Artikel / Feature / July 18, 2011

[Terjemahan] The Scouser Report: Soccernomics, Moneyball and Liverpool’s Transfer Policy

Apakah kesamaan yang dimiliki seorang penulis Inggris, seorang profesor ekonomi dan tim baseball Oakland Athletics? Ketiganya memiliki pengaruh besar dalam kebijakan transfer LFC di bawah pemilik barunya.

Buku karangan Michael Lewis berjudul “Moneyball” membongkar tradisi transfer sebuah tim baseball, membeberkan bagaimana Oakland Athletics mampu bersaing di papan atas Major League Baseball walaupun memiliki pemasukan yang jauh lebih kecil dari rival-rivalnya. Dengan lebih memperhatikan pemain-pemain yang tidak konvensional, statistik yang tidak tradisional dan pilihan draft yg lebih tua, Oakland mampu stabil di papan atas MLB dengan anggaran gaji yang kecil.

Seorang penulis Inggris bernama Simon Kuper dan seorang profesor ekonomi bernama Stefan Szymanski bekerja sama menulis “Soccernomics” atau yang lebih dikenal dengan judul “Why England Lose…”. Terinspirasi dari “Moneyball” buku ini mencoba menerapkan apa yang dilakukan Oakland Athletic ke olahraga sepakbola. Ada 10 peraturan mendasar dalam Soccernomics:

1. Manager baru akan menghabiskan uang, oleh karena itu, batasi kekuasaan mereka dalam transfer pemain
2. Minta pendapat soal pemain yang di incar dari beberapa pihak dengan latar belakang yang berbeda
3. Hindari mendatangkan pemain yang baru saja bersinar di sebuah turnamen internasional
4. Hindari kebangsaan terntentu (seperti Brazil, Belanda) karena mereka cenderung berharga terlalu mahal (overpriced)
5. Beli pemain di usia awal 20an; pemain yang lebih tua nilainya terlalu tinggi sedangkan pemain remaja belum berkembang sepenuhnya
6. Jual pemain sebelum tim lain melihat penurunan dalam permainannya atau ketika sebuah klub menawar di atas nilai jualnya
7. Dapatkan pengganti pemain-pemain terbaikmu sebelum menjual mereka
8. Jangan membeli striker karena mereka berharga mahal; kembangkan penyerangmu sendiri (dari akademi)
9. Beli pemain yang meiliki masalah personal, lalu bantu mereka mengatasi masalahnya tersebut
10. Bantu pemain-pemain baru beradaptasi di tempat baru.

Tambahkan 10 peraturan di atas dengan satu aturan penting dari Moneyball: Keluarkan biaya ekstra untuk mengisi posisi yang lowong di skuad, karena semakin cepat semua posisi terisi, semakin cepat sebuah tim dapat menghasilkan. Dengan melihat aturan-aturan di atas, kita bisa memahami keputusan-keputusan yang diambil oleh LFC. Mari kita lihat bagaimana aturan-aturan tersebut diaplikasikan oleh pemilik baru LFC, Fenway Sports Group:

1. Manager baru akan menghabiskan uang, oleh karena itu, batasi kekuasaan mereka dalam transfer pemain

Dalam sepakbola, manager adalah “pegawai” jangka pendek kecuali klub sangat beruntung. Menurut Asosiasi Manager Liga (LMA), rata-rata masa menjabat seorang manager di EPL adalah kurang dari 18 bulan, sementara rata-rata seorang pemain bermain di satu klub adalah 3 tahun. Perpindahan pemain yang mempengaruhi biaya belanja pemain meningkat drastis ketika seorang manager baru diangkat dan ingin segera menunjukkan pengaruhnya di dalam tim. Dari yang kita dengar, FSG mempunyai prosedur sebagai berikut menyangkut transfer di LFC:
* Kenny Dalglish memberitahu Damien Comolli apa yang di butuhkan oleh timnya
* Comolli kembali ke Kenny dengan daftar pemain-pemain yang dianggap sesuai dengan kriteria dan dipilih dengan mengikuti peraturan-peraturan di atas
* Kenny kemudian memilih pemain dari daftar yang sudah dibuat Comolli tersebut

