Artikel / Feature / June 29, 2014

Sakit!

Italy v Uruguay: Group D - 2014 FIFA World Cup Brazil

Sakit. Rasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh tertentu. Tidak hanya tubuh, rasa tidak nyaman pada perasaan atau jiwa selain raga juga bisa disebut sebagai sakit. Setidaknya itu yang tertulis di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) terkait arti harfiah kata “sakit”. Setiap manusia, bahkan makhluk hidup, pasti berupaya untuk menghindari segala macam sakit yang ada. Tetapi, mustahil bagi kita untuk tak pernah merasakan sakit sepanjang hidup. Dari sakit di tubuh, hingga merasakan hati yang teriris, siapa yang tak pernah?

Sakit. Rasa pertama yang terungkap ketika melihat Luis Suarez kembali membuat masalah. Melewati satu musim brilian tanpa masalah dan penuh prestasi bersama Liverpool, harapan yang terbang ke awang-awang jelas menghinggapi seluruh publik Uruguay. Timnas sepak bola mereka akan dipimpin oleh salah satu pemain terbaik di dunia pada ajang Piala Dunia, siapa yang tidak antusias. Sakit. Malah rasa sakit yang dia berikan kepada seluruh fans yang sudah percaya dan memberikan beban seberat Piramida di pundak sang pemain.

Sakit. Suarez memberikan rasa sakit ke pundak Giorgio Chiellini. Laiknya Drakula yang sudah satu tahun tak merasakan segarnya darah manusia, Suarez kembali memunculkan taring untuk ketiga kalinya. Sakit. Sempat berkata taubat ke keluarga dan media, berlaku seperti manusia berprestasi di lapangan hijau, jiwa aslinya kembali terkuak. Masyarakat Uruguay, fans Liverpool, hingga semua yang mengagumi Suarez, mendadak diam. Tercengang. Campur kecewa luar biasa.

Hanya keledai yang melakukan kesalahan yang sama dua kali. Tapi kali ini ada sesosok yang sudah dua kali dimaafkan dan melakukan kesalahan yang ketiga kalinya, apa yang harus dilakukan? Seluruh dunia menyerang Suarez. Menganggapnya memiliki kelainan mental. Hanya orang gila memang yang melakukan aksi gigit menggigit sebanyak tiga kali di arena sepak bola. Mengapa engkau tak melakukan aksi tendang seperti Nigel De Jong, pukul seperti Alex Song, atau cekik rasa Antonio Valencia saja, Luis?? Sakit!

 

Sakit! FIFA tak tanggung-tanggung memberikan hukuman. Suarez dipastikan tak bisa tampil di sembilan laga resmi internasional bersama timnas Uruguay, dan absen dari semua kegiatan sepak bola dalam empat bulan ke depan. Hal ini jelas mengejutkan karena selain tak bisa tampil bersama timnas Uruguay di Copa America awal tahun 2015 nanti, Suarez harus kembali absen bersama Liverpool sebanyak 13 laga (9 Premier League, 1 Piala Liga, 3 Liga Champions). Sakit, karena mengetahui segala hal yang sudah Liverpool lakukan demi membuat Suarez menjadi “anak baik”, kini sia-sia.

Tak ada toleransi. Para pembela pun harus mengerti bahwa sang pemain sepenuhnya salah dan harus diobati. Ketika seseorang sedang sakit, satu dua kali boleh disembuhkan hanya dengan istirahat yang cukup. Tetapi, ketika penyakitnya sudah terlihat semakin mengkhawatirkan, Anda harus bertingkah lebih serius.

Media Inggris bertubi-tubi mencari judul headline kontroversial nan sarkastik, pun dengan para penggiat sepak bola, dari pundit, mantan pemain, hingga pemain yang ikut memojokkan Suarez. “Liverpool sudah terlalu banyak memberikan kesempatan.” “The Reds harus siap melepas pemain kontroversinya.” “Suarez memberikan citra buruk dan membuat nama Liverpool tercoreng.” Sekelebat pernyataan-pernyataan dari beberapa penggila sepak bola. Ditambah Barcelona yang tertarik mendatangkannya, nasib El Pistolero di Liverpool semakin abu-abu.

Sakit. Sakit sekali. Melihat perjuangan banyak pihak untuk terus mendukung Suarez, yang juga hampir hengkang musim panas lalu, kembali sia-sia karena ulah klasiknya. Namun, jelas tidak etis terus menyerang sang pemain dengan cara kotor. Memang Suarez bermasalah, tetapi rasanya lebih bijak jika para fans mencari jalan keluar terbaik untuk dia, bukan terus memojokkannya.

echo

Harian Liverpool Echo membuat headline berjudul: HE NEEDS HELP, sehari setelah insiden Suarez-Chiellini, bisa menjadi contoh sempurna bagaimana menyoroti masalah ini. Atau pernyataan Kenny Dalglish yang berbunyi:

“It is my belief that when you bring a player to a football club, he becomes your responsibility. You don’t just turn you back on a player because he has done something wrong. I think you will find that Liverpool will not turn their back on Suárez, whatever the ban Fifa have decided he must serve. Of course it will be a heavy blow if the club has to do without him for the opening months of the season. You can’t really ask any one person why what happened against Italy happened, because there is only person who knows and that is Luis, some people have injuries you can’t see.”

