Artikel / April 9, 2014

Miracle Is Possible

Dalam perjalanan liburan dua pekan lalu bersama beberapa rekan saya, ada salah seorang yang berujar bahwa inilah saatnya untuk Liverpool FC, jika ingin menjadi juara harus atas usahanya sendiri, mengalahkan semua lawan, termasuk yang terberat sekalipun. Manchester City adalah salah satunya. Melihat pada fakta bagaimana sepak terjang mereka sejauh ini, utamanya lini serang mereka. Juga pada kenangan buruk di Boxing Day lalu, ketika akhirnya kita merosot setelah keok dari mereka dan Chelsea.

Anda sudah menyaksikan film dokumenter nya Jamie Carragher di SkySports yang tayang awal pekan ini? Kebetulan saya menyempatkan diri menontonnya tadi siang, ketika hiruk pikuk pesta politik negeri ini sedang digelar. Dalam film tersebut, Carra mengisahkan mengenai apa yang dia rasakan dan alami saat final Liga Champion 2005 di Istanbul. Salah satu kalimat yang saya ingat adalah “Kita sudah sejauh ini, bagaimana kita sudah melalui masa-masa sulit saat harus berjuang mati-matian melawan Olympiakos, Juventus dan Chelsea”

Kalimat tersebut saya ingat karena kebetulan saya berfikiran yang kurang lebih sama.

Adakah dari anda yang berfikir bahwa kita bisa merajai Eropa tahun 2005 itu? Saya sendiri tidak pernah berfikir dan berharap demikian ketika itu. Ketika itu, Liverpool sedang dalam masa transisi akibat pergantian manager, dari Houlier ke Rafa Benitez. Masa transisi tersebut berdampak pada perubahan skema baku permainan, pemain pun masih dalam tahap menyesuaikan. Kondisi skuad saat itu, juga tidaklah mewah bergelimang bintang.

Kenyataannya, meskipun jungkir balik dalam perjalanannya di liga domestik,  Liverpool cukup digdaya di Eropa. Dan bagi saya, ada salah satu faktor non teknis yang menaungi perjalanan Liverpool di Eropa kala itu, yaitu keajaiban. Kembali saya akan menanyakan, adakah dari anda yang akan mengira jika sosok seperti Sinama Pongolle dan Neil Mellor, pemain yang namanya sekarang tenggelam, menjadi komponen penentu lolos nya Liverpool dari fase grup? Saya juga tidak pernah menyangka, Luis Garcia yang lebih sering membuat kesal dengan trik-trik ajaibnya yang sering gagal, membuat gol indah ke gawang kiper nomor satu dunia ketika itu, Buffon. Dalam pertandingan yang sama, Scott Carson juga melakukan aksi penyelematan gemilang atas sepakan striker kelas wahid bernama Del Piero. Garcia lagi-lagi melakukan sesuatu yang seolah menebus kesalahan trik-triknya olah bola nya musim itu, dengan mencetak gol semata wayang di dua leg semifinal melawan Chelsea. Gol yang membuat Mourinho sakit hati berkepanjangan hingga kini.

Keajaiban. Itu istilah yang saya pakai untuk mewakili semua kejadian tersebut.

vladi

“Miracles Are Possible” – Komentator pertandingan Final UCL 2005, setelah gol ke-2 LFC oleh Smicer

Hingga akhirnya kita lolos ke final menghadapi klub kampiun Eropa enam kali. Setelah sederet “keajaiban kecil” di pertandingan-pertandingan sebelumnya, saat itu saya berkeyakinan bahwa akan ada kejaiban lebih besar di panggung yang lebih besar di Ataturk. Tertinggal tiga gol dari klub berisikan bintang-bintang sepakbola Eropa kala itu, kemudian menyamakan kedudukan dengan mencetak gol dalam kurun waktu 6 menit. Jerzy Dudek yang lebih sering bikin kita geleng-geleng kepala dengan kesalahan elementernya, tiba-tiba menjelma menjadi benteng tangguh di depan gawang. Menutup tiga tendangan jarak dekat dari kaki seorang predator termashur bernama Shevchenko. Setiap kali saya menonton ulang partai final itu, saya juga masih belum mengerti bagaimana Serginho dan Pirlo gagal mengeksekusi penalty. Mata saya juga masih basah, setiap  melihat selebrasi Smicer – sosok pemain yang hampir terlupakan kala itu – juga menjadi salah satu aktor utama di partai final legendaris tersebut.

