Artikel / Feature / April 19, 2014

The Unsung Hendo

 Jordan Henderson celebrates scoring in Liverpool's 5-0 victory over Tottenham at White Hart Lane

 

Pahlawan. Orang yg menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela sesuatu yang dianggap benar. Pahlawan adalah mereka yang memberikan seluruh kemampuan dan keringat untuk hal yang dibela. Pahlawan sesungguhnya adalah mereka yang tak perlu perhatian. Mereka tak mementingkan gemerlap cahaya dan mampu mengangkat pedang di kegelapan. Selalu ada seorang pahlawan di tiap jenjang kehidupan. Sebuah negara memiliki sesosok pemimpin yang dianggap pahlawan. Walau ada juga negara yang menganggap pemimpin mereka tak seperti seorang pahlawan. Seorang pahlawan seyogyanya tak perlu predikat “pahlawan”.

Pada dunia sepak bola, ada banyak sosok yang dianggap sebagai pahlawan. Setiap klub pasti memiliki pahlawan yang akhirnya disebut legenda. Saking banyaknya, tak mungkin saya menyebutkan satu-satu dalam artikel ini. So, mari bahas mengenai pahlawan dari Liverpool musim ini.

Ketika penggemar sepak bola ditanya mengenai pahlawan The Reds, 80 persen jawabannya pasti Steven Gerrard. Sesosok inspirasional yang sudah memimpin Liverpool sejak 2003. Menjadi pemain lokal yang hanya mau membela tim kesayangannya, loyalitas Gerrard berada di titik tertinggi pesepak bola. Prestasinya di level klub mendekati kesempurnaan. Dia hanya butuh trofi Premier League untuk melengkapi prestasinya sepanjang karier.

Stevie G juga dikenal sebagai pemain serba bisa. Versatilitasnya istimewa. Dia dapat bermain sebagai gelandang serang, winger, gelandang bertahan, hingga bek kanan. Anda semua tentu ingat momen Istanbul 2005 dimana Gerrard mengorbankan diri menjadi bek kanan karena Steve Finnan mengalami cedera.

Musim ini juga menjadi kejutan bagi sang pemain. Pada pertengahan musim, Brendan Rodgers mencoba Gerrard sebagai seorang Regista atau Deep Lying Playmaker. Banyak pihak tertawa dan meremehkan. Saya menjadi sosok yang awalnya tak yakin Gerrard mampu menjalani peran Andrea Pirlo dengan baik bersama Liverpool. Benar saja, pada beberapa laga awal di pos anyar, Gerrard terlihat masih meraba posisi dan sering membuat kesalahan. Tetapi, semua butuh proses. Learning by Doing. Gerrard membungkam semua kritik dan tampil super istimewa di posisi barunya itu.

Sang pemain bahkan berkata seperti kembali muda dan berada dalam salah satu musim terbaik sepanjang karier. Performa Gerrard sempat tak stabil beberapa musim terakhir, seiring dengan banyaknya belahan jiwa yang hengkang macam Michael Owen hingga Fernando Torres. Namun, sang pemain tak pernah ke lain hati. Pujian pun datang dari B-Rod kepada kapten Liverpool ini.

“I think his form sometimes gets lost a wee bit with Steven because his leadership quality in the team is there for all to see. We mustn’t forget that he’s arguably the best in European football in a controlling role at this moment in time. There’s not many players who can do what he can do, be one of the best attacking midfield players in Europe and then switch to be arguably the best controlling player.” begitu kata Rodgers.

Tak ayal Gerrard sudah membuat 10 assist dan 13 gol musim ini. Pun masuk nominasi sebagai pemain terbaik Premier League bersama Luis Suarez dan Daniel Sturridge. So, menganggap Stevie G sebagai Pahlawan The Reds? Jelas tepat.

Terlepas dari itu, ada satu sosok yang menurut saya menjadi sangat penting musim ini. Meski dia tak semenonjol Gerrard dalam mengontrol permainan. Tak seeksplosif Luis Suarez dan Daniel Sturridge dalam mencetak gol. Serta tak sekreatif Philippe Coutinho dan Raheem Sterling. The Unsung Hero, Jordan Henderson.

Sempat dikatakan sebagai sosok Over-rated saat bergabung Liverpool 2011 lalu dengan harga 16 juta pounds, pada usia yang baru 20 tahun, Henderson gagal membuktikan diri pada musim pertamanya. Bahkan sang pemain nyaris ditukar dengan Clint Dempsey. Namun, Hendo menolak dan ingin berjuang bersama tim.

Benar saja, kemampuannya meningkat drastis dalam satu setengah tahun ke belakang. Khususnya sejak Dr Steve Peters bergabung. Mentalnya jauh berkembang. Performa di atas lapangan bagai mesin diesel yang tak kenal lelah. Henderson bahkan menjadi pemain yang tak pernah absen sekalipun pada 42 laga terakhir Liverpool di Premier League. Terakhir kali B-Rod tidak memasukkannya ke dalam starting XI adalah saat Liverpool takluk 1-3 dari Southampton di St Mary musim lalu. Kembali, saya harus menelan ludah sendiri karena sempat menganggap Aaron Ramsey lebih baik dari Henderson awal musim ini.

