Artikel / Berita & Rumor / Lain lain / August 27, 2014

The Curious Case Of Liverpool’s Defense

City of Manchester Stadium, memang selalu jadi tempat yang sulit bagi Liverpool FC untuk menuai poin. Dan inilah yang terjadi, Selasa dini hari lalu. Kondisi yang ditambah buruk dengan fakta bahwa ini masih pada phase awal musim, di mana masih banyak hal yang perlu disesuaikan. Kekalahan adalah hasil yang diterima, melawan juara bertahan, punya lini serang mematikan, dan seringkali memporak-porandakan tamunya. Fair, saya berani mengatakan demikian. Toh penampilan di sana tak buruk pula.

Yang menarik bagi saya adalah berseliwerannya beberapa nama yang nampak jadi Kambing Hitam Of The Match di timeline twitter saya, mungkin anda juga mengalaminya? Dalam batas tertentu fenomena ini saya lihat sebagai hal yang wajar atas beberapa alasan. Alasan pertama adalah paling mudah memang menganggap orang terdekat dengan pencetak gol sebagai pihak yang patut disalahkan. Yang kedua, nama-nama yang menduduki top list sebagai Kambing Hitam Of The Match adalah pemain yang didatangkan dengan nilai transfer besar, ataupun gaji besar. Alberto Moreno, Dejan Lovren dan … well … Glen Johnson.

Saya pribadi memilih melihat gol-gol tersebut sebagai kesalahan kolektif system pertahanan Liverpool, ketimbang menunjuk individu tertentu. Tapi tak ada salahnya kita lihat satu persatu, alasan yang mungkin menjadi latar belakang terlahirnya Kambing Hitam Of The Match tersebut.

image from panditfootball.com

Ini adalah ilustrasi proses terjadinya gol pertama. Dimulai  dari Allen yang seperti tak berkoordinasi dengan Moreno untuk antisipasi pergerakan Jovetic berikutnya. Dari situ muncul kondisi Moreno seperti ada dalam posisi tanggung, double cover Jovetic bersama Allen pun tidak. Sementara itu, Gerrard pun terlihat telat mengantisipasi upaya Silva yang sudah mengintai space yang begitu lega antara Lovren dan Gerrard.

Tentang space menganga tersebut, Lovren mestinya jeli dengan space longgar di depannya, meskipun dia tau bahwa Gerrard akan mengawal gerak Silva. Skrtel, yang berada cukup dekat dengan Lovren pun seperti tidak memberikan instruksi ke Lovren untuk menutup ruang itu. Kombinasi ketiga kondisi tersebut dengan jeli dimanfaatkan Nasri untuk mengirim crossing ke kotak penalty.

Lovren (dan Gerrard) yang akhirnya melakukan double cover kepada Silva memang memenangkan duel udara, akan tetapi dalam posisi yang tidak menguntungkan. Bola tidak sempurna dibuang. Meski demikian, awareness Moreno pun ambil peran dalam gol ini. Alberto tidak menyangka bahwa Jovetic ternyata sudah dilepas Allen. Bola buangan Lovren masih dibayangkannya akan bisa dia sapu dengan kaki terkuatnya, tanpa sadar bahwa pergerakan Jovetic di belakangnya begitu cepat. Dan … bang! A warm welcome to Premier League for Moreno.

Pellegrini sangat jeli membaca situasi bahwa sisi kiri pertahanan Liverpool belum padu. Hasilnya, memasuki 10 menit pertama babak ke-2, Jovetic berhasil menggandakan keunggulan. Diawali dari posession City di sisi kiri LFC, akhirnya koordinasi Gerrard dkk buyar. Jovetic bisa mendapatkan ruang. Gerrard semestinya bertugas mengawalnya, malah mencoba ikut memenangkan bola yang sedang dikuasai Silva, nampaknya tak mau mengulangi kesalahan di gol pertama. Henderson yang kemudian menjadi orang terdekat dengan Jovetic, dan sedang tidak mengawal siapapun, tidak mencoba menutup ruang gerak penyerang asal Montenegro ini. Melihat kondisi demikian, Lovren yang merangsak naik.

image by panditfootball.com

Keputusan Lovren untuk naik ini, dari yang saya baca adalah prinsip dasar pemain bertahan (saya tidak pernah bermain bola) yaitu ketika rekannya di lini pertahanan yang terdekat dengan bola bergerak naik, maka seharusnya yang lainnya mengikuti naik. Lovren melihat Moreno bergerak maju, dia pun mengikuti sekaligus mencoba menutup ruang gerak Jovetic yang “dibiarkan” tak terkawal. Langkah yang ditempuh Lovren ini sayangnya tak diikuti oleh Skrtel dan Johnson. Semestinya, jika diikuti maka Zabaleta, Nasri, dan Dzeko akan terperangkap offside.