Kejaiban.

Lalu apa kaitannya dengan harapan kita menjadi kampiun Inggris musim ini? Bagi saya, dalam perjalanan mengarungi kompetisi liga musim ini, ada hal yang identik dengan perjalanan LFC di Eropa tahun 2005 itu.

Brendan Rodgers memang sudah menukangi LFC di musim ke-2 nya, akan tetapi apa yang dia sebut sebagai filosofi sepakbola yang dianutnya belum bisa diterapkan oleh para pemain. Rodgers keluar dari idealisme nya, dan menyesuaikan dengan kemampuan pemain yang dia miliki. Kemudian, jika menilik skuad yang dimiliki banyak yang meragukan LFC akan mampu menandingi Chelsea, Manchester City atau bahkan Spurs. Transisi gaya bermain dan isu materi pemain (depth squad & quality) adalah dua hal yang identik dengan kondisi 2005.

Bagaimana dengan faktor non teknis bernama keajaiban yang saya sebut tadi? Adakah yang identik ? Hmmm, anda jelas tidak akan lupa dengan beberapa hasil akhir pertandingan yang mencengangkan. Membuat tetangga sebelah memohon ampun di Anfield dengan skor 4-0 Kemenangan terbesar Liverpool atas Everton di Anfield yang terakhir di raih pada tahun 1972. Tottenham Hotspur juga tidak diberi angka dan malah harus meratapi nasib yang dengan skuad ratusan juta pounds nya, malah gawangnya dibobol 9 kali tanpa balas dalam dua kali pertemuannya dengan LFC musim ini. Aggregat 9-0 tersebut adalah terbaik dalam sejarah pertemuan melawan Spurs, setelah sebelumnya adalah 7-0 (musim 78/79)

Sebelum kemenangan 5-1 dari Arsenal, 5 Februari 2014 lalu, kapan terakhir kali Liverpool menang melawan Arsenal dengan mencetak 5 gol? Saya yakin mayoritas dari kita belum lahir ketika hal tersebut terjadi, ya karena itu terjadi di 18 April 1964. Kala itu, Arsenal menyerah 5 gol tanpa balas di Anfield. Dan .. oh, musim tersebut (63/64) LFC menjadi juara liga. Gelar liga pertama untuk Shankly.

Fakta menarik yang pasti akan sangat menyenangkan banyak pihak saat disebut, musim ini LFC berhasil menang home-away melawan rival abadinya, Manchester United (maaf, saya menuliskan kata vulgar dengan menyebut nama klub ini) Rafa Benitez di musim 08/09 membawa Liverpool men-double ManUtd, dengan skor impresif di Old Trafford 4-1. Sesaat setelah pertandingan terakhir melawan ManUtd lalu, di twitter saya, saya berkata bahwa 3 penalty di Old Trafford kemarin harusnya masuk ke 7 Keajaiban Dunia. Sesuatu yang langka dan hampir mustahil terjadi di era Ferguson.

Deretan hasil akhir mengagumkan dan fakta menarik tadi, saya umpamakan sebagai “keajaiban kecil” seperti kejadian “ajaib” dalam perjalanan ke Istanbul. Pertandingan melawan City nanti adalah babak ke-2 di Istanbul 2005, 4 pertandingan berikutnya adalah extra time dan adu penalty nya. Keajaiban-keajaiban besar.

Keajaiban hanya datang pada mereka yang mau berusaha dan percaya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an ” Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS : Ar-Raad 11) . Dalam Injil pun terdapat ayat yang menyebutkan hal yang kurang lebih sama “All things are possible for the one who believes.” (Mark 9:23). Yang kemudian diejawantahkan oleh Kopites dalam sebuah banner.

Bj-QfKUCYAEw9Iu.jpg medium

Ada banyak kesuksesan dicapai oleh orang atau pihak yang hidup dalam keterbatasan, tapi memiliki rasa yakin dan berusaha keras. Liverpool FC sejauh ini sudah melakukan keduanya.

#MakeUsDream

 



Bookmark and Share




Previous Post
RAJIN CETAK GOL PEMBUKA PANGKAL JUARA
Next Post
Testament: Menangkan Untuknya



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
RAJIN CETAK GOL PEMBUKA PANGKAL JUARA
*tulisan ini dibuat sebelum laga melawan Swansea, jadi menggunakan data dan timeframe per gameweek 26 BPL   Apapun strategi...