Lain lain / February 17, 2013

Terapi itu Bernama Liverpool FC

Sebuah tulisan menghibur sekaligus mengharukan dari @yoiyoa yang sedianya dimuat tgl 14 kemarin, namun karena kendala teknis jadi tak terpublished :).  Silakan dinikmati sampai selesai.

Lama tak menulis, Semenjak Laptop kesayangan hilang digondol maling disebuah bus malam, begini ceritanya, loh kok..oh saya lupa, kali ini tidak sedang menulis “siapa yang paling nestapa didunia ini karena laptop berisi banyak data penting telah dicuri orang.”hehe. Tiba-tiba saya ingin nulis tentang Terapi, tp ini bukan tulisan pysioterapis , Cuma dari penulis kambuhan yang kebetulan suka LFC, dan sudah lama gak nulis. Tapi saya selalu menulis serius dan bukan Cuma menulis iseng, selamat menikmati, tertawalah jika memang lucu dan menangislah jika pacarmu direbut orang.

Percaya atau tidak, Liverpool FC adalah terapi yang bagus untuk kita semua, dalam semua aspek kehidupan, Mulai dari kesehatan, mental, keuangan bahkan perjodohan, walau saya bukan psyikolog, tapi saya berani menjamin itu, apa buktinya, begini : tulisan ini terinspirasi dari hastag di @LFC_ID dimalam hari kasih sayang yang membuka biro jodoh instan dengan #JodohLFC, ini luar biasa, Admin bisa masuk surga oleh karenanya, kalau berhasil memasangkan jomblo yang satu dengan lainnya, tapi saya curiga ini bagian dari hiden agenda Manajemen LFC secara global melalui akun-akun dibawahnya , hehe lebay, bahwa sebenarnya ini adalah hiburan yang dirancang untuk menyengkan setiap hati liverpudlian, yang baru saja patah hati, ketika pasukan Steve Clarke memberikan pelajaran berharga di 10 menit terakhir untuk Gerrard dan kawan-kawanya. Anfield seperti terbakar, tersulut api yang tadinya kecil namun lupa dipadamkan, kemudian membesar di akhir pertandingan, lalu Angin bertiup begitu kencang merobohkan tembok-tembok pertahanan terakhir, seperti rumah tak berpondasi. Rapuh.

Tapi sudahlah, walau mengecewakan, kita masih dapat melihat liverpool menang lawan WBA di hari-hari mendatang, dan yang saya bilang tadi ini adalah bagian dari terapi yang baik untuk para pencinta LFC. Yang penting hari ini tanggal 14, dan selamat untuk yang merayakannya, maaf untuk yang belum beruntung.

Terapi Kasih sayang

Berbicara kasih sayang, menjadi tidak begitu bermakna ketika semua orang membahasnya hari ini, tapi akan jauh lebih menarik, jika kita geser sedikit, kasih sayang itu sebagai sebuah terapi yang baik, terutama bagaimana Liverpool FC menjadi bagian kecil dari kehidupan dan kasih sayang, wah mungkin aneh yah, tapi gak juga, begini misalanya: pertanyaan banyak orang yang sering didengar “alah udah kalah terus,juara juga udah lama, masih juga dibela-bela.” Iya benar, Pasti orang yang nanya itu jauh lebih waras dari pada kita, hehe, karena mereka bertanya menggunakan fakta, Nah kita sebagai Fans liverpool harus jawabnya pake hati, karena kalo jawabnya dengan fakta, pasti mudah dibalikan lagi. “ah, gak apa-apa sering kalah juga, yang penting udah juara champions 5 kali”, Eits….jangan jawab kaya gitu, itu udah klasik banget, hehe, yah terserah lah jawab apa kek, yang penting Liverpool di hati lah, nah artinya, apalagi kalo bukan sayang, ibarat pacar udah ketauan selingkuh, tp kita tetep ngarep dan masih cinta sama doi, yah mungkin kaya gitu contohnya, nah bodohnya lagi, gonta-ganti pacar sering, selingkuh jalan terus, Tapi disuruh pindah tim dari Liverpool ke tim lain nggak mau, Apalagi suruh dukung MU, yah kan,gak mau kan? Itu apa namanya kalo bukan cinta mateeee…

