Artikel / Feature / Lain lain / January 16, 2014

Makin Dalam, Gerrard!

“The manager told me that moving forward I’ll be playing this role a lot more. It’s going to take a bit of getting used to it. I’ll be comfortable in there once I get used to it.”

Steven Gerrard menjalani peran sebagai holding midfielder adalah hal lain yang menarik dari pertandingan melawan Stoke akhir pekan lalu, selain skor akhir 3-5 dan jalannya pertandingan itu sendiri. Gerrard dalam wawancara pasca pertandingan menyatakan bahwa hal tersebut adalah instruksi dari Brendan Rodgers. Dalam wawancara terpisah, juga sesaat setelah pertandingan Rodgers mengkonfirmasi rencana ini.

Gerradstoke

***

Berterimakasihlah kepada Tuhan anda, karena Gerrard dilahirkan untuk lalu bermain bagi Liverpool FC, bukan untuk Everton atau Manchester United atau klub lain di bawah langit ini, apapun itu namanya. Berterimakasih lah lagi, karena Gerrard dibekali dengan bakat dan kemampuan luar biasa sehingga menjadi pemain serba bisa.

Andai saja ada yang berani mencoba menempatkan Gerrard sebagai kiper, mungkin tidak ada nama Jerzy Dudek dalam deretan pahlawan Liverpool di Istanbul. Bisa jadi Gerrard yang akan melakukan double saves tendangan Shevchenko juga menggagalkan sepakannya dari titik putih.

Steven George Gerrard, memang selalu tampil menawan dimanapun dia dimainkan. Debutnya, 29 November 1998 melawan Blackburn, Gerrard menempati posisi bek kanan, menggantikan Vegard Heggem. Selanjutnya, dalam perjalanan karirnya, berbagai posisi sudah ditempati dan dilakoninya.

Jadi, jangan terlalu kaget jika sekarang Gerrard diminta menjalankan peran defensif, sama seperti jangan terlalu kaget membaca tweet nya Nikita Mirzani tentang “be passion” kemarin. Coba anda ingat lagi, ketika menjadi regular starter di musim kedua nya bersama Liverpool, Gerrard mengemban tugas sebagai defensive midfielder, mendampingi Redknapp yang menjadi dirigen serangan Liverpool kala itu.

GerrardDalam pertandingan melawan Stoke, ada pertimbangan taktik yang menurut saya masuk akal. Saya menyebutnya Tai-Chi ala Rodgers. Mengalahkan lawan dengan memanfaatkan kekuatan maksimal mereka sendiri.

Stoke adalah Stoke. Hadirnya Mark Hughes, di mata saya hanya mengubah cara mereka membangun serangan. Direct football yang dikombinasikan dengan gaya old school sepakbola Inggris, wings play. Dalam hal bertahan dan memutus serangan lawan, mereka masih menerapkan ilmu nya Pulis.

Kemenangan adalah harga mati untuk LFC dalam pertandingan kemarin, karena kompetitor meraih kemenangan di hari sebelumnya. Fakta lain bahwa Liverpool tidak pernah menang di Britannia di kancah Premier League sejak 1984, menambah semangat Rodgers untuk membuat rekor lain sekaligus menjaga peluang tetap di jalur empat besar.

Demi meraih target tersebut, Rodgers mengadopsi cara bermain Stoke. Memutus serangan lawan di luar area 16, untuk kemudian melancarkan serangan balik cepat, mengandalkan bola panjang, memanfaatkan kecepatan Sterling ataupun kecerdikan Suarez. Ini dibuktikan dengan tidak nampaknya dominasi possession football yang biasa diperagakan Liverpool. Stoke unggul 2% dengan menguasai 51% possession dibanding Liverpool yang hanya 40%

Untuk melakoni ini, maka ditukarlah tempat Lucas dengan Gerrard. Sang Kapten lebih superior dalam membaca permainan, visi menyerang serta variasi dan akurasi umpan. Rodgers berharap kemampuan Gerrard ini akan menjadi kunci keberhasilan pertandingan malam itu. Sebelumnya, Rodgers sudah melakukan uji coba penempatan Gerrard sebagai holding midfielder, saat melawan Oldham di FA Cup. Hanya di babak pertama Gerrard bermain di posisi itu, dan dikembalikan ke posisi yang lebih advance karena Liverpool saat itu menemui kebuntuan.

Gerrarddashboardstoke

Pada sebuah wawancara di tahun 2008,  Gerrard menyatakan bahwa dirinya merasa lebih cocok sebagai pemain bertahan, lebih senang melakukan tekel penting, ketimbang menjadi otak serangan.

