Artikel / September 24, 2011

Supporter atau Glory Hunter?

Tulisan ini disumbangkan oleh Yardin Octora ( @_octora).

Setelah mengalami kekalahan minggu lalu dari Stoke di Britannia Stadium 0-1, banyak yang berkeyakinan bahwa Liverpool akan membalas kekalahan tersebut dengan kemenangan atas Spurs di White Hart Lane. Kenyataannya, kita kebobolan 4 gol tanpa balas, ditambah 2 kartu merah. Cukup pahit bagi pendukung Liverpool, terutama karena harapan untuk bangkit kembali di musim ini sangat besar.

Banyak pihak menuding bahwa taktik hari ini salah, terutama dengan memasang Carroll di depan, dan Skrtel di posisi bek kanan. Sebagian lagi menilai bahwa pembelian yang dilakukan Comolli di musim panas ini tidak efektif. Ada lagi yang berpendapat bahwa kesalahan terletak pada keputusan manajemen melepas Aquilani dan Meireles, sehingga lini tengah kita tidak kreatif. Lebih jauh lagi ada yang berpendapat bahwa Kenny tidak cocok berada di kursi manajer karena filosofinya sudah terlalu kuno. Selain itu masih banyak lagi pendapat lainnya selepas game kemarin.

Pendukung klub pun terpecah menjadi dua, sebagian menganggap bahwa hal ini wajar terjadi sebagai bagian dari proses, sementara di sisi lain lebih bernada negatif dan mengeluhkan keadaan yang ada. Meraih posisi 4 untuk bisa kembali ke kancah Champions League pun mulai diragukan. Pendapat pertama diyakini berasal dari para supporters/fans klub yang lebih berdedikasi dan akan terus mendukung terlepas dari naik turunnya performa klub. Sedangkan yang kedua berasal dari sebatas glory hunter. Lebih terkesan dadakan akibat performa tim yang sedang bagus atau dikarenakan faktor pemain-pemain yang mereka sukai.

Disisi lain ada dua justifikasi mengapa kita sebagai pendukung tetap harus optimis. Pertama, ini baru game ke-5, masih ada 33 game tersisa. Kedua, ini merupakan bagian dari proses. Jangan lupa bahwa banyak contoh yang menunjukkan bahwa proses merupakan bagian penting dari kesuksesan. Agak pahit memberikan contoh ini, tapi Ferguson pertama kali menjadi manajer United di tahun 1986 dan baru meraih gelar juara Liga Inggris di tahun 1993, sebelumnya akhirnya menuai panen hingga saat ini. Jadi, sumpah serapah terhadap Kenny rasanya kurang adil bila dilontarkan di gameweek 5.

Menang atau kalah tampaknya perlu kita sikapi dengan lebih baik lagi. Kemenangan yang sudah berlalu tidak perlu terus dibanggakan, dan kekalahan yang sudah berlalu tidak perlu terus disesali. Ada baiknya kita semua juga menyadari bahwa musim ini merupakan perjalanan panjang yang akan dihiasi baik kemenangan dan kekalahan. Jika kita semua bersatu (terlepas dari istilah supporter atau fan) untuk terus optimis, tentu hal ini akan memberikan dampak yang lebih baik bagi tim. Sebaliknya, terus melontarkan komen negatif dan keluh kesah saya rasa tidak akan menghasilkan apa-apa, namun justru melemahkan posisi kita semua sebagai pendukung tim.

 

catatan editor: Judul artikel asli adalah “Suporter atau Fans” namun editor merasa lebih baik mengganti menjadi Suporter/Fans atau Glory Hunter. Suporter dari kata “Supporter” atau pendukung, sementara Fans dari kata “Fanatics” yang artinya seseorang dengan antusiasme tinggi terhadap sesuatu. Tidak perlu dibedakan.



Bookmark and Share




Previous Post
Analisa Formasi vs Wolves (oleh @reyhanmamara)
Next Post
Mari Bung Rebut Kembali!







1 Comment

Sep 24, 2011

target realistis: peringkat 4. kalo bisa lebih dari itu ya bonus. inget, 2 musim lalu kita peringkat 7. musim lalu peringkat 6. nyaris mustahil kita bisa langsung juara, apalagi sejak kenny masuk kita kedatangan 9 pemain baru. they need time to gel perfectly with the team.

sabar, the golden sky udah terlihat kok cuma masalah waktu aja… ynwa!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Analisa Formasi vs Wolves (oleh @reyhanmamara)
Redmen yang berbahagia, disini gue akan coba memaparkan sedikit aja pandangan gue untuk match esok hari melawan Wolves. Gue gak perlu...