Artikel / Feature / Pertandingan / August 20, 2012

TORN AT HAWTORNS !

Sebenernya agak males juga mau nulis post match review, menilik hasil yang diraih Redmen di game pembuka season 2012/2013 ini. Apalagi dengan excitement yang menggebu-gebu dalam menunggu bergulirnya musim baru. Apalacur, hasil yang diharapkan tak tercapai.

Sedikit catatan tentang jalannya pertandingan ini mungkin akan jadi acuan untuk mensikapi partai berikutnya, melawan juara bertahan, Manchester City yang membuka musim dengan kemenangan meski dengan cara yang tidak mudah. Bukankah sudah menjadi ‘penyakit’ buat Liverpool, selalu kerepotan atau bahkan harus menyerah dari ‘tim kecil’ tapi tampil perkasa ketika menghadapi klub besar bertabur bintang ?

Dengan resminya Joe Allen bergabung ke LFC, sudah bisa ditebak, Rodgers akan langsung menempatkannya dalam starting eleven game pembuka melawan WBA ini. Benar saja, namanya muncul begitu line up diumumkan. Berduet dengan Lucas di lini tengah, dua gelandang yang mempunya kemampuan tackling mumpuni, diharapkan bisa memberikan rasa aman bagi lini pertahanan dan memberikan keleluasaan buat sang kapten Steven Gerrard untuk lebih focus membantu serangan.

Suarez

Luis Suarez, 8 shot on goal dari 16 peluang LFC

Babak pertama, Liverpool melakoninya dengan sangat baik.Tercatat dalam 30 menit pertama saja, Suarez sudah memiliki 5 peluang, dari total 8 tembakan ke gawangnya dalam pertandingan ini. Di babak pertama ini saja, Liverpool memiliki 10 peluang, dan sangat disayangkan tak satupun berbuah gol. Peluang Suarez di awal pertandingan, jika saja berbuah gol mungkin akan mengubah jalannya perandingan. Bukankah gol cepat biasanya menjadi kunci jalannya pertandingan?

Alih alih mengkonversi 10 peluang di babak pertama tersebut, di penghujung babak pertama (43’) West Brom malah unggul satu gol lewat tendangan spektakuler Zoltan Gera dari luar kotak penalty, memanfaatkan clearance kurang sempurna dari Skrtel.

Ketinggalan satu gol disikapi dengan intensitas tinggi di babak ke dua. Ciri khas high line defending ala Rodgers, tight passing dan pressing ketat diterapkan. Nampaknya Clarke membaca dengan baik perubahan ini, instruksi nya untuk melakukan serangan cepat begitu memenangkan bola dari Liverpool diejawantahkan dengan baik oleh para pemainnya.

Titik balik daripada pertandingan ini menurut saya adalah keputusan buruk dari Phil Dowd di menit 58 yang mengganjar Agger dengan kartu merah, saat dianggap mendorong Shane Long di kotak 16 (komentator dan media pun banyak yg meyatakan bahwa ini keputusan yang buruk), dan memberikan hadiah penalty untuk WBA. Untungnya Reina menebak dengan jitu arah bola sepakan Long. Namun terror Long tak berhenti di situ 5 menit berselang dari insiden penalty pertama, kali ini Skrtel dianggap melanggar Long, di kotak penalty. Tendangan dari titik putih yang kali ini diambil oleh Odemwienge berhasil bersarang di gawang Pepe Reina. 2-0. Sejak gol tersebut, WBA semakin berani menekan pertahanan Liverpool. Terbukti dengan 10 kali percobaan tendangan mengarah ke gawang, sementara Liverpool dipaksa untuk bertahan sehingga hanya sempat membukukan 4 peluang. Berbalik !

Ketinggalan 2-0 dan bermain dengan 10 pemain, jelas situasi yang sangat tidak menguntungkan. Organisasi permainan menjadi agak berantakan. Upaya memperkuat lini penyerangan dengan memasukkan Joe Cole untuk menggantikan Lucas,  tidak cukup membantu, jika tidak bisa dikatakan malah menambah berantakan. Karena Cole hanya berada di lapangan selama kurang lebih 10 menit. Cedera!

Carut marutnya organisasi permainan ini malah berujung pada bobolnya kembali gawang Pepe melalui sundulan Lukaku, pemain yang di preview match sudah saya sebut patut diwaspadai. 3-0 dan game over.

