Artikel / Berita & Rumor / Lain lain / May 8, 2014

The Judgement Day

Minggu, 30 April 1995. Blackburn Rovers menjalani pertandingan ke-40 nya di ajang Premier League (saat itu ada 22 tim yang berkompetisi) di kandang West Ham United. Saat itu, Blackburn memuncaki klasemen dengan 86 poin. Peringkat ke dua saat itu adalah Manchester United yang mengumpulkan poin 78 poin, dan baru memainkan 38 pertandingan.

Yang terjadi berikutnya pada Minggu sore itu, anak-anak asuhan Dalglish tunduk di Upton Park. 2-0. Mark Rieper dan Don Hutchison adalah pencetak gol untuk The Hammers.

Kehilangan poin dari pertandingan itu berakibat pada makin mendekatnya pesaing mereka saat itu, yang satu hari setelahnya menjalani laga ke-39 mereka. Red Devils meraih kemenangan tipis di kandang Coventry, 3-2. Poin mereka bertambah menjadi 81. Lebih buruk lagi bagi Blackburn, saat ManUtd berhasil meraih poin penuh di Old Trafford setelah menundukkan Sheffield Wednesday dengan skor tipis juga, 1-0. 84 poin mereka raih. Tinggal dua angka selisih dengan The Rovers, dan sudah melakoni pertandingan dengan jumlah yang sama.

Game Week 41 baik The Rovers maupun Manchester United, sama-sama berhasil meraih angka penuh. Rovers 89, Manchester merah 87. Jarak tetap terjaga.

Jadilah game terakhir musim itu, menjadi laga penentu.

Kenny Dalglish mudik ke Anfield.

Publik Anfield saat itu, demi sentimen dan rivalitas dengan Manyoo jelas berharap Blackburn yang meraih gelar juara. Ketika starting line up Blackburn terdengar dari PA, seisi stadion bertepuk tangan. Shearer mencetak gol ke-34 di Premier League musim itu pada menit 37. Rovers memimpin. Situasi makin “menyenangkan” ketika tersiar kabar, Michael Hughes berhasil merobek gawang Manyoo, 6 menit sebelum Shearer mempecundangi James.

Kabar dari Upton Park tersiar lagi. Brian McClair menyamakan kedudukan setelah mencetak gol untuk Manyoo. 1-1. Jika saja demi rivalitas, apalagi mengingat Blackburn di asuh oleh Kenny Dalglish, Liverpool bisa saja menyerah dan membiarkan Blackburn unggul.

Tapi tidak.

John Barnes, menceploskan bola ke gawang Tim Flowers, tepat di sudut yang sama dengan gol Shearer ke gawang James pada menit 64. Peluang demi peluang dimiliki kedua tim. Hingga akhirnya pada menit 90, si kriwil McManaman dijatuhkan oleh Colin Hendry. Free kick dihadiahkan Elleray DR sang pengadil untuk Liverpool. Giliran si ganteng Jamie Redknapp beraksi. Tendangan bebas nan indahnya, memaksa Tim Flowers memungut bola dari gawangnya. 2-1.

Ada rencana besar dirancang oleh pihak-pihak tertentu yang entah siapa. (kalau saya tulis ini rencana Tuhan, nanti dibilang aneh)

Ketika Blackburn kehilangan poin di game terakhir yang krusial, saingan terdekat mereka gagal meraih poin penuh dari The Hammers di Upton Park.

Meski menderita kekalahan, Blackburn menjuarai Premier League 1994/1995.

***

Itu adalah kali pertama sejak era Premier League, penentuan juara terjadi di game terakhir. Drama selanjutnya terjadi pada tahun 98/99, 07/08, 09/10 dan terakhir yang masih segar di ingatan kita. 11/12 ketika pesaing terdekat Liverpool FC saat ini, The Citizens keluar sebagai juara, tak hanya di game terakhir namun juga di menit menit terakhir game terakhir. Juara, karena selisih gol atas tetangga se-kota nya.

Anda mungkin bertanya tanya, kenapa saya lebih memilih merinci peristiwa drama perebutan juara musim 94/95 ? Atau anda sudah menangkap maksud saya?

Salah satu faktor Blackburn menjadi juara pada musim itu adalah duet striker mereka, Alan Shearer dan Chris Sutton menjadi duet maut dengan mencetak total 49 gol. Shearer menjadi top skorer 94/95 dengan 34 gol dan 19 assists. Sementara Sutton membukukan 15 gol dan 24 assists. Sutton menempati posisi kedua sebagai penyumbang assist terbanyak setelah Darren Anderton yang mencatatkan 27 assist.