Jangan berkecil hati buat yang masih pada jomblo,banyak venue-venue nobar bisa jadi tempat alternatif tempat bertemunya jodoh loh, sudah banyak kok buktinya, dan biasanya banyak Liverpudlianwati yang jomblo juga, hehe, oh iya, tp jangan curang yah, udah punya cewe gak diajak, pas di tempat nobar, ngegebet Liverpdulianwati, dengan alasan yang ngehe banget “cewe itu kalo pake jersey LFC keliatan lebih cantik.” Mendinga dandanin cewe lo, belin jersey KW super juga gak apa-apa kok, Cuma 120rb, kan udah keren tuh, abis itu ajak deh ke tempat nobar, pasti lo jadi cowo paling keren deh malem itu, yah tentu aja karena lo ngegandeng cewe yang pake Jersey Liverpool, eh minggu depannye, cewe lo, jalannya udah sama temen lo sendiri mate, terus emosi dong, elu tanya ke temen nobar lo, eh, elu kok ngegebet cewe gw sih, dan temen lo menjawab dengan suara lantang tapi santun, “Abis cewe lo cantik banget sih, pake jersey Liverpool.” Gedubraaakk…..Podoo waee..

Yang jelas begini Liverpool gak bisa lepas dari kasih sayang, udah terlalu banyak yang di korbanin demi Liverpool, bayangin banyak uang habis buat beli jersey, berapa kali ngebohong Cuma untuk nobar, keluar malem-malem, pulang pagi, udah gitu kalah lagi, sampe rumah di manyunin sama orang tua, atau sama istri tercinta..atau yang masih jomblo, paling diketawain sama pager rumah. Ini terapi yang bagus buat kita semua, bagaimana menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, rela berkorban untuk orang-orang yang kita sayanginin…cie-cie, udah kaya konsultar perkawinan aja yah ini.

Terapi Spiritual

Urusan menunggu gelar juara, sama lamanya seperti menunggu kekasih yang tak kunjung datang, Namun tak usah berkecil hati, @LFC_ID sudah memfasilitasi itu dengan baik, walau ternyata jadi ajang lucu-lucuan dan hiburan tengah malam. Jadi kalo belum dapet jodoh yah terpaksa kita harus kembali pada pepatah lama “Jodoh ada di tangan Tuhan” hasilnya yang menentukan yang diatas. Pertanyaanya adalah, Apakah Gelar Juara LFC juga ada di tangan Tuhan ?, oh itu debatble, kalau ada istilah si Tangan Tuhan yang tadinya di pegang Maradona di Piala Dunia Mexico 1986, yang kini sudah menjadi milik Luis Suarez pasca penyelamatan tangan Tuhannya yg sanagat heroik di perempat final Piala dunia Afsel 2010.  Nah artinya itu sebagai bukti Bahwa kuasa Tuhan menjadi mutlak diserahkan pada tiap individu-individu dan Usaha masing-masing umatnya. Alah..kok kalimat diatas serasa kaya ustadz atau motivator aja yah…

Tp bener begitu kok, Artinya kalau LFC mau juara atau digdaya seperti 20 tahun silam, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, walau kita semua tahu caranya, tp yakinlah, bahwa kita tidak bisa berbuat banyak untuk meramu strategi, atau membeli dan menjual pemain sesuai keingininan kita, yang harus dilakukan adalah, terus mendukung dan memperbanyak doa dan Ibadah. Walau pun kita fans garis keras sekali pun, mau sekeras otot kawat tulang besi juga, kita yang di Indonesia Cuma bisa memberikan support yang tulus dan ikhlas tanpa mengeluh untuk LFC tercinta.  Bahkan saya pernah melihat beberapa fans LFC di twitter, menyatakan dirinya fans Garis kenyal, yah itu dia, mungkin mereka gak mau keras-keras banget, atau kelembekan juga gak enak kali yah…hehe. Sekali lagi LFC terpaksa membuat kita harus mendekatkan diri pada yang diatas, Ternyata efek nya sangat baik loh, Bukan hanya mendoakan Suarez mencetak gol, atau Pasukan Rodger bermain bagus, tetapi untuk bekal dihari nanti biar masuk sorga. Amin, Bukan begitu mate.