Buku Kuper dan Szymanski memberikan kebijakan di klub Prancis, Lyon sebagai contoh bagaimana peraturan-peraturan di atas di aplikasikan. Manager Lyon ikut dalam rapat transfer pemain tapi pada akhirnya mempunyai sedikit pengaruh bahkan sering tidak punya pengaruh sama sekali dalam pengambilan keputusan transfer pemain karena ini di putuskan oleh sebuah komite. Menurut saya sistem Liverpool lebih efektif dari yang di jalankan Lyon. Seorang manager haruslah menjadi pengambil keputusan terakhir menyangkut pembelian pemain, karena pada akhirnya, penampilan mereka semua adalah tanggung jawabnya. Sebuah tim akan menghasilkan apabila manager dan pemain bekerja sama sebagai sebuah kesatuan yang padu.

2. Minta pendapat soal pemain yang di incar dari beberapa pihak dengan latar belakang yang berbeda

Di Anfield, setiap transfer pemain adalah hasil kerjasama antara Dalglish (yang memiliki pengalaman bertahun-tahun melatih dan bermain di klub) dan Comolli (Pelaksana Sabermetrics di Liverpool dan memiliki mata yang jeli untuk melihat talenta pemain). Proses ini memastikan bahwa semua hal menyangkut pemain yang diincar diperhatikan dengan seksama. Seperti yang dituliskan oleh Andrew Beasley di awal minggu ini; etos kerja pemain, perilaku dan mentalitas, sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Comolli dan Dalglish akan bertanya apakah seorang calon pemain bisa beradaptasi dengan tim sekelas Liverpool. Bagaimana dia akan bereaksi bila kehilangan tempat di tim inti? Apakah dia akan senang dengan sistem rotasi? Ini dan banyak lagi pertanyaan lainnya akan ditanyakan. Tidak ada gunanya mengeluarkan 20 juta poundsterling untuk seorang pemain sayap berbakat fenomenal namun kemudian menemukan bahwa dia akan ngambek dan bertingkah begitu merasakan di bangku-cadangkan pertama kalinya.

3. Hindari mendatangkan pemain yang baru saja bersinar di sebuah turnamen internasional

Apa yang ditunjukkan oleh sebuah klub ketika dia membeli pemain yang baru saja bersinar di Piala Dunia…mari kita merujuk pada “Moneyball”:

“sebuah kecenderungan untuk terlalu terpengaruh kepada performa seorang atlet baru-baru ini: apa yang baru saja dia lakukan tidak selalu berarti sama dengan apa yang dia lakukan nanti”

The Reds pernah menjadi korban dalam hal ini sebelumnya, Ryan Babel membawa Belanda ke semi-final Piala Eropa U-21 sebelum pindah ke Merseyside seharga £11.5m sementara si bad boy El-Hadji Diouf, yang kini sedang mangkir dari latihan di Blackburn, mendapatkan medali runner-up di Piala Afrika 2001 dan kemudian dianggap pantas untuk dihargai £10m. Sebuah turnamen internasional tidaklah cukup untuk mengumpulkan statistik seorang pemain, oleh karena itu sering terjadi anomali. Lihat saja rekor 1 gol per pertandingan Milan Baros di Piala Eropa 2004 dibandingkan dengan rekornya di klub yaitu hanya 1 gol setiap 3 pertandingan.

