasi di saat dia mengimplementasikan pakem permainan yang baru. Dan parahnya, improvisasi, eksperimen ini, harus dia lakukan di area yang jadi pusat dari skema idamannya. Midfield.

Allen kemudian di plot mengisi posisi Lucas, anak muda ini mempunyai kemampuan yang hampir mendekati Lucas, kecuali  satu atribut. Aerial duel. Tapi, bukan ini yang jadi masalah utama. Lihat bagaimana Rodgers seringkali mengganti-ganti 2 midfielder lain dalam midfield three tersebut.

Dalam catatan saya, ada 12 komposisi midfield three yang berbeda dalam semua kompetisi (20 matches), pasca cedera nya Lucas. Dimana paling sering adalah komposisi Allen – Sahin – Gerrard. Dengan variasi yang berimbang, antara Gerrard sejajar dengan Allen, atau Sahin yang sejajar Allen.

Jika hanya melihat pada nama besar, Gerrard – Sahin, maka sebenarnya tidak akan ada masalah. Akan tetapi ternyata, ada banyak problem lain yang muncul. Gerrard, meski berstatus World Class Player, dianggap dan dinilai oleh banyak pengamat, tidak punya game discipline yang bagus saat bermain lebih ke dalam di area tengah lapangan. Naluri sebagai seorang attacking midfielder tersebut masih ada, di usianya yang tak lagi muda. Juga aspek lain, sudah terlalu lama menjadi pemecah kebuntuan untuk Liverpool. Konsekwensi dari ini semua, Gerrard sering meninggalkan daerahnya, merengsek kedepan. Meninggalkan Allen sendirian. Melakukan tugas 2 orang.

Akibat lainnya adalah, terputusnya supply killer pass untuk lini serang. Harus diakui, Gerrard ini mempunyai kelebihan dalam membuka ruang, mengkreasi serangan dengan umpan-umpan cantik untuk para penyerang, atau tiba-tiba menciptakan peluang untuk dirinya sendiri. Bang ! Pile driver!

Pada saat Gerrard harus bermain lebih ke dalam itu, Sahin diplot menjadi pemain nomor 10. On top of midfield triangle. Bermain dibelakang (lebih dekat) ke striker. Lawan Norwich, adalah contoh berjalan baiknya skema ini. Sahin, saat mengarsiteki lini tengah Dortmund saat menjadi kampiun Bundesliga, bermain di posisi ini. Seharusnya tidak jadi masalah. Ya tidak akan jadi masalah andai saja, Allen tidak bekerja sendirian di belakangnya. Juga, andai saja Sahin sudah benar-benar mencapai fitness level yang sudah sesuai dibutuhkan di iklim Premier League. Minim jam bermain, ditambah cedera panjang saat di Madrid, memunculkan problema tersendiri.

Kompisisi ini diharapkan ideal, selama absen nya Lucas. Nyatanya tidak. Dengan segala masalah di atas tadi, Rodgers kepikiran untuk mencoba Allen berpasangan dengan Sahin. Dan memberikan peran aslinya Gerrard sebagai Center Attacking Midfield. Akan tetapi, saat harus bermain lebih ke dalam, Sahin dianggap tidak cukup memiliki kemampuan defensive yang cukup untuk meringankan beban Allen.

Eksperimen Rodgers tidak cukup sampai di sini, Hendo dalam beberapa match dicoba untuk berpasangan dengan Allen, untuk  menopang kerja Gerrard. Sayangnya, seperti banyak dibicarakan orang, bahwa Hendo masih berperang dengan krisis percaya diri nya. Bandrol harga tinggi yang melekat saat kedatangannya ke LFC, jarang bermain di posisi idealnya (CM) selama musim pertamanya bersama LFC, serta mungkin kritik dari fans yang akhirnya membuat Hendo, belum bisa menemukan permainan terbaiknya. Namun dalam beberapa game ini, sudah cukup ada peningkatan pada permainan Hendo saat harus bekerja membantu Allen, dan semalam, cukup taktis saat membantu Lucas.

Jonjo juga jadi alternative lain mengisi midfield three nya Rodgers ini. Saat bermain di posisi lebih advance, Jonjo masih belum bijak dalam pengambilan keputusan, meski punya insting untuk mencetak gol. Sementara saat dimainkan lebih ke dalam, defensive aspect nya tidak cukup bagus, sehingga kalo tidak kehilangan bola, salah passing atau tekel jorok di area tengah permainan.

Kembalinya Lucas, jelas akan membuat Rodgers tak harus melanjutkan eksperimen nya atas midfield three tersebut. Lucas-Allen, kalaupun harus coba-coba tinggal mencoba mengganti Gerrard dengan Jonjo, Sahin atau bahkan Suso. Dengan kondisi ini pula, diharapkan system dan pakem yang dia inginkan segera terbentuk. Paling tidak ini akan jadi end of midfield selection dilemma. Long term (atau mungkin Januari) solution nya ? Defensive midfielder, cover untuk Lucas.

