Artikel / December 1, 2011

Untuk Siapakah Kita Mendukung LFC?

Tulisan ini adalah kontribusi dari @hendra_hendarin

Mungkin adalah untuk klub kita; agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kita yang ada di Indonesia, membeli merchandise mereka sebagai kontribusi nyata dukungan kita; kita rela kehilangan waktu, tenaga, materi dan mental untuk menonton mereka -meski “hanya” lewat tivi, atau paling banter nonbar di kafe.

Namun demikian, hakikat dari kita sebagai suporter adalah untuk memuaskan ego kita sendiri. Kita membeli baju dan merchandise -terlepas dari bentuk kontribusi kita; utamanya supaya kita merasa senang, puas, bangga, terakui dan keren dengan memakainya.
Kita menonton pertandingan mereka; agar kita mendapatkan kepuasan batin melalui perangsangan mental kita. Agar kita mendapatkan media yang dapat merangsang keluarnya adrenalin kita; kala emosi kita terlibat dalam roller-coaster-nya performa dan pencapaian klub yang kita bela.

Namun, meski pada hakikatnya dukungan yang kita berikan adalah untuk feeding our ego, apakah kita egois? Mungkin. Namun tidak dalam konteks negatif. Human beings are a collection of egos. Tanpa ego, manusia tak akan survived.

Sepakbola profesional, suka atau tidak, sadar atau tidak, is just another industry. Hanyalah konversi alternatif dari kegiatan ekonomi yang diselenggarakan oleh kumpulan dari mahluk-mahluk ekonomis.

Liverpool Football Club, seperti economics instruments lainnya, adalah wadah bisnis dan kepentingan. Sebagai wadah bisnis, dalam menjalankan organisasinya, ia bersandar pada prinsip-prinsip ekonomi. Sedangkan sebagai badan pengemban kepentingan, ia juga berkepentingan terutama untuk turut menjaga dan meningkatkan kebanggan kota Liverpool serta mengangkat harkat, derajat, dan kebanggaan penduduk kota tersebut.

Roda bisnis dan kepentingan ini dijalankan melalui sistematika investasi yang melibatkan seluruh stakeholders. Pengemban tanggungjawab sumberdaya di LFC melaksanakan investasi uang, investasi reputasi, investasi jasa, dan investasi supra serta infra struktur lainnya.

Investasi ini tentu pada gilirannya akan menghasilkan produksi berupa hiburan. Dengan kata sederhana: LFC menjual hiburan.

Suporter, sebagai bagian penting dan paling kuantitatif dari stakeholders, adalah konsumen. Sebagai konsumen kita membeli dalam berbagai bentuk cara pembelian. Suporter bisa membeli merchandise, menjadi pemegang season ticket, menonton langsung di Anfield, berlangganan tivi kabel dan pay TV lainnya, bahkan “hanya” dengan rela menyaksikan tayangan iklan dalam siaran “gratis” di TV lokal.

Apapun dan semurah apapun “produk” ini kita beli, yang jelas ‘the transaction has been sealed and signed’. “Barangnya” sudah “jadi milik kita”. Karenanya, kita dalam skala dan lingkup pribadi bebas untuk memperlakukan “barang kita” itu semau kita. Bisa memujanya, memeliharanya, bahkan menghujatnya suatu waktu bila perlu.

Kita sudah mendapatkan “replika” dari tubuh LFC itu sendiri di dalam diri kita masing-masing; suatu objek virtual yang didapatkan melalui “copy-and-paste” langsung dari Anfield ke dada, hati, logika, pikiran dan mental kita masing-masing. Setelah itu, apa yang “sudah jadi milik kita”, terserah kita dong, mau diapain.

Hanya saja, ternyata, barang itu tidak kita sendiri yang punya. Orang lain banyak memiliki kloning yang sama dengan yang kita punya –meski end-form-nya berbeda di tiap dada masing-masing tergantung treatment mental kita terhadapnya.

Ada LFC yang sedang frustasi, ada yang sedang “cool” saja, dll. subyektif tergantung dari “pemilik barang tersebut”. Oleh karena itu, pada skala komunal, kita memiliki “etika” tak tertulis untuk sama-sama menjaga “objek peliharaan” masing-masing.

Tidak hanya “memiliki” klub sepakbola, sama halnya dengan misal, memiliki Vespa, Harley Davidson, VW Beetle, bahkan burung perkutut; secara manusiawi anda memiliki kebutuhan sosial untuk sharing. Untuk merasa bahwa kita tidak sendiri, dan lebih jauhnya lagi untuk saling meluaskan wawasan dan pengetahuan kita mengenai “barang kesayangan” kita itu. Untuk itulah dirasakan strategis dan bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan untuk membentuk wadah penyalur ego ini. Bentuknya bisa VW fans club, asosiasi penggemar jangkrik kalung, ataupun Official LFC supporters.

Sah-sah saja kita berasumsi dan membayangkan bahwa, misal, Kenny mendengarkan bahkan “berkomunikasi’ dengan kita, sekedar memuaskan ego kita dalam “memiliki” klub kita dalam dada masing-masing dengan cara mengeritiknya, memujinya, memberikan nasihat kepadanya dll.

“Saya memiliki LFC dengan warna dan bentuk yang telah termodifikasi oleh persepsi logika dan rasa saya sendiri, demikian juga anda”. Kita memiliki banyak variasi dari LFC: LFC yang sedang struggle di papan atas, LFC yang sedang meningkat terus penampilannya, LFC yang selalu baik bagi saya, LFC yang tak pernah bikin saya puas, dan berbagai macam lain LFC dengan berbagai perspektif mental.

Oleh karena LFC pada diri masing-masing kita ternyata sudah berbeda, karena sudah teradaptasi dan terkontaminasi oleh subyektifitas kita, adalah menarik bagi kita untuk saling berbagi dan berdiskusi tentang temuan bentuk LFC yang ada dalam diri kita, tentunya dengan tetap berada pada rel kesepakatan bersama, baik yang tertulis ataupun tak tertulis. Yang tertulis misalnya adalah ‘Reclaim the Kop’. Sedangkan yang tidak tertulis, adalah biasanya berkaitan dengan etika standar, misalnya: menghargai setiap pemain juga adalah sebagai seorang manusia lainnya tanpa atribut klubnya; karenanya kita tidak etis untuk merasa puas ketika, misal, suatu pemain lawan cedera, atau bahkan mengharapkannya cedera. Etika standar lainnya adalah, misal, mengemukakan pendapat kita dan pada saat yang sama menghargai pendapat orang lain.

 

Hendra Hendarin

tweet: hendra_hendarin



Bookmark and Share




Previous Post
[Terjemahan] Bagaimana Pass and Move Dilakukan Squad Liverpool Musim Ini
Next Post
COME BACK STRONGER, LUCAS!







1 Comment

Dec 01, 2011

Ajib tenaan!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
[Terjemahan] Bagaimana Pass and Move Dilakukan Squad Liverpool Musim Ini
Tulisan ini adalah terjemahan dari Rob Mars di blognya http://leftbackinthechangingroom.blogspot.com dengan judul asli 'Pass...