Sebenarnya Liverpool mendominasi  jalannya pertandingan, khususnya di babak pertama. Hal ini tergambar pada catatan passing akurasi 89% dari total 521 passing. Dan prosentasi penguasaan bola 60% yang didominasi oleh penguasaan bola di final 3rd. Penyakit lama yang belum juga sembuh di awal musim ini, mendominasi pertandingan namun gagal mengoptimalkan peluang yang didapat, berakibat fatal pada hasil akhir. Lihat saja, penguasaan bola dan prosentasi passing yang tinggi (tertinggi dalam 4 tahun terakhir) tidak berarti apa-apa ketika melihat catatan 16 shot on goal 7 dapat di blok 7 off target dan hanya 2 yang on target.

Agger

Agger dikartu merah - titik balik !

Statistik penyerangan tersebut tidak diimbangi dengan kinerja lini pertahanan. Dan seperti sudah saya sebut tadi, memburuknya kinerja pertahanan terjadi setelah Agger dikartu merah. West Brom  dapat melakukan 18 shot on goal, angka ini adalah yang tertinggi ke-4 di antara klub lainnya. 18 shot on goal tadi,  6 on target, 6 off target, 6 dapat diblok. Jumlah tackle dan interception pun ada pada jumlah terendah ke-3 dan ke-4 dari klub lainnya. 15 tackle , dan hanya 9 interception. Agger dan Lucas yang digantikan sejak menit 69 berdampak sangat signifikan pada sector ini. Perbandingan kinerja penyerangan dan pertahanan yang tidak berimbang..

Buat saya pribadi, debut duet Allen – Lucas di lini tengah ini masih belum padu betul, meskipun Allen mencatatkan statistik bagus dalam hal tekel dan passing. 4 tekel dia lakukan , dan dari total 69 passing yang dia lakukan akurasinya 96%. Kedua pemain ini jadi seperti redundan dalam melakoni peran. Suatu kondisi yang sangat bisa dimaklumi karena dalam membina hubungan, perlu waktu untuk saling memahami kan? Hahahahaha

Satu hal yang cukup disayangkan adalah penampilan Gerrard. Entah karena terlalu percaya diri atas duet di belakangnya, Gerrard yang diharapkan bisa lebih fokus membantu penyerangan malah seperti mati gaya. Sang kapten tercatat sebagai outfield player dengan passing akurasi ter-rendah yaitu 82% dari total 56 passing yang dia lakukan. Dimana hanya 25% yang mengarah ke depan. Padahal, Mulumbu dan Yacob yang berduet di lini tengah WBA dan bertugas memotong serangan juga tidak mempunyai stats bertahan istimewa dalam pertandingan ini.

Nasi sudah menjadi bubur, tinggal bagaimana Liverpool nantinya bereaksi atas salah satu kekalahan terbesar di game pembuka musim. Berharap Liverpool bisa mengadopsi semangat tiap kali bertemu lawan berstatus Big Club. Perjalanan masih panjang, bung !


Tags:  Agger LFC Premier League suarez tackle

Bookmark and Share




Previous Post
Versus WBA, Away Day Pertama.
Next Post
LFC vs Man. City. Membangun kembali benteng Anfield







1 Comment

Aug 20, 2012

Thanks artikel nya mate..saya sih hampir 99% setuju dengan semua aspek yg anda bahas..
Penyakit konversi goal dari banyaknya attempt dan possesion ternyata bener2 belum disentuh sama BR..
Pd awal season sy sgt berharap sekali ada 1 pembelian yg bener2 seorang goal getter murni n predator di penalty box yg bakal dibeli..
tp apa lacur, BR mlh mendatangkan seorang striker melebar yg sebenarnya sudah dijalankan dgn baik oleh Suarez..
Menurut sy pribadi, Suarez dan borini ini ga bisa di paksakan seorang goal getter murni krn emg dr awal mindset mereka itu udah maen scra free,bebas,giring kanan kiri,buka ruang..
Dan alangkah tmbah mengkhawatirkan jg apabila satu2nya striker murni kita, Carrol, akan dilego.. what.. ~__~”
Yah semoga masalah konversi ini bener2 diperhatikan dgn baik oleh BR..
Tiki-taka,high line defend mah ga bakal guna jg klo ga ada yg nge gollin..

Sekian, Maaf bila ada kta2 yg salah..



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Versus WBA, Away Day Pertama.
[poll id="4"] Awal musim yang cukup berat harus di lalui oleh Liverpool. Di 5 laga pertama kita harus menghadapi Man City,...