Luis Suarez dikontrak oleh LFC hanya 6 bulan setelah penampilannya yang memukau di Piala Dunia 2010 dimana dia mencetak 1 gol setiap 2 pertandingan dan juga menunjukkan kemampuannya sebagai penjaga gawang. Bisa dibilang bahwa kasus Suarez ini menunjukkan kontradiksi dengan aturan Moneyball, tetapi jika kita melihat rekornya sebelum Piala Dunia, maka bisa dilihat bahwa penampilannya itu bukanlah suatu kebetulan. Suares mampu secara rata-rata mencetak 1 gol setiap 120 menit bermain selama 5 tahun bermain di Ajax sebelum Piala Dunia dan mencetak 49 gol di semua kompetisi untuk Ajax musim 2009-2010.

4. Hindari kebangsaan terntentu (seperti Brazil, Belanda) karena mereka cenderung berharga terlalu mahal (overpriced)

Mana yang lebih terkesan elegan? Pemain Brazil yang cerdik atau pemain Slovenia yang penuh skill? Sesuai yang saya pikirkan. Jika saya berkata pada anda bahwa ada seorang pemain menyerang yang baru saja menikmati musim terbaik di karirnya yang masih muda tapi belum pernah bermain di luar kampung halamannya, berapa menurut anda harga pemain tersebut? dan apakah pembeliannya adalah ‘perjudian’ yang pantas dilakukan? Bagaimana bila harganya ternyata hanya beberapa juta pound saja? Bandingkan uang sebesar €2.3m yang dibayarkan Palermo untuk membeli pemain Slovenia Josip Iličić musim lalu dengan harga €40m yang kabarnya diminta untuk membeli Neymar, maka kamu akan melihat satu alasan lagi mengapa The Reds fokus kepada pemain-pemain dari Inggris.

5. Beli pemain di usia awal 20an; pemain yang lebih tua nilainya terlalu tinggi sedangkan pemain remaja belum berkembang sepenuhnya

Teori ini lahir dari bagaimana Oakland Athletics berkonsentrasi pada pemilihan pemain (draft) dari universitas. Seorang remaja belum berkembang sepenuhnya dan margin antara sukses dan gagal terlalu besar untuk membuat penilaian yang akurat di usia tersebut. Lihatlah daftar pemenang Golden Ball di piala dunia u17 untuk memahami hal ini. Pemain di usia awal 20-an telah lebih terbentuk di bandingkan pemain remaja dan pada usia ini bisa terlihat lebih jelas dia akan menjadi pemain seperti apa. Sementara pemain yang lebih tua meminta gaji lebih dan biaya transfer karena mereka di anggap sudah ‘jadi’. Joe Cole dan Milan Jovanovic, keduanya telah melewati puncak karir mereka, dan keduanya adalah free transfer tapi keduanya memberatkan klub dengan gaji diatas €200k/minggu. Oleh karena itu, ada keuntungan tambahan dengan menjual pemain-pemain yang di beli di usia 20an ketika mereka telah mencapai puncak karir mereka sementara kita hanya membayar gaji yang rendah selama mereka bermain.

6. Jual pemain sebelum tim lain melihat penurunan dalam permainannya atau ketika sebuah klub menawar di atas nilai jualnya

Dalam sesi latihan, seorang pemain akan melalui test yang lebih komprehensif akan kemampuan yang dia miliki di banding pada pertandingan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penurunan kemampuan pemain akan lebih dahulu terlihat oleh para staff pelatih sebelum terlihat di pertandingan yang sebenarnya. Lihatlah contoh Raul Meireles. Pemain Portugal ini adalah salah satu pemain terbaik di LFC di paruh kedua musim tapi kini gencar digosipkan akan dilego oleh klub. Kita tidak tahu apa yang terjadi sehari-hari di dalam tim tapi ada beberapa indikasi Meireles sedang mengalami penurunan dalam permainannya.

Arsene Wenger adalah manager yang terbaik dalam hal ini. Apakah itu Thierry Henry, Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Alex Hleb, daftarnya terus bertambah, jarang sekali seorang mantan pemain Arsenal bermain di klub barunya sebagus ketika ia bermain untuk Arsenal. Setiap pemain ini memiliki harganya sendiri-sendir dan kuncinya adalah tidak hanya menjual,secepat mungkin, begitu pemain menunjukkan penurunan tetapi memaksimalkan keuntungan. Bagi calon pembeli, penampilan di pertandingan akan menunjukkan pemain masih dalam kondisi prima dan mereka seringkali bersedia membayar harga yang optimal. Setiap klub penjual harus selalu memiliki harga untuk setiap pemain, jika tawaran pembeli jauh melebihi harga yang sudah ditetapkan maka ini adalah saatnya menjual.

