Artikel / August 21, 2013

SAYA MASIH (AGAK) OPTIMIS.

Premier League Season 2013/2014 sudah mulai digulirkan musim lalu, dan untungnya tidak seperti empat laga pembuka sebelumnya, Liverpool dapat memulainya dengan sebuah kemenangan. Kemenangan yang walau hanya 1 -0 namun membuat kita sedikit lega dan puas, lantaran yang dijebol adalah Stoke yang hanya berhasil kita jebol 1 kali dalam 3 laga sebelumnya, klub yang juga membuat 2 cleansheet di Anfield pada dua musim sebelumnya.

Tentu saja itu sebuah kemenangan yang menimbulkan sedikit optimisme di tengah kegagalan mendatangkan pemain-pemain mentereng yang kita harapakan bisa mendongkrak prestasi kita. Tapi bukan hasil malam minggu itu yang membuat saya optimis untuk menyongsong season 13/14 ini, melainkan pencapaian Liverpool FC pada paruh kedua season 12/13, yang menunjukan bahwa kita masih bisa bersaing dengan klub Top 7 musim lalu.

KLUB 19 LAGA TERAKHIR BPL 12/13
P W D L GF GA GD PTS
ManUtd 19 13 4 2 38 15 23 43
Arsenal 19 12 4 3 33 16 17 40
ManCit 19 12 3 4 32 18 14 39
Spurs 19 11 6 2 32 21 11 39
Chelsea 19 11 4 4 36 21 15 37
LIVERPOOL 19 10 6 3 43 17 26 36
Everton 19 8 6 5 23 17 6 30

Tabel di atas adalah table pencapaian Top7 Clubs BPL pada laga  19 laga terakhir season 12/13. Poin yang dikumpulkan Liverpool (36pts) dalam 19 laga tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Chelsea (37), Man City, Spurs (39), bahkan (dan sudah selayaknya) di atas Everton (30). Dalam hal serangan, Liverpool bahkan paling produktif daripada 7 tim diatas dengan menyarangkan 43 gol dalam kurun waktu tersebut. Enam klub lainnya bahkan tidak menyentuh angka 40 gol, termasuk Manchester United yang merupakan tim paling subur musim lalu dengan total 86 gol (sepanjang musim).

Liverpool juga hanya menderita kekalahan sebanyak 3 kali, lebih sedikit dari man City (4) dan Chelsea (4) yang pada akhir klasemen bercokol di posisi 2 dan 3, atau sama banyaknya dengan Arsenal (3) yang berhasil mendapat tiket terakhir ke UCL (kualifikasi). Tiga kekalahan itu termasuk sebuah kekalahan di Old Trafford, dimana kita merebut control pertandingan di babak kedua namun hanya berhasil membuat 1 gol. Dua kekalahan lainnya di dapat dari tim-tim yang di atas kertas bisa kita menangkan, yakni vs WBA di Anfield dan tandang vs Soton.

Nah, yang sedikit menjadi masalah adalah jumlah seri, atau mungkin lebih enak kalau dikatakan gagal menang. Iya, kita gagal menang  melawan West Ham, Reading dan Everton lantaran gagal mencetak gol. Kita bermain menyenangkan namun gagal menang saat sudah leading 2-0 di kandang Arsenal dan kehilangan konsentrasi untuk dibobol 2 gol dalam waktu 4 menit. Atau saat kita berhasil comeback dari ketinggalan 0-1 di Etihad, namun gagal menang karena blunder di kombinasi dengan tendangan spekulasi Aguero. Tapi dalam kegagalan untuk menang itu, nampak permainan Liverpool yang berbeda dengan paruh pertama kompetisi. Kita terlihat lebih fasih dalam memainkan possession dan tempo permainan.

Dengan sementara mengesampingkan faktor eksternal (klub lain), data di atas cukup untuk membuat saya menatap musim ini dengan sedikit optimisme. Jika ada yang mau membuat in-depth analisa pada detail statistik lainnya, saya yakin hampir semua team-data dan player-data akan menunjukan progress yang lebih baik daripada penampilan di paruh pertama yang membuat kita frustasi. Tinggal menambahkan sebuah bumbu bernama konsistensi.

Konsistensi adalah sebuah kunci yang membedakan level seorang pemain, sebuah klub, atau sebuah kompetisi dengan kompetisi lainnya. Konsistensi yang membedakan klub Premier League dengan Championship. Konsistensi yang membedakan juara dengan non juara. Manchester United yang musim lalu tampil tidak seindah City atau Chelsea, konsisten untuk meraih kemenangan walau bermain buruk. Andai kita tampil konsisten, mungkin 15 gol yang dilesakkan ke gawang Wigan (4-0), Swansea (5-0), dan Newcastle (6-0) dapat kita distribusi ke gawang West Ham, Everton dan Reading untuk menghasilkan total 18 pts dari 6 laga itu.

Penampilan produktif LFC di paruh kedua itu juga tentu tidak lepas dari penambahan squad pada transfer January, yakni Sturridge dan Coutinho. Dua pemain yang memberi dampak instant pada permainan Liverpool. Itulah juga yang diharapkan terjadi di bursa transfer musim  panas ini. Saya masih (agak optimis) dengan squad yang ada, kita masih tetap bersaing. Tapi mungkin hanya bisa bersaing untuk naik 1-2 peringkat dari musim lalu 🙂

Bagaimana caranya untuk bisa bersaing untuk sebuah tiket ke liga UCL? Hehehe.. Itu akan membutuhkan analisa yang lebih komprehensif dan kompleks. Namun cara yang termudah (dikatakan) untuk saat ini adalah dengan penambahan kualitas dan kedalaman squad. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Luis Alberto, Aspas, Kolo, dan Mignolet, namun tambahan 1-2 orang lagi pemain yang dapat memberi instant impact seperti halnya Stu dan Cou mutlak dibutuhkan untuk mencapai target minimal, yakni tiket ke UCL. Selain untuk squad depth yang memberi durability dan variasi permainan untuk mengarungi kompetisi, kita juga perlu menambah daya saing pada kompetitor seperti Chelsea, City dan (utamanya) Spurs yang sudah berbenah di squadnya untuk memperbaiki pencapaian musim lalu.



Bookmark and Share




Previous Post
Terapi itu Bernama Liverpool FC
Next Post
Adu Filosofi







1 Comment

Aug 21, 2013

jgn lupa team lain sdh berbenah, terutama spurs itu yg menjadi perhatian utama



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Terapi itu Bernama Liverpool FC
Sebuah tulisan menghibur sekaligus mengharukan dari @yoiyoa yang sedianya dimuat tgl 14 kemarin, namun karena kendala teknis...