Jadi meski bukan hal baru buat Gerrard, akan tetapi peran tersebut sudah 15 tahun tidak dia jalani secara kontinyu(Oh, tunggu, Roy Hodgson, secara cerdas pernah menempatkan Gerrard dalam peran ini untuk Timnas Inggris). Untuk itulah, seperti yang dia sebut,  dirinya butuh penyesuaian.

Dari dashboard di atas, bisa kita lihat. Gerrard yang masih dalam “penyesuaian” sangat imperesif dilihat dari statistik defense nya. Memenangkan 80% tackle (4/5), melakukan 16 ball recoveries dan 2 shots block, tertinggi di antara seluruh pemain malam itu. Melakukan 8 clearance, tertinggi dari pemain non bek.  Memenangi 2 dari 4 kali duel udara, melakukan 2 interception.

Sebagai pengatur serangan, kali ini Gerrard memiliki catatan di bawah standarnya sendiri dalam hal akurasi passing. Hanya 75.9% (44/58). Rendahnya angka passing success ini karena Gerrard mencoba banyak long ball. 13 dari 58 total passing yang dia lakukan adalah long ball, dan hanya 4 yang sukses.

Adalah manusia, selalu lebih suka melihat dan membahas kesalahan orang lain, ketimbang hal hal baik yang dilakukan orang lain tersebut. Gol Adam dan Walters, banyak yang menyebut berawal dari kesalahan Gerrard.  Tapi adakah yang menyebut kontribusi Gerrard pada pergerakan Sterling yang berujung penalty dan juga proses gol ke-2 Suarez? Keduanya dimulai dengan breaking move dari kaki Gerrard.

Karena masa penyesuaian maka 2 gol lawan yang disebut berawal dari kesalahan Gerrard, adalah sesuatu yang harus dimaklumi, begitu juga dua gol Liverpool. Bukankah sudah seringkali Gerrard melakukan hal seperti itu, apapun peran yang dilakoninya?

Keberadaan Gerrard yang jadi lebih dekat dengan center back, diharapkan bisa lebih commanding dalam mengatur pertahanan. Jika kita lihat lagi, lini pertahanan adalah yang paling sering mengalami perubahan komposisi musim ini, akibat cedera yang silih berganti menimpa para bek. Butuh sosok karismatis untuk mengkomando lini tersebut.

Saya tetap beranggapan bahwa ide menempatkan Gerrard sebagai holding midfielder ini, akan jadi sebuah perjudian besar jika memang sifatnya long term. Melawan tim-tim yang punya gelandang mobile dan agile, Liverpool akan diacak-acak jika Gerrard tetap di posisi itu.

Selain uraian taktikal di atas, fitness  menjadi pertimbangan lain. Menempatkan Gerrard di bagian paling bawah dalam “the flipped triangle” akan sedikit mengurangi kerja nya. Ada Hendo dan Lucas, yang bagaimanapun karena faktor usia, memiliki stamina lebih prima dan otot kaki yang masih lebih bugar. Keduanya diharapkan bisa melindungi, meminimalisir kerja bertahan Gerrard dengan pressing lebih awal di daerah lawan. Ini juga otomatis akan membuka ruang lebih lebar untuk Gerrard bekerja mengatur serangan dari bawah.

Jika diperluas lagi, peran baru Gerrard ini juga akan membawa pengaruh pada Lucas. Meski pada saat direkrut Benitez di 2007, Lucas adalah tipe box to box midfielder, lagi-lagi peran itu sudah lama tidak dia lakoni. Sama halnya seperti Gerrard, butuh penyesuaian. Pasca cederanya, banyak yang menilai Lucas masih belum mencapai level fitness yang sama seperti sebelum cedera. Ini menyebabkan duetnya dengan Gerrard sering dianggap static pivot, immobile.

Dengan diberikan peran lebih ke depan, Rodgers mungkin berharap Lucas dapat membangkitkan lagi bakat asli sebagai box to box midfielder, dan mengembalikan mobilitasnya seperti sebelum cedera. Akan jadi hal lain, ketika nantinya Allen pulih. Jika Gerrard beradaptasi cepat dengan peran barunya, sementara Lucas butuh waktu lebih lama, Allen akan mengambil alih tempatnya di tim inti.

Buat yang tidak terlalu suka dengan teori konspirasi, saya menyarankan untuk berhenti sampai di paragraf ini saja. Atau silahkan baca untuk kemudian menertawakannya bareng tetangga anda. Uraian setelah ini adalah pemikiran pribadi saya tentang peran baru Gerrard dari sudut pandang non teknis atau taktikal.