Satu lagi tim yang menjalankan strategi ini adalah FC Porto, sejak pergantian abad, mereka telah mengeruk keuntungan sebesar €190m dari penjualan pemain dan juga mampu mendominasi liga Portugal. Kenapa LFC tidak bisa mencapai hasil yang sama di Premier League?

7. Dapatkan pengganti pemain-pemain terbaikmu sebelum menjual mereka

Ini seharusnya menjadi praktek standar di klub tapi nyatanya tidak demikian. Ketika LFC hendak menjual Fernando Torres mereka memastikan fee yang di dapat cukup untuk menutupi fee Andy Carroll plus keuntungan sebesar £15m. Transfer Stewart Downing, gosipnya berlarut-larut karena Aston Villa ingin memastikan penggantinya, Charles N’Zogbia pasti didapatkan sebelum menjual Downing. Jika melihat opsi pemain tengah di LFC yang menumpuk muncullah pertanyaan, siapa datang menggantikan siapa?

8. Jangan membeli striker karena mereka berharga mahal; kembangkan penyerangmu sendiri (dari akademi)

Dengan menggabungkan laporan dari firma akunting KPMG dan Laporan tahunan sepakbola Eropa, kita dapat berestimasi bahwa para striker berharga sebesar £3.8m per musim di bandingkan dengan kiper (£1.2m), permain bertahan (£2.1m) dan pemain tengah (£2,9m). Jadi terlihat striker berharga lebih tinggi namun bermain lebih sebentar di klub mereka secara rata-rata.

“Oh, tapi kenapa Liverpool mengeluarkan £35m untuk pemain Geordie jangkung itu, sedangkan dia seorang striker. Berarti mereka tidak mengikuti aturan strategi, oh sayang…” Tenang, hal ini akan segera di bahas.

“Oh but Liverpool spent £35m on that lanky Geordie bloke, he’s a striker. They don’t follow the strategy, oh the shame….” Relax, I’ll get to you lot soon enough.

9. Beli pemain yang meiliki masalah personal, lalu bantu mereka mengatasi masalahnya tersebut

Kecanduan alkohol? judi? terlibat dengan pelacur? Tidak masalah; malah harganya menjadi turun. Pemain dengan masalah masalah pribadi biasanya tersedia dengan harga murah. Kasar dan senang minum-minum? Ya, dia lagi: Andy Carroll. Rusuh di klub malam, insiden di sesi latihan, mobil Range Rover terbakar? Carroll pernah mengalami itu semua. Mantan pemain Magpies tersebut tampak berhenti minum begitu pindah ke Merseyside, terlihat dari kata-kata Dalglish berikut:

“Well, dia tidak pernah membelikan saya minum. Saya bersama-sama dia menonton konser Boyzone tapi dia masih belum membelikan saya minum” Dalglish

Pemain dengan masalah-masalah personal biasanya tidak banyak peminatnya dan harga pasaran mereka lebih rendah dari biasanya.

“Tapi Carroll kan di beli seharga £35m, mereka masih tidak ikut strategi…” Sabar, bukankah saya bilang akan saya jelaskan nanti?