Terapi Kesehatan dan Kesetanan

Kesehatan adalah bagian penting dari kehidupan, Sebagai fans tim sepak bola, artinya kita peduli dengan kesehatan, walau banyak fans Liverpool tidak bisa main bola, seperti saya contohnya, tapi Liverpool FC menawarkan kesehatan bagi pencintanya, olah raga jantung salah satunya, kecepatan jantung dipacu sangat cepat setiap tim lawan sedang meneror gawang Reina, Buat saya, Gol Aguero ke gawang reina 2 minggu kemarin, adalah terapi kejut yang sangat dahsyat, bayangkan, jantung yang tadinya dag-dig-dug berdetak sangat kencang, tiba-tiba dipaksa berhenti oleh Aguero, seperti mobil yang sedang ngebut, tiba-tiba berhenti mendadak, langsung oleng dan terpelanting, gak karuan, dan banyak lagi, kekalahan demi kekalahan membuat jantung saya kini terlatih dengan baik, kontrolnya pun sudah bisa diatur sedemikian rupa, dan membuat saya lebih sehat, menurut versi saya sendiri loh, kalo kata orang mah “Spor jantung”.

Yang paling dirasakan dampaknya bagi kesehatan adalah, kumpul-kumpul yang berakhir di lapangan futsal atau lapangan bola sungguhan, Komunitas nonton bareng berdasarkan tempat tinggal menciptakan sebuah keharmonisan tersendiri, aktifitas yang menyehatkan, mulai dari main futsal,basket, bersepedah, sampai para pendaki gunung, yang bernaung di bawah panji-panji LFC, mungkin sebentar lagi akan terbentuk kelompok gulat atau pola air, dan ada kelompok yang mempunyai misi sangat militan yaitu PASUKAN BERANI MANCING LFC, walau bawa pulang ikan kecil-kecil dan sampe rumah di cemberutin istri, mereka tidak lantas Jera, setelah menanggalkan gagang pancing, kemudian mandi, lanjut ke venue Nonton bareng, bahkan ada yang masih membawa Joran ke tempat Nobar. Haha….its Crazy.

Satu lagi yang sulit dihilangkan, yaitu Kesetanan, ini sukar disembuhkan, tapi dapat dikendalikan. ini senantiasa ada  dalam tubuh semua Liverpudlian di Indonesia, Cuma kadar nya yang berbeda, yang menentukan adalah tingkat kedewasaan, Pendidikan dan tentu saja penegtahuan soal bola dan sejarah sepak bola. Memang kadang kala fanatisme lebih kejam dari pembunuhan atau fitnah sekalipun. Yah, ini soal kebencian, butuh terapi yang panjang dan lama untuk menyembuhkan penyakit kesetanan ini, kadang menghawatirkan, tapi banyak juga membuat lucu, banyak cerita soal ini, yang pasti ketika mendengar kata si “Setan Merah”, beribu-ribu reaksi yang akan muncul, ada yang kejang-kejang, ada yang lansung mengambil kuda-kuda, ambil dupa atau ambil sejadah dan banyak lagi, Sebenarnya penyakit kesetanan ini tidak harus disembuhkan, Fans LFC yang baik adalah ketika bisa mengontrol emosis sesaat dan hawa panas yang di pancarkan dari si setan merah itu. Ini sudah seperti phobia tersendiri, apalagi kalo di twitter atau grop chating ada yang bergosip ria “WOIII JERSEY LIPERPOOL Di BAKAR FANS EMYUUU DISONO NOH”. Kalo udah ada kabar begitu, semua heboh, kalo saua Cuma mau ketawa, tapi banyak juga yang gak bisa terima, seperti ternodai dan teraniaya Dan siap pasang badan untuk jadi bagian dari perlawanan, haha, ini fenomena menarik, walau belum ada penelitian tentang ini, saya meyakini, kelucuan ini Cuma ada di Indonesia. Penyakit kesetanan ini banyak yang sudah akut, tapi tidak sedikit yang menyederhanakan kebencian teresebut, dengan tersenyum dan pikirian yang logis.

