Artikel / Berita & Rumor / Lain lain / May 25, 2014

Tak Ada Yang Ringan, Yang Berat Harus Sama Dipikul

Banyak hal menarik dari artikel “Berat Kali Beban Tuan Rodgers Ini” tulisan mas @dalipin68 di detik sports, beberapa hari lalu. Dan bukan karena saya adalah penggemar tulisan-tulisan beliau, lantas saya setuju dengan banyak poin yang diangkat dalam tulisan tersebut. Ketertarikan saya atas artikel itu, mendorong saya untuk memberanikan diri menghubungi beliau, untuk lalu mendiskusikannya. Beruntung buat saya, beliau berkenan untuk saya temui untuk kemudian kami bicara panjang lebar tentang sebuah folklore, Liverpool Football Club. Atas anjuran beliau juga, saya diminta membagi apa-apa yang kami obrolkan sore itu.

Dia Yang Akan Membangkitkan

Dua dasawarsa lebih, adalah waktu yang terlalu lama bagi sebuah folklore (meminjam istilah mas Dalipin) bernama Liverpool FC untuk tertidur. Dan dalam periode waktu tersebut, pencarian sosok yang mampu membangunkannya kembali, belum juga berhasil. Hingga tiba dua tahun lalu, ketika pemilik baru asal Amerika, menunjuk Brendan Rodgers untuk mencoba melakukan tugas yang tak kunjung berhasil dituntaskan oleh para pendahulunya. Membangkitkan kejayaan Si Merah.

Pria berkebangsaan Irlandia Utara ini bukanlah manager sepakbola dengan curriculum vitae yang wah. Prestasi terbaiknya saat ditunjuk melatih Liverpool FC adalah hanya pernah membawa klub asal Wales, Swansea City FC menjadi klub pertama dari negara tersebut promosi ke Premier League. Tapi kadang, tugas berat malah justru akan bisa diselesaikan oleh orang-orang “biasa” ketimbang orang  yang sudah bergelimang prestasi. Kepongahan, rasa jumawa seringkali membuat orang-orang berprestasi tersebut menjadi “over-think” atau lepas kendali dalam menjalankan tugas utamanya.

Coba ingat kembali Bill Shankly sebagai arsitek yang menciptakan kekuatan sepakbola nan digdaya bernama Liverpool FC, juga bukan manager sarat prestasi ketika direkrut manajemen klub pada tahun 1959. Dalam membangun klub, Shanks menanamkan kedisiplinan, menumbuhkan rasa memiliki pada diri pemain, dan tentu nya menerapkan filosofi sepakbolanya. Ramuannya tersebut, kemudian dikenal dengan The Liverpool Way. Tak heran jika kemudian para penerusnya, yang sebelumnya adalah orang-orang yang pernah bekerja dengannya, atau sering disebut dengan The Bootroom,  sukses membawa The Reds merajai Inggris, bahkan Eropa.

Gambaran tersebut bukanlah ilustrasi untuk menyebut Brendan Rodgers sebagai Shankly ke-2. Akan tetapi, jika menilik lebih jauh, ada banyak kemiripan antara keduanya. Bukan, bukan tentang Rodgers yang mengganti warna jala gawang dengan jala berwarna merah, atau yang mengganti plakat This Is Anfield di lorong masuk Anfield, dengan versi era Shankly. Latar belakang kepelatihan, disiplin dan filosofi sepakbola yang kuat yang dimiliki Rodgers, sama dengan adalah hal yang dimiliki Shankly ketika itu.

Dalam usianya yang ketika ditunjuk menangani Si Merah, baru 39 tahun, Rodgers sudah kenyang pengalaman. Selain menukangi Watford, Reading dan Swansea di Championship Division, Buck juga mengenyam pengalaman menangani tim muda (youth dan reserves). Di luar pengalaman manajerial, dia juga menimba ilmu di “kampus” sepakbola kenamaan Eropa, bernama Ajax dan Barcelona. Nama-nama manager besar, menginfluens filosofi sepakbolanya.

Ramuan Khusus Dari Dia Yang Akan Membangkitkan

Semua pengalaman tersebut kemudian dia rangkum dalam 180 halaman proposal master plan, yang dia suguhkan ke John W Henry ketika menjalani fit and proper test sebelum perekrutannya. Memang tidak ada yang tau tentang apa saja isi dari 180 halaman proposal tersebut, namun dalam dugaan saya, ada formula khusus lain untuk melengkapi ide-ide berdasarkan pengalamannya tersebut. Formula yang menurutnya, bisa membangkitkan kembali Si Merah yang terlalu lama tidur.