Disamping itu, center midfielder lain seperti Sahin, Hendo, Jonjo atau bahkan Suso, tak lagi merasa jadi “pemain percobaan” dan bisa fokus  dan belajar dari “senior” untuk melakoni peran yang sesuai dengan attribute mereka. Jonjo backup untuk Gerrard, Hendo dan Sahin bisa berfikir dan bersiap mengisi pos Lucas / Allen.

WECOMEBACK BOSS !

THE RETURN OF LUCAS LEIVA : STRONG SHIELD OF DEFENSIVE LINE

Dengan keberadaan 2 orang yang punya kemampuan membaca permainan, tekel, intersep yang sama bagusnya, pada diri  Lucas – Allen, jelas lini pertahanan kita terlihat lebih pede. Jikapun di depan lini pertahanan hanya menyisakan Lucas, Skrtel – Agger pun masih tetap akan tenang.

High defensive line yang diterapkan dalam skema Rodgers, sejauh ini berjalan cukup baik jika hanya melihat pada jumlah tembakan lawan ke gawang LFC. Dimana tembakan dari dalam kotak 16, LFC menempati urutan ke-2 paling sedikit, yaitu hanya 85 kali. Sementara tembakan dari luar yang mengarah ke gawang, LFC menempati urutan 4, yaitu 100 kali.

Akan tetapi angka-angka tersebut tidaklah sah lagi sebagai pernyataan bahwa lini pertahanan  sudah bekerja maksimal, ketika melihat total gol yang bersarang ke gawang LFC di seluruh turnamen. Sejauh ingatan saya (belum coba saya cari statistic tipe gol tersebut) , lebih banyak didominasi oleh long shot, dan juga gol yang berawal dari counter attack. Mungkin ada yang bisa bantu mencarikan catatan type gol yg diderita LFC sejauh ini.

Keberadaan Lucas, saya pikir akan mengurangi angka upaya tembakan dari luar kotak oleh lawan, mengurangi jumlah pelanggaran yang dapat berakibat freekick di area berbahaya, serta terputusnya serangan balik lawan. Lucas, master di bidang ini.

Saya pernah menuliskan sedikit saduran artikel dari blog luar, tentang pentingnya Lucas Leiva untuk Liverpool FC di @Walkonmagz nya BIGREDS, sayangnya link ke blog tersebut sedang in-active. Buat yang udah baca, mungkin melihat tetang statistic Lucas yang menjadi top tackler musim lalu, jika melihat pada statistic 12 game keikutsertaannya. Dan potensi total tackling, intercept dan ball recovery andai saja Lucas tidak cedera.

*****

Kondisi positif lain yang mungkin akan bisa terjadi dengan kembalinya Lucas, adalah potensi meningkatnya gol ratio. Karena apa? Kembalinya Gerrard pada posisi nya. Center Attacking Midfield, number 10 role, supplier killer pass untuk Suarez, juga kemungkinan shoting ala Gerrard yang akan kita lihat lagi dalam waktu dekat.

Hal minor lain adalah yang akan improve dengan kembalinya Lucas, Henderson. Saya pribadi, tetap punya keyakinan bahwa anak ini suatu saat nanti akan bisa jadi pemain bagus. Dalam interview terakhirnya, dia mengisahkan bagaimana Lucas juga memberikan input ke Hendo. Paling tidak hal tersebut menggambarkan cukup dekatnya Hendo dengan Lucas, sehingga advise dari Lucas semoga bisa diterapkan oleh Hendo dalam permainannya. Selain itu, dengan adanya kedekatan itu, gambaran bahwa Hendo mau menjadikan Lucas sebagai role model, teknis maupun mental. Hendo bisa belajar bagaimana jadi pemain yang menerima cerca cela, dikambinghitam kan, lalu proses menjadikannya pemain yang dirindukan dan penting peran nya, saat absen. Seperti Lucas.

WELCOME BACK, BOSS !



Bookmark and Share




Previous Post
Menang! Biar Tenang (Non Taktikal Preview vs ManUtd)
Next Post
STERLING - CONTRACT







1 Comment

Dec 04, 2012

Artikel mantap !!!
analisisnya ngeriii broo

yg jd harapan smoga saja Hendo bisa belajar bagaimana jadi pemain yang menerima cerca cela, dikambinghitam kan, lalu proses menjadikannya pemain yang dirindukan dan penting peran nya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Menang! Biar Tenang (Non Taktikal Preview vs ManUtd)
North West derby Pertemuan dengan Manchester United memang selalu panas, dan menjadi pusat perhatian. Terbukti saat Oktober...