Ini adalah pembahasan yang tidak akan tuntas, lelah rasanya membuang banyak energi untuk menulis kesetanan ini, tidak perlu terapi khusus, Cuma perlu bersahabat pada kecemasan yang kita rasakan, dua kali kalah dari setan merah di musim ini, adalah pelajaran yang bagus untuk mawas diri dan menjadi fans yang lebih mengerti akan arti kekalahan, Kalah dari MU bukan kiamat buat kita, ini juga menjadi terapi yang baik untuk lebih bersabar dan lapang dada, persaingan belum usai, walau 4 besar Cuma jadi wacana, atau menyelahkan kinerja wasit di musim ini adalah percuma. kasian tiang gawang sudah menjadi kambing hitam dimusim lalu, dan sekarang mendingan kita menyalahkan tiang jemuran aja gimana?.

Saya melihat banyak fans LFC yang sudah matang, dalam artian sesungguhnya (tua.red), lebih kalem dalam menyikapi masalah kesetanan ini, dan buat para Liverpudlian yang masih berdarah segar, mungkin ada waktunya dimana darah kalian nantinya akan lebih merah lagi daripada saat ini, ketika penyakit kesetanan itu sudah benar-benar menjadi kesehatan yang hakiki.

Terapi Mental

Buat yang gak sabar jangan menjadi Fans Liverpool FC, seru seroang kawan dalam twitternya, sabar dan sabar, itulah kata kunci dalam tulisan saya kali, ini, Jadi jangan pernah mengaku Liverpudlian kalo tidak sabaran, sabar mengajarkan banyak hal buat kita semua, coba kalau kita hidup di era dimana Nomer 7 masih di punggung King Kenny, mungkin kita tidak perlu menunggu gelar juara, atau gol-gol balasan ketika Liverpool dalam kondisi tertinggal, kita bisa lebih sombong dari saat ini, dimana daratan eropa sudah disandra dengan kemahsyuran mersyside merah, tp tentu saja, saat itu fans Liverpool di Indonesia tidak sebanyak sekarang, Hanya TVRI bersama bung sambas yang menjadi corong informasi kehebatan The Reds, dengan durasi yang sedikit dan jarang tentunya.

Tapi yah itulah kerennya Liverpudlian, sering kalah dan inkonsisten aja fans nya masih bisa pasang aksi, dan tetap bisa foto-foto sehabis nonton bareng. Apalagi slalu menang dan banyak angkat tropi. mungkin ini juga bagian dari terapi yang harus kita jalankan, selain sabar, sedikit lebih melatih mental agar terus dapat lebih belajar dari banyak kekalahan, bukan saja kekalahan di setiap pertandingan, kekalahan dalam hidup, bahkan kekalahan dari sanginan dalam mendapatkan pacar, hehe. mengatur strategi yang lebih matang, menata ulang berbagai persepsi yang salah selama ini, dan siap melakukan serangan balik yang lebih mematikan, tapi yah itu tadi, kalau belum sabar, pasti susah juga melakukan serangan keren dan hasil maksimal.

Ini contoh sederhana bagaimana saya menjadikan Liverpool menjadi terapi mental yang baik, Nadya 10 tahun, Kelas 5 SD, pasca kecelakaan 2 tahun lalu, Nadya mengalami banyak goncangan dalam hidupnya, bayangkan ketika semua teman sekolahnya tidak bisa menerima Nadya karena bagian kaki kirinya harus di Amputasi diatas lutut, jadi teman-temanya menganggap nadya berbeda dengan mereka.”Nadya Punya Allah dan Nadya punya Liverpool”, begitu katanya, dia tau, Ayahnya seroang penggila Liverpool, Kalau saya mau nobar, dia selalu bilang “ayah mau ibadah yah?, jangan lupa nyanyi YNWA yang khusuk yah” dia mengatakan itu, ngeledek sebenarnya, karena gak bisa ikut nobar yang udah terlalu malam buat dia, saya Cuma ketawa.  dia mengerti bagaimana ada nilai spiritual dalam sepak bola, terutama Liverpool. Pertama kali dia merasakan menjadi seorang Liverpudlian ketika nonton film Will, Dia mulai mengerti fans bukan hanya penonton sepak bola yang pasif, tapi bagian dari keluarga besar yang saling mendukung. Suport terhadap dirinya dari keminderan dan bully teman-teman disekolah dan rumahnya tadinya sangat sulit, Penyandang difabel di Indonesia tidak banyak diuntungkan, apalagi didaerah, jangankan mau nonton bola di stadion, dengan antrian khusus atau tempat duduk yang sudah disediakan.