10. Bantu pemain-pemain baru beradaptasi di tempat baru.

Tentu logikanya memang harus demikian kan? Bantu pemain baru segera beradaptasi di klub sehingga mereka bisa berkonsentrasi pada permainannya, tapi jika anda sudah membaca “Why England Lose…” anda akan tahu bahwa hanya beberapa klub yang melakukan hal tersebut. Pemain adalah manusia; hanya karena gaji mereka seminggu sama dengan (atau melebihi) gaji anda setahun tidak merubah fakta bahwa mereka hanya manusia. Bahkan malah fakta ini justru bisa membuat lebih parah. Bayangkan semua fantasi liar yang anda miliki jika anda memenangkan lotere? Well, mereka hidup dalam fantasi itu, tanpa ada yang menahan. Jadi, akan lebih baik membantu pemain beradaptasi secepatnya di tempat barunya dan buat dia segera fokus kepada tugasnya di tim. Jika ini berarti harus pergi menonton konser Boyzone dengan ‘inverstasi’ baru anda, lakukanlah. Ini akan membuat dia lebih cepat menjadi pemain yang produktif.

Bagi mereka yang mempertanyakan dedikasi Liverpool menjalankan strategi Moneyball menyangkut Andi Carroll, ingat peraturan terakhir yang di atas segala peraturan lain: Keluarkan biaya ekstra untuk mengisi posisi yang lowong di skuad, karena semakin cepat semua posisi terisi, semakin cepat sebuah tim dapat menghasilkan.

Klub tidak akan menghasilkan uang jika tidak kompetitif, sedangkan untuk jadi kompetitif dibutuhkan skuad yang kuat. Ketika Torres mulai menyatakan ingin pindah dari Anfield, klub menghadapi kenyataan hanya memiliki N’Gog, Kuyt, Pacheco dan Jovanovic sebagai penyerang utama. Memang, saat itu mereka sedang dalam negosiasi dengan Ajax untuk mendatangkan Suarez, tapi saat itu mereka belum setuju dengan harga yang diminta Ajax untuk membeli kapten mereka. Tidak ada dari daftar pemain penyerang yang dimiliki klub yang dianggap mampu menjadi penerus Torrs, oleh karena itu FSG, terjebak dalam situasi tersebut, mengambil resiko dan mengeluarkan £58m untuk mendatangkan Carroll dan Suarez.

Kualitas skuad cadangan pemain tengah juga mencemaskan. Setelah Meireles, Gerrard dan Lucas, hanya ada Spearing dan Poulsen. FSG pun menyetujui melakukan penawaran untuk membeli Charlie Adam dari Blackpool dan Jordan Henderson dari Sunderland dengan total nilai tawaran £23.5m.

Sementara itu tidak ada pemain sayap bagus yang bermain di klub sejak Steve McManaman. Musim lalu, LFC harus memainkan Kuyt, Maxi, Joe Cole bahkan Meireles di sayap. Tidak ada dari nama-nama tersebut yang merupakan winger murni, jadi untuk mengatasi hal ini, FSG menawarkan £20m kepada Aston Villa untuk membeli Stewart Downing

Minggu depan, jika engkau menarik rambutmu keheranan kenapa Liverpool berusaha sedemikian keras untuk mengalahkan Arsenal dalam memperebutkan Scott Dann, ingatlah, ada metode yang mendasari semua hal yang dilakukan oleh klub. (mn)

Artikel ini diterjemahkan dari artikel: The Scouser Report: Soccernomics, Moneyball and Liverpool’s Transfer Policy tulisan Daniel Doran
http://worldfootballcolumns.com/2011/07/15/the-scouser-report-soccernomics-moneyball-and-liverpools-transfer-policy/



Bookmark and Share




Previous Post
Mengapa Adam dan Carroll Membutuhkan Downing?
Next Post
Pemain Tengah Terlalu Banyak?







1 Comment

Sep 01, 2011

[…] Pada poin ini, nampaknya tidak akan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut FSG (pemilik LFC) dalam kebijakan transfer / manajemen pemain. Silahkan baca terjemahan artikel kami beberapa waktu lalu  disini […]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Mengapa Adam dan Carroll Membutuhkan Downing?
Sementara Carroll masih belum membuktikan nilainya yang sebesar GBP 35M, kita sudah kedatangan lagi 2 midfielders (Jordan...