Secara statistik, kemampuan menyerang Henderson jauh meningkat musim ini. Dilansir Squawka, sang pemain telah membuat empat gol, tujuh assist, serta 53 key passes. Hebatnya, Henderson tak seperti pemain Inggris pada umumnya. Tak jarang dia melewati pemain dengan nutmeg atau melakukan backheel. Performance score sang pemain di Squawka (754) hanya kalah dari Suarez (1557), Gerrard (1277), Skrtel (1167) dan Sturridge (885). Hal di atas belum termasuk area cover sang pemain yang selalu dicetak tebal oleh fourfourtwo hampir di seluruh area lapangan. Semangatnya yang tak kenal lelah membuat kita mengenang Dirk Kuyt.

Boleh jadi Henderson juga merupakan faktor utama mengapa Gerrard bisa tampil sangat nyaman sebagai Regista. Gerrard dapat mengontrol tempo menyerang dan bertahan dengan sempurna ketika Hendo mencoba mengcover banyaknya area yang seharusnya juga diambil oleh sang kapten, namun terlupakan. Formasi 4-4-2 Diamond secara tak langsung memang menguntungkan Gerrard sebagai Deep Lying Playmaker. Selain mampu tampil maksimal, tugas untuk bertahan hingga press bola acap dilakukan oleh dua gelandang di depannya, Hendo dan Coutinho dengan sempurna.

Permainan Henderson tak tersentuh musim ini. Dia menjadi pahlawan bayangan bagi Liverpool. Jadi, maaf jika saya sangat kesal dan kecewa ketika dia melakukan tekel keras kepada Samir Nasri di injury time laga pekan lalu. Hal tersebut membuat Hendo absen pada tiga laga dari sisa empat laga musim ini. Ya, Liverpool sempat kehilangan Suarez, Gerrard, Sturridge, Lucas Leiva, hingga Coutinho secara bergantian dan tetap mampu menang. Tetapi, kehilangan Hendo seperti kehilangan mesin tim yang mampu bekerja lebih dari 90 menit. Apalagi di saat-saat krusial seperti ini.

Tak hanya saya, ternyata Rodgers juga mengungkapkan betapa pentingnya Henderson untuk tim pada interview teranyarnya Jumat (18/4).

“He’s such an honest guy and he actually got the ball first but we’ve spoken about it and he understands the reasons why he got sent off, which was really unfortunate. But Jordan will still travel with the team. I’ve told him he’s a vital member of the group and he might not be able to affect the next three games on the field but he’s going to be very important for our changing room, our travelling and our hotels because he’s very much a part of us. We’ll lose him on the field but we can’t lose his personality off the field as well which is why he’ll still travel and be a part of what we’re doing.”

Bulu kuduk merinding membaca kalimat Rodgers di atas. Sebegitu vital peran Henderson. Keberadaannya di luar lapangan amat dibutuhkan meski tak bisa tampil. Fraternity (Kebersamaan). Itulah kunci Liverpool musim ini hingga mampu menjadi pemuncak klasemen. Tak ada yang spesial, semua pemain memiliki rasa kebersamaan yang kuat dan punya peran tersendiri.

Harapan semua kopites tentu Rodgers memiliki cara untuk tetap memainkan sepak bola yang menarik dan menghasilkan kemenangan meski tidak ada Henderson. Joe Allen dan Lucas Leiva seharusnya mampu menjalani peran Hendo, meski selama ini keduanya acap bertukar posisi untuk menemani sosok bernomor 14 tersebut. Norwich City, Chelsea, dan Crystal Palace. Tiga tim yang harus dihadapi Liverpool tanpa Henderson. Can we win? I hope so.

Jujur, rasa cemas datang di hati ini. Logika pun terpatri kepada hal-hal negatif. Tidak pesimistis. Hanya berjuang untuk melawan apatis. Apa jadinya Liverpool tanpa Henderson? Mudah-mudahan Rodgers tahu cara terbaik membangun tim tanpa Bensin Diesel di dalamnya.

Jika Gerrard dianggap tak pernah mampu bermain bersama Frank Lampard di timnas Inggris, karena role yang bertabrakan, maka saat ini, Gerrard akan jadi pemain yang lebih spesial ketika Henderson berada di sekitarnya di lapangan hijau. Mudah-mudahan Roy Hodgson cukup pintar untuk memanggil The Unsung Hendo ke Brasil.



Bookmark and Share




Previous Post
Testament: Menangkan Untuknya
Next Post
It Ain't Over Till It's Over







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Testament: Menangkan Untuknya
Gegap gempitanya Anfield Road menjelang akhir musim 2013/14 ini semakin menjadi-jadi. Bukan hanya karena para pemain yang...