Pernyataan Dalglish di atas 100 persen tepat. Semua pemain memiliki masalah, dan Suarez adalah talenta yang bermasalah. Tetapi tak ada alasan bagi The Reds memilih untuk melepas sang pemain dan tak berupaya sekeras baja mempertahankannya. Liverpool, lewat Ian Ayre dan Brendan Rodgers, belum mengeluarkan satu patah kata pun terkait masalah ini.

Pihak Liverpool hanya berkata akan mengeluarkan pernyataan dalam waktu dekat mengenai masalah ini. Terlepas dari rumor yang santer di media bahwa peluang Suarez cabut semakin besar. Lagipula, siapa yang tak mau memiliki Suarez di timnya? Saya berani bertaruh dari Manchester United hingga Barcelona akan sangat menerima sang pemain dengan tangan terbuka. Rodgers adalah orang yang paling mengenal Suarez, dan kita semua mengerti bahwa dia adalah sosok yang paling tahu apa yang harus dilakukan kepada bintang nakalnya itu.

Striker satu ini memang sudah angkat bicara dan berkata bahwa dia hanya tak sengaja jatuh ke pundak Chiellini, yang membuat pipinya sedikit memar dan giginya sakit. Alasan yang jelas menurut saya pribadi sangat tidak elegan dan tak masuk akal. Media pun semakin gencar menjadikan pernyataan tersebut sebagai serangan balik cepat yang menekan sang pemain.

Sakit, mengetahui bahwa pernyataan Suarez tak akan membuat hukumannya berkurang, malah ada kemungkinan untuk bertambah. Tetapi, apapun, berapa lama pun Suarez dihukum. Tak ada alasan bagi Liverpool untuk malu memilikinya.

Melihat Oscar Tabarez yang sekuat mungkin membela sang pemain dan merelakan posisinya di komite teknikal FIFA, dan mengatakan pemainnya selalu dipojokkan media, kemudian Diego Lugano yang berkata sudah menyiapkan tameng dan pedang demi sahabatnya itu, menjadi bukti bahwa Suarez memang salah, tapi dia adalah manusia yang tak sempurna.

FBL-WC-2014-URUGUAY-SUAREZ

Lihat betapa ramainya Montevideo ketika para fans menunggu kepulangan Suarez ke Uruguay. Lihat betapa setianya publik Uruguay yang menunggu di depan rumah sang pemain, hingga akhirnya Suarez keluar dari balkon bersama Delfina dan Benjamin.

FBL-WC-2014-URU-SUAREZ-RETURN

Terakhir, lihat dukungan seluruh fan Uruguay kepada Suarez di Maracana, saat menghadapi Kolombia, jelas membuat hati luluh.

Suarez masks

Sakit. Ya, memang sakit melihat masalah Suarez yang tak kunjung usai. Tetapi akan lebih sakit lagi jika pihak Liverpool memilih menyerah. Apa yang harus Rodgers dan Steven Gerrard lakukan? Tak banyak, mereka hanya perlu melihat aksi Tabarez dan Lugano, membantu sang pemain untuk memperbaiki kelakuannya, dan berkata: We’re not english, we’re Scouse. Ingat, Rodgers dan Gerrard lebih lama bersama Suarez serta menjadi dua sosok paling krusial yang membuat sang pemain bertahan musim panas lalu. Mudah-mudahan keduanya mampu mengulangi hal tersebut.

Kau boleh diserang secara menggila oleh media Inggris, dan dijadikan seseorang yang dirasa paling nista di tanah Britania. Tetapi, jika boleh meminta dan memohon, tanah Merseyside tak berbeda dengan tanah Uruguay. Ketika engkau menginjaknya, maka hanya ada nafas positif yang diembuskan, hanya ada rasa nyaman yang diberikan. Tak peduli seberapa buruk kelakuanmu. Karena kami percaya, di ujung rasa sakit yang teramat sangat, ada kebahagiaan yang tak diduga sebelumnya.



Bookmark and Share




Previous Post
Jimmy McInnes - Secuil Kisah Sedih Di Kopstand
Next Post
Farewell, Genius!







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Jimmy McInnes - Secuil Kisah Sedih Di Kopstand
Banner-banner unik dengan kalimat menggelitik, gemuruh suara nyanyian dukungan (meski belakangan sudah tak sehebat dulu),...