Salah satu dugaan saya atas formula tersebut adalah, ide untuk merekrut ahli dalam membangkitkan kepercayaan diri pada para pemain. Bahkan saya rasa, bukan hanya untuk pemain tapi juga untuk dirinya sendiri. Setelah resmi menjabat sebagai manajer LFC, direstuilah formula tersebut. Seorang psychiatrist bernama Steve Peters direkrut untuk membantunya menumbuhkan kembali kepercayaan diri para pemain. Ketika komponen utama sebuah tim sepakbola yaitu pemain, sudah mencapai kepercayaan diri yang tinggi, maka strategi, system dan filosofi sepakbola apapun, termasuk yang dianut Brendan Rodgers dari perjalanan panjang karir dan pengalamannya, akan berhasil.

Pada musim 2013/2014 yang baru beberapa pekan berlalu, kita semua dapat melihat buah dari salah satu ramuan khusus tersebut. Banyak pemain yang tampil percaya diri dan bisa memberikan yang terbaik untuk tim. Nama-nama seperti Suarez, Henderson, Sterling, Sturridge, Skrtel, Flanagan hingga Gerrard adalah pemain-pemain yang pada musim sebelumnya dirundung berbagai masalah (termasuk kepercayaan diri), namun akhirnya bisa bangkit. Dan nama-nama tersebut, mengakui adanya andil Steve Peters dalam peningkatan performa mereka.

Satu formula, berhasil tapi nampaknya belumlah cukup. Ada lagi satu hal yang menurut saya merupakan formula khusus Rodgers yang tertuang dalam 180 halaman proposal yang terkenal itu. Formula tersebut adalah pembinaan pemain muda.

Pembinaan pemain muda menjadi salah satu perhatian khusus Rodgers. Berbagai perombakan kemudian dia lakukan pada akademi, dari mulai perubahan staff akademi (Borrell, McParland keluar, masuknya Inglethrope) hingga dimasukkannya beberapa nama legenda The Reds, pada diri Fowler, McManaman, Rob Jones dalam jajaran kepelatihan tim muda. Rodgers ingin menanamkan filosofi sepakbolanya sejak dini, dikombinasikan dengan rasa memiliki a’la The Liverpool Way pada para pemain muda melalui keberadaan para legenda tersebut.

Rodgers adalah tipe manager yang mau banyak belajar. Dan dalam kaitannya atas “formula” pembinaan pemain muda, adalah pelajaran yang dia ambil dari err … Alex Ferguson. Akan terasa tidak enak mungkin bagi anda membaca opini tentang ini, tapi sempatkanlah mencernanya sejenak. Salah satu langkah dalam perjalanan sukses nya adalah mempromosikan pemain muda, yang terkenal dengan sebutan Class Of ’92. Beckham, Neville bersaudara, Nicky Butt, Giggs, juga Scholes ketika itu adalah pemain muda binaan klub yang akhirnya menjadi core dari Manyoo yang merajai Inggris dalam periode satu dekade lebih. Mereka dibina untuk mengerti, memahami bagaimana filosofi sepakbola Fergie untuk Manyoo, digembleng menjadi pesepakbola yang percaya diri sekaligus mencintai dan punya rasa memiliki yang tinggi atas klub nya.

Terkait upaya membangkitkan LFC dari tidur panjangnya, formula ini  dalam pandangan saya sangat brilian. Ketika nantinya muncul sekelompok pemain berkualitas dari akademi seperti Flano atau Sterling, harapannya kelompok ini sudah matang dan mengerti betul bagaimana cara bermain untuk klub sekaligus bagaimana mencintai dan merasa memiliki Liverpool Football Club untuk kemudian menjadi core players di musim-musim kompetisi mendatang. The Liverpool Way properly instilled at it best.

Sebagaimana Fergie yang berhasil dengan Class Of ’92 nya.

Lebih lanjutnya, harapan munculnya core players  hasil binaan klub seperti dijelaskan di atas merupakan faktor penting dalam hal berbagi beban untuk mengangkat performa tim secara kontinyu dalam tiap pertandingan. Dalam artikel tulisannya mas Dalipin, disebutkan bahwa seorang Captain Marvell seperti Gerrard pun, masih nampak grogi ketika klub yang dibelanya sejak muda, sempat berpeluang besar menjadi juara.