Kenapa Skrtel dan Johnson yang harus ikut pergerakan Lovren? Bukankah Lovren didatangkan untuk memimpin back four? Hmm, mungkin faktor senioritas jadinya 2 pemain ini tak mengikuti Lovren. Hahaha.

Kondisi ini diperburuk dengan Hendo yang tetap tidak melakukan pengawalan ke Jovetic yang kemudian mendapatkan ruang yang begitu lega, untuk menerima umpan balik dari Nasri.

Bang! 2-0. The Left side misery.

Bagaimana dengan gol ke-3? Lovren lagi-lagi menjadi sorotan. Tanpa bermaksud membela nya, mengantisipasi pergerakan striker sekelas Aguero memang tricky. Ditambah dengan adanya mental pressure akibat merasa andil dalam 2 gol sebelumnya. Ketika sebelumnya Lovren sudah diikuti oleh Skrtel dan Glenjo untuk menjaga Kun tetap di posisi offside, kepanikan nampaknya melanda Lovren karena dia malah bergerak ke posisi yang membuat Sergio menjadi on side.

Disebutkan dalam artikel dari panditfootball yang ini “Buruknya Koordinasi Pertahanan Liverpool” disebutkan bahwa pada gol ke-3, proses di atas diperburuk dengan Mignolet yang ragu dalam membuat keputusan. Antara menutup ruang tembak Aguero, atau tetap bertahan di belakang. Dan yaa, anda tidak boleh ragu ketika berhadapan dengan striker sekelas menantu Maradona ini, bukan begitu?

Lalu apakah yang menyebabkan kocar-kacirnya koordinasi lini pertahanan Liverpool itu?

Bagi saya sederhana saja, waktu bermain yang belum cukup lama membuat ke-4 pemain belum padu. Moreno menjalani debut. Lovren baru bermain sekali (melawan Southampton) di ajang kompetitif. Bukankah ada semacam kesepakatan tak tertulis yang menyebutkan bahwa lini pertahanan adalah yang paling rentan jika terlalu sering dirotasi ? Chemistry tak segera terbentuk. Sedangkan ada artikel yang menyebutkan bahwa dalam filosofi Rodgers, System Is The King. Dan untuk teciptanya system tersebut dibutuhkan pemain yang memiliki “high mutual understanding”. Ini yang belum tercapai di lini pertahanan kita, khususnya di sisi kiri yang diisi pemain-pemain baru.

Lovren yang diharapkan menjadi leader lini pertahanan, sepertinya belum cukup “menancapkan” taji nya. Mungkin masih malu-malu dan grogi.

Khusus untuk Moreno, ada satu hal lagi yang mungkin punya pengaruh besar dalam koordinasi, yaitu language barrier.

Pellegrini jelas bukan tanpa alasan apapun menginstruksikan anak-anaknya untuk menyerang sisi kiri pertahanan Liverpool. Dia sangat jeli melihat ini.

Harapannya, dengan latihan intensif 2-3 minggu dan memfokuskan pada lini pertahanan, kondisi ini akan segera dapat diperbaiki. Nilai transfer Lovren, bagaimanapun akan menjadi bukti bahwa bek ini sebenarnya sangat handal. Hanya karena belum klik. Demikian pula dengan Moreno, di luar kesalahannya menyapu bola di gol pertama Jovetic, dia tampil impresif sebagai debutan dan di pertandingan besar.

Adakah yang terlewat sejauh ini?

Hmmm. Glen Johnson ? Dalam pada ini tak ada kontribusi major nya dalam sistem pertahanan Liverpool yang mengakibatkan gol City. Jadi agak aneh bagi saya jika kemudian muncul hash tag #JohnsonButut lepas pertandingan kemarin. Apalagi sampai ada terbaca oleh saya, sebuah twit yang mengharapkan Johnson lebih baik cedera lebih awal? You must be kidding

@ryswanto

credit for panditfootball.com for the images and article for reference



Bookmark and Share




Previous Post
Farewell, Genius!
Next Post
[loan watch] Danny Ward : Menebar Pesona Di Skotlandia



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Farewell, Genius!
140 karakter dalam setiap tweet tidak bisa menjelaskan lebih detil sebuah pemikiran, bahkan ketika dirangkai dalam serial...