SAS – Shearer and Sutton.

Mungkin hanya suatu kebetulan saja, ketika musim Liverpool memiliki duet maut berjuluk SAS juga. Suarez  menjadi pencetak gol terbanyak di liga, dengan 31 gol sejauh ini. Dan tak satupun dari 31 gol tersebut berasal dari titik penalti. Rekor itu dilengkapinya dengan menjadi pemberi assist terbanyak dengan 12, sama dengan kapten mereka, Steven Gerrard.  Tandemnya, Daniel  Sturridge menorehkan 21 gol dan 7 assist sejauh ini.

SAS – Suarez and Sturridge. Mencetak 52 gol total,  memecahkan rekor SAS 94/95 yang hanya 49 gol.

Shearer pada musim 94/95 memenangkan Professional Football Association (PFA) Player Of The Year sekaligus Football Writers’ Association Player Of The Year. Personal Awards yang juga diraih Luis Suarez musim ini.

West Ham United.

Klub dari sisi timur London ini menjadi duri bagi dua kandidat juara musim 94/95. Rovers dan Manyoo sama-sama kehilangan poin saat melawan mereka.

Ahad nanti, seluruh Liverpool supporter di tiap sudut jagat raya ini pasti berharap The Hammers melakukan hal yang sama. Menjadi duri yang melukai tim asal Manchester, kali ini yang berseragam biru.

Meskipun …

Sam Allardyce mungkin memilih melakoni peran antagonis untuk Liverpool FC. Saya selalu beranggapan bahwa Big Sam ini punya kebencian pada Liverpool FC. Hahahaha. Belum lagi, sosok Carroll, Downing dan Lionel Messi nya Inggris, Joe Cole mungkin juga masih menyimpan kekesalan tersendiri ke mantan klub nya (bukankah mantan memang selalu ngeselin di mata kita?) .

Jangan berburuk sangka.

LFC fan bisa berharap pada rekor kebobolan WHU di laga tandang, yang tercatat terbagus ke-4 musim ini dengan hanya kebobolan 23 gol. Catatan yang sama dengan Crystal Palace dan Southampton. Catatan yang semestinya bisa dicontoh LFC. Rekor kebobolan tersebut mungkin tidak akan berguna ketika yang mereka hadapi Minggu malam nanti adalah tim yang sudah mencetak 100 gol musim ini, dan punya banyak alternatif untuk lini serang mereka.

Jikapun harapan bahwa secara ajaib The Hammers bisa menjadi duri beracun untuk Citizens ini terkabul, akan jadi tak berarti jika The Reds tak mampu mengatasi Magpies di Anfield.

Kekecewaan seluruh pemain dengan hasil Senin lalu, harus dikonversi menjadi semangat tersendiri. Semangat untuk menyuguhkan pertandingan menghibur dan berbuah kemenangan, sukur-sukur kemenangan besar untuk seisi Anfield.

Masih punya keyakinan sebagaimana banner besar di Anfield seperti di gambar berikut ini ?

Bj-QfKUCYAEw9Iu.jpg medium

Apabila akhirnya nanti gagal juara, paling tidak 44 ribu lebih pasang mata yang tesebar di The Kop, Paddock, Mainstand, Upper dan Lower Centenary, Annie Road , bisa menatap mereka bangga. Bangga dengan lompatan spektakuler dari posisi 7 musim lalu, menjadi runner up musim ini. Bangga atas kegigihan punggawa-punggawa dibalik jersey merah-merah, yang sudah mengembalikan klub ke arena bermain yang semestinya, Champions League.

Ketika peluang sudah sangat jelas dan gagal, akan menjadi sakit tersendiri jelas akan ada kekecewaan yang besar. Namun paling tidak sudah tersedia banyak pilihan dalam menu penghibur diri. Kita bisa memilih, mulai dari “We’re best behave supporters in the land” , “Apapun yang terjadi, aku tetap cinta LFC” , “LFC till die” , “Ga papa, yang penting target utama kembali ke UCL sudah tercapai, jadi juara kan cuma bonus” hingga kalimat paling sakti yang sudah 24 tahun menemani kita “This Could be Our Season” , diucapkan Agustus nanti.

Now, over to you Boss of The Bosses !



Bookmark and Share




Previous Post
It Ain't Over Till It's Over
Next Post
Tak Ada Yang Ringan, Yang Berat Harus Sama Dipikul



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
It Ain't Over Till It's Over
  José Mário dos Santos Mourinho Félix, lelaki 51 tahun kelahiran Setubal, Portugal ini memang tidak pernah...