Berita & Rumor / April 11, 2014

Testament: Menangkan Untuknya

Gegap gempitanya Anfield Road menjelang akhir musim 2013/14 ini semakin menjadi-jadi. Bukan hanya karena para pemain yang sudah berniat bermain sepenuh hati walau sang Gaffer menyatakan kami hanya akan menghadapi semua pertandingan akhir musim ini satu persatu. Juga karena sekelompok pemuda tanggung yang memutuskan menyambut dengan banner dan chants meriah untuk para pemain saat kembali ke rumah mereka bak pahlawan pulang dari medan perang. Ya, Meriah.

unnamed

Usia mungkin sudah tidak muda lagi bagi seorang pemain bola, dia sudah masuk ke daftar pemain uzur. Dengan segala kemampuan dan pengalaman yang dia punya, tentu mendapati sambutan semeriah itu mengantarkan ingatannya kembali ke masa 08/09. Dimana segala harapannya sangat tinggi berbanding lurus dengan tenaga yang membuncah.

Pengalaman selama 16 tahun berkarir sebagai penggiring bola, menjadikannya bak seorang legenda. Ya, Legenda. Semua mimpi-mimpinya sudah kita dengar bahkan rasakan. Bahkan saat impiannya hancurpun kita rasakan bersama. Gregetan, mrengut karena kita hanya bisa bilang, Bajingan! dari kejauhan.

Saat kawan-kawan baru, menjadi sahabat lalu pergi. Meruntuhkan semua mimpi-mimpi yang dibicarakan bersama dipinggir kolam renang bersama 1,2, 3 gelas Ale. Kesedihan itu nyata, performa menurun ditimpali dengan kondisi klub yang diserbu lintah darat. Saat kesempatan menjadi juara hilang, tawaran berduyun-duyun mendatanginya untuk berganti baju zirah kebanggaannya. Dia bertahan. Dengan segala keyakinannya, dia menjawab saya akan bawa kemenangan kembali ke Anfield.

Jawaban untuk berduyun tawaran & kepergian sahabatnya itu adalah sebuah kalimat retoris nan heroik.”Kalau aku mati, jangan kau bawa aku ke rumah sakit atau gereja. Bawa aku ke Anfield. Aku lahir dan besar disana.” Supporter seperti apa yang tidak akan merinding mendengar kalimat itu. Sebuah testament untuk dirinya sendiri, Sang Legenda.

Di usianya yang tidak muda lagi, tentu saja berbagai posisi penting dalam sepakbola sudah diinstrusikan di telinganya. Bahkan memasuki musim 13/14 ini pergeseran posisinya yang semakin dalam sempat membuat beberapa mulut berteriak. Namun seiring waktu, kepiawaiannya beradaptasi membuat mulut-mulut itu akhirnya berdecak kagum. Racikan yang pas dipadu dengan kepandaian masing-masing individu dalam tim, menjadikan Liverpool mesin pembunuh tak terhentikan memasuki paruh waktu musim ini.

Euforia sudah mulai bermunculan dari seluruh penjuru dunia, bukan hanya mereka yang di Liverpool. Hashtag dibuat dengan mengedepankan mimpi-mimpi indah. Namun semua itu diimbangi dengan performa tim yang mumpuni.  Wajar. Para pesimis terduduk menahan laju keyakinannya sendiri, agar tidak terlalu terbawa arus. Melihat dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Sebagai fans yang tinggal jauh dari stadion kebanggaan, hanya bisa mengamini mimpi-mimpi itu, menikmati euforia yang muncul. Bahkan saat pelatih dan pemain berujar dengan keyakinan yang sama. Hanya bisa bilang, Mari kita dukung dengan sepenuh hati, sudah saatnya Steven George Gerrard mengangkat piala itu.

Menangi musim ini untuk dia.



Bookmark and Share




Previous Post
Miracle Is Possible
Next Post
The Unsung Hendo







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Miracle Is Possible
Dalam perjalanan liburan dua pekan lalu bersama beberapa rekan saya, ada salah seorang yang berujar bahwa inilah saatnya...