Berita & Rumor / September 2, 2013

[Ulasan] Liverpool 1 – MU 0, Keberhasilan sebuah kegigihan.

Daniel Sturridge yang sedang berulang tahun baru saja mencetak gol ketiganya dari tiga pertandingan di musim ini. Sebuah gol di menit ke-4 melawan rival bebuyutan Manchester United. Wajar jika anda mengharapkan Sturridge akan berlari ke arah supporter dan melakukan perayaan dengan tarian yang menjadi ciri khasnya setiap mencetak gol. Tetapi kali ini Sturridge terus berlari dan berlari menuju ke pinggir lapangan. Ia merayakan golnya dengan memeluk Brendan Rodgers, manager yang menurutnya berjasa menghidupkan kembali karirnya setelah harus bersabar menjadi pemain cadangan di Chelsea dan City.

1378107242776

Momen perayaan itu amatlah sesuai dengan hari di mana seluruh Anfield sedang merayakan 100 tahun Bill Shankly. Manager yang berjasa membangun pondasi Liverpool FC tidak hanya dengan prestasi tetapi juga dengan nilai-nilai penting yang diterapkan dan dikenal dengan The Liverpool Way. Apapun pendapat anda tentang Liverpool Way di era sepakbola modern ini, tidak ada keraguan dalam diri saya bahwa Shankly sendiri akan bangga jika dirinya yang memimpin tim yang mengalahkan United kemarin. Semua orang bersedia melakukan segalanya demi tim. Dari Glen Johnson yang berkali-kali menghadang tendangan penting di depan gawang sampai akhirnya harus cedera dalam melakukannya, hingga Gerrard yang harus lebih disiplin di babak kedua turun membantu Lucas melindungi barisan pertahanan. Memang, tidak semuanya tampil dengan gemilang, Aspas dan Coutinho mungkin layak diganti di babak kedua karena kurang bisa mengimbangi ritme pertandingan yang intens, tapi anda tidak bisa mengatakan mereka tidak memberikan sebisa mereka untuk tim. Rodgers tampak mengulangi strategi yang diterapkan vs Aston Villa. Seluruh pemain tampil lebih menekan  di babak pertama sedangkan di babak kedua ketika konsentrasi rawan menurun, LFC bermain lebih dalam dan menutup celah untuk serangan cepat United. Hal ini bisa dimaklumi, jika Villa memiliki Agbonlahor dan Benteke, United punya Van Persie yang beberapa kali di masa lalu mampu menghukum Liverpool dari serangan balik yang cepat hanya dengan 1 atau 2 sentuhan sejak masih berseragam Arsenal.

Pragmatisme, terutama di babak kedua ini juga melihat dari kondisi tim. Sturridge diakui Rodgers belumlah 100% fit. Aspas terlihat belum menyesuaikan diri dengan kecepatan Premier League, Coutinho tampak selalu ditutup oleh lebih dari satu pemain lawan, hal yang tidak mengherankan mengingat apa yang bisa dia lakukan jika mendapatkan ruang dan waktu dengan bola. Absennya Suarez sang top scorer juga membuat opsi kreativitas menjadi minim. Di saat mencetak gol kedua tidaklah mudah, sangatlah penting untuk tidak kebobolan dan menjaga keunggulan. Peran Simon Mignolet juga disini menjadi sangat penting. Kembali kiper anyar ini menunjukkan konsentrasi, refleks dan penguasaan area yang brillian dan dibantu Agger dan juga Skrtel yang memanfaatkan kesempatan tampil pertama yang didapatkannya musim ini dengan sangat baik, berhasil menjaga keperawanan gawang LFC di musim ini.

Apakah pragmatisme ini akan berlanjut melawan klub lain? Apakah mencetak 1 gol saja akan cukup memenangkan pertandingan-pertandingan kedepannya? Tidak ada yang tahu pasti. Yang penting bagi saya pribadi adalah kita memiliki tim yang bermain dengan satu visi yang sama, dalam bertahan maupun menyerang, sesuai dengan kehendak sang manager. Shankly selalu menginginkan semua pemainnya memberikan 100% untuk badge yang ada di jersey setiap pemain. Pada pertandingan kemarin tidak ada satu orang pun yang mengecewakannya. Onwards and Upwards. (mn)

1378038742790



Bookmark and Share




Previous Post
Jumpa Lagi, Moyes !
Next Post
SEPAKBOLA HASIL







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Jumpa Lagi, Moyes !
Meskipun dua aktor penambah level panasnya laga ini tidak ada, namun tetap tidak akan mengurangi tensinya. Dua? Benar,...