Tapi hebatnya Nadya tidak pernah merasa dirinya seorang difabel apalagi berkebutuhan khusus, dia tidak butuh dikasihani, dia melakukan semua aktifitas disekolahnya seperti biasa, ikut tapak suci, bahkan ikut bermain bola, walau lawannya Cuma anak kelas 1 dan kelas 2 yang badanya jauh lebih kecil dari dia, posisinya adalah penjaga gawang, yang paling lucu adalah, ketika saya kasih liat gol aguero ke gawang reina kemaren via youtube, komentarnya sederhana, “alah, kalo gitumah, Nadya nendang pake kakipalsu juga kebobolan tuh si pepe”, cukup mengelitik, Artinya, secara mental dia jauh lebih kuat, bayangkan ketika dia mampu sesumbar untuk mengoyak gawang Reina dengan kaki fiber yang beralas karet sintetik. Walau tadi siang alas kakinya baru saja jebol,main bola katanya, kondisi cuaca wonosobo yang slalu hujan dan lembab, juga jadi penyebab lepasnya sambungan dibagian bawah, tapi sebelum menulis ini, saya sudah reparasi.

Bukan itu saja, Lagu “You’ll Never walk alone, benar-benar menjadi kekuatan tersendiri buat Nadya, selama diperjalanan dia selalu puter lagu itu, dan sing along, walau bersanding lagu cherrybelle,koboy junior dan akhir-akhir ini YNWA diselingi lagunya cakra khan yang saya gak tau judulnya, tapi saya suka nyanyi bareng dia juga. Haha. Dan seminggu lalu tiba-tiba dia bilang, Pengan ikut Kontes nyanyi “BIG REST”,  saya tanya “hah, kontes apaan itu kak”, itu loh, masa gak tau sih, tiba-tiba dia nyanyi deh “many miles away from anfield”, oh itu “BIGREDS kak, bukan BIG REST”, langsung saya bbm si anak kunyuk a.k.a fuaddinejad, eh gak dibales-bales, dan ternyata udah ditutup juga sayembaranya per 1 februari kemarin. Sekali lagi,

Liverpool membantu saya membesarkan seorang anak yang harus bermental kuat,  Nadya suka Suarez, bukan karena gocek ala drunken masternya di kotak pinalty lawan, tapi karena, dia merasa, gigi kelincinya mirip dengan sarez,hehe. Cerita terakhir adalah, ketika Nadya tau, Liverpool akan datang ke Indonesia, dia sangat berharap kakinya mendapat tanda tangan dari Steven Gerrard, biar kaki palsunya sekuat kaki Gerrard, Padahal saya sudah meyakini bahwa kaki kirinya lebih kuat dari Gerrard, karena terbuat dari fiber dan Buktinya belum lama ini, salah satu anak yang main bola lawan Nadya memgalami bengkak dibagian kaki dan kabarnya anak itu nangis-nangis, Karena berbenturan dengan kaki fibernya Nadya. Walaupun dia masih sering bermimpi bahwa kaki palsunya dapat mengeluarkan darah juga,tapi berwana pink..Hahaha. Itu pasti, kaki asli lawan fiber, yah menang fiber lah, daerah saya disini juga terkenal sebagai sentra penghasil durian terbaik di wonosobo, di musim duren tahun lalu, dia melakukan akrobat bak debus yg membuat saya terpingkal-pingkal, bayangkan kulit durian yg tajam diadukan ke kaki palsunya berkali-kali, sambil menantang saya,”apakah saya  bisa melakukan hal seperti dia?”. Bahkan pisau untuk membelah duren pun di bacok-bacokan ke kakinya juga sambil terseyum dan berkata “gak berani kan kaya nadya”.