Ini sebagai akibat dari belum adanya pemain lain yang merasa memiliki LFC seutuhnya, selain Gerrard sendiri. Pada era 2008/2009 ketika LFC juga sempat berpeluang juara, Gerrard masih bisa membaginya dengan Carra. Musim 2013/2014 lalu, Gerrard sendirian. Beberapa pemain yang yang menjadi core dalam tergolong suksesnya musim lalu, adalah pemain-pemain yang baru beberapa tahun berada di LFC. Secara performa, mereka brillian, tapi entah, apakah rasa memiliki dan chemistry dengan klub sudah terbentuk seutuhnya atau belum. Memang sudah ada Flano, atau Sterling yang sudah lama di akademi, juga Skrtel (pemain paling lama di LFC setelah Gerrard, yang tampil reguler musim lalu). Tapi itu semua sepertinya belum cukup.

Lalu apakah artinya, butuh waktu lebih lama lagi untuk Liverpool bisa segera bangkit jika merujuk pada pendapat bahwa perlu pemain hasil binaan untuk bisa lebih banyak yang menanggung beban? Saya pribadi, bilang tidak. Ada semacam shortcut yang menurut saya bisa menutup faktor ini yaitu pembelian pemain berkualitas. Ini berdasarkan fakta bagaimana Rodgers bisa membuat lompatan drastis dari posisi 7 di musim pertamanya, hingga menjadi penantang juara di musim lalu, bermaterikan pemain yang bisa dikatakan hanya segelintir yang benar-benar berkualitas di atas rata-rata, atau sudah mencapai performa terbaik. Sisanya, seperti Sterling, Henderson, Flano, Coutinho, masih dalam tahap development.

Kepada Siapa Lagi Beban Harus Dibagi?

Pemilik klub, John W Henry, sangat mengagumi pola bisnis Stan Kroenke yang diterapkan di Arsenal. Salah satu yang dijadikan benchmark adalah pembinaan pemain muda dari akademi, juga pembelian jeli Wenger pada pemain “tidak terkenal” untuk kemudian dijadikan bintang. Dengan pola tersebut, Arsenal bisa kompetitif di EPL maupun UCL.

Dan dalam pandangan saya, selama Liverpool bisa secara kontinyu ikut serta di Liga Champion yang artinya secara pendapatan (dari hadiah keikutsertaan, hak siar dsb) akan membantu klub untuk bisa sustaianable, Henry akan cukup sabar menunggu hasil kerja Rodgers, yang setidaknya sudah terlihat di musim lalu.

Namun semoga, tidak hanya kesabaran yang ditunjukkan FSG dan John W Henry pada Rodgers. Ambisi untuk menjadikan LFC sebagai tim yang harus selalu juara di masa mendatang juga perlu ditunjukkan.  Suami si cantik Linda Pizutti ini harus mau berbagi beban dengan Rodgers dan juga pemain.

Salah satunya adalah dengan mendukung ide orang pilihannya sendiri, yang dalam 2 musim sudah bisa mencapai target utama yaitu kembali berlaga di kompetisi elit Eropa, untuk mendapatkan pemain incarannya. Kesalahan-kesalahan musim sebelumnya dalam negoisasi transfer pemain harus segera bisa dieliminir. Urgensi kebutuhan akan pemain berkualitas (dan cocok dengan skema permainan), bagi Liverpool selain dalam upaya untuk segera mampu membangkitkan raksasa yang lama tidur, juga dikarenakan musim depan The Reds harus juga berlaga di Eropa. Butuh lebih banyak pemain dengan kualitas memadai untuk bisa kompetitif di (paling tidak) 2 kompetisi bergengsi. Dalam upaya perekrutan pemain, musim ini akan cukup terbantu dari segi ekonomi maupun ketertarikan pemain berkualitas untuk bergabung ke Liverpool dengan keikutsertaannya di ajang Liga Champion.

Bagaimana dengan kita, supporters. Akan sabarkah? Rasanya kita sudah cukup terlatih dan teruji untuk bersabar menunggu kembalinya keperkasaan Merseyside Merah.

Tekad mengembalikan kejayaan Si Merah memang bukan pekerjaan mudah. Tidak ada yang ringan, untuk itulah semua beban berat tersebut harus dibagi merata pada Rodgers, pemain maupun pemilik klub. Jika semua faktor “pembagian” beban seperti diuraikan di atas sudah bisa dilakukan, sangat besar kemungkinan akan terjadi peningkatan pada pencapaian dan progres bagus musim lalu. Dan, bukan tidak mungkin kita semua akan segera merayakan kembalinya kejayaan Liverpool Football Club.

#WeGoAgain



Bookmark and Share




Previous Post
The Judgement Day
Next Post
Home Is Where The Heart Is



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
The Judgement Day
Minggu, 30 April 1995. Blackburn Rovers menjalani pertandingan ke-40 nya di ajang Premier League (saat itu ada 22 tim yang...