Sebut saya sebagai orang yang suka berlebihan dalam meng-analisa, overthinking, dan terlalu banyak menonton film Hollywood bertema konspirasi. Tapi buat saya, ada issue lain di balik penempatan Gerrard di posisi holding midfielder ini. Apalagi sampai begitu jelas disampaikan ke publik lewat wawancara Gerrard dan Rodgers.

Dengan kesengajaan membeberkan rencana taktik ke publik, bisa jadi ini adalah mind game nya Rodgers. Lawan-lawan Liverpool berikutnya akan menebak-nebak dan bingung membuat strategi antisipai. Sebuah metode yang sama seperti dilakukan Gerrard dalam otobiografinya yang menyebut bahwa dia selalu mengambil tendangan penalty ke sisi kanan nya (kiri kiper). Anda lupa tentang ini? Silahkan buka kembali buku tersebut. Dan ingat kembali proses eksekusi penalty Gerrard setelahnya. Kiper lawan tetap tidak yakin.

Karir Gerrard tidak akan lama lagi, sederet catatan operasi dan usia yang semakin menua jelas akan segera memaksanya gantung sepatu. Dan di sisa waktu menjalani karirnya, dia ingin kembali ke UCL, sebagaimana harapan kita semua sebagai supporter. Untuk segera mewujudkan ini, Gerrard sepaham dengan Rodgers, Liverpool butuh pemain baru yang berkualitas. Salah satu yang krusial adalah attacking midfield. John W Henry dan FSG beserta jajaran management berpegang pada statistik. Dan dari statistik, Gerrard adalah attacking midfield yang produktif. Apa jadinya ketika attacking midfield paling produktif baik assist, gol maupun key passes dimainkan lebih ke belakang?

Sebuah “sindiran” atau permohonan ke owner, agar segera menyelesaikan negosiasi pembelian pemain di posisi ini, dituntaskan. Demi terwujudnya cita-cita kembali ke Liga Champion.

Bukan suatu kebetulan bukan, jika akhir pekan nanti Henry akan hadir di Anfield? Mungkin pikirannya terbuka dengan sandiwara yang karya Rodgers yang dibintangi Gerrard ini. Sandiwara yang lebih menarik dari serial Being Liverpool.

_64473208_mmrodgerspic

Kemungkinan paling menakutkan adalah, Gerrard yang sadar tak lagi bisa pecicilan menjelajah lapangan, ingin kerja lebih ringan. Sebagai pemain paling senior, anak daerah, dan sekaligus kapten maka mintalah dia ke Rodgers untuk menempati posisi ini, demi kebugaran agar bisa tampil di Piala Dunia. Kesempatan terakhirnya untuk berharap bisa memimpin Inggris melaju sejauh mungkin dalam turnamen empat tahunan tersebut.

Sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan Gerrard? Sudah banyak yang menganggap bahwa lengser nya Rafa, masuknya Hodgson, didatangkannya Joe Cole, ada campur tangan Gerrard sebagai pemain senior (bersama Carra). Player Power.

Terakhir, saat beristirahat di Hotel Mulia, Juli lalu, mungkin Rodgers sempat berbincang dengan petugas hotel. Dalam perbincangan itu, Rodgers mendapatkan pengetahuan tentang tata krama orang Timur saat ingin undur diri selepas menghadap orang penting. Berjalan mundur, dan baru membelakangi setelah mencapai pintu.

Rodgers lalu menerapkannya untuk Gerrard. Dari seorang second striker di era duetnya dengan Torres, lalu menjadi advance center midfield musim lalu. Di awal musim ni, menjadi deep lying playmaker berduet bersama Lucas di lini tengah. Tahun ini, menjadi holding midfielder.

Musim depan, bisa jadi Gerrard menjadi back up bek tengah

Untuk kemudian di akhir musim membalikkan badan, dan undur diri.

 jr030813liverpool-31-5582697

***


Tags:  Allen Brendan Rodgers DM gerrard henderson Hendo Holding Midfielder Joe Allen Jordan Henderson Kapten Lucas Lucas Leiva Rodgers Steven Gerrard Stoke

Bookmark and Share




Previous Post
WTF
Next Post
Ada Apa Dengan Donat



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
WTF
What The Fuck ? Bukan, saya tidak akan menuliskan ratusan kata berisi maki-makian di hari pertama tahun 2014 ini. Meskipun...