Itu masih sedikit bagaimana saya menggunakan berbagai macam cara untuk terus membuat dia jauh lebih kuat di tengah-tengah masyarakat yang masih ekstrim memandang perbedaan apalagi kekurangan. Menyadarkan banyak orang agar lebih menghargai sesama tentu tidak mungkin bisa dilakukan, yang harus dilakukan adalah terus-menerus memberikan energi postif kepada dia agar jauh lebih kuat. Walau sesekali masih ngeluh dan merasa terancam karena kekurangan fisiknya,saya meyakini, bahwa Livepool FC, Keluarga besar Liverpool FC disini khususnya,akan banyak membantu perkembangan mentalnya. Dan kedatangan LFC ke Indonesia adalah momen yang paling berharga, diamana untuk pertama kalinya Nadya akan saya ajak masuk Stadion terbersar di Indonesia, menyaksikan Puluhan Ribu saudara Semerah,dan tentu saja pemain-pemain Indolanya yang dia sering saksikan via Youtube, dan tentu saja, impian semua anak kecil yang ingin di gandeng pemain pujaanya memasuksi stadion, dan melihat kemegahan GBK yang merah membara dengan atmosfir luar biasa dimana ’You’ll Never walk Alone’ berkumandang di angkasa jakarta. Pasti rasa malu dan minder sebagai seorang difabel  tentu sadah tidak ada lagi saat itu, fiber penyangga pun seperti tulang yang memiliki syaraf-syaraf yang kembali menggerakan langkah kecilnya menjadi kian berarti kelak, melebur menjadi sebuah suka cita khas anak kecil yang selalu butuh keceriaan dan kehangatan.

Dan saya juga yakin kepedulian liverpool fc secara tim dan para pemainnya soal kemanusian cukup tinggi, dan para pemain pun sering melakukan terapi-terapi yang dibutuhkan para pendukungnya yg membutuhkan support secara pysikis dan mental melalui fondation dan pembaga baik bentukan club maupun persomal, ini bagian dari rasa terimakasih Steven Gerrard dan rekan-rekanya di tim karena telah mendapatkan full suport dari para fans yang sangat loyal walaupun LFC saat ini sedang terpuruk dan minim prestasi.

Yah begitu kira-kira tulisan saya kali ini, Kalau liverpool belum stabil sampai saat ini, itu bagian dari terapi yang harus dilalui dan dijalankan dengan tetap tersenyum manis, semanis buah carica yang saya olah selama ini. Wasalam.

 

Wonosobro 14 feb 2013 @yoiyoa



Bookmark and Share




Previous Post
Hanya Satu: Jamie Carragher
Next Post
SAYA MASIH (AGAK) OPTIMIS.







2 Comments

Feb 18, 2013

Haha sudah lama saya ingin menulis seperti ini juga mate :p Tapi saya mungkin agak takut sama responnya apabila saya menulis tentang hal ini, “apaan sih?” “ah terlalu diada-adain” atau dll. tapi ternyata dengan kemasan yang menarik, anda bisa menjelaskan ke-Liverpool-an anda dengan sangat baik.
Terkesan diada-adain? Nggak! Ini menurut saya ya, semua hal yang ditulis di atas memang saya alamin kok :p
Mulai dari cari pacar yang sesama Kopites atau yg jomblo dibela-belain beli baju kw super, kurang berdoa atau bolos kuliah atau melakukan dosa besar lainnya yang ujung-ujungnya kekalahan LFC di akhir pekannya, sampai terapi mental harus siap diejek temen-temen sekampus. It’s really happened by myself. bahasa kerennya :p

Sekali lagi terimakasih untuk tulisannya, cukup menghibur dan memuaskan hati saya.
Saya akan share ini ke temen-temen Kopites Unpar, pasti ntar bisa menjadi hal yang menarik utk dibicarakan bersama saat kongkow bareng.
Terima kasih #YNWA


Feb 19, 2013

Semoga Nadya,mendapatkan tanda tangan sang Captain…
Thank’s atas therapy-nya Mate….



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Hanya Satu: Jamie Carragher
Di antara riuhnya chants dari para suporter di Anfield, satu suara lantang dari lini belakang menembus telinga para pemain...