Artikel / Feature / July 21, 2011

Video Game, Highlights dan Stewart Downing

Video Game, Highlights dan Stewart Downing

            Berawal saat Stewart Downing digosipkan akan dikontrak oleh Liverpool, dunia maya saat itu memunculkan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang mengamini, ada yang skeptis, dan tidak sedikit jua yang menentangnya. Agar tidak lari dari topik, akan dibahas beberapa komentar yang menentang saja :

“Downing? Dia kan ga bisa lari n gocek… mahal lagi….”

“Downing kok lebih mahal dari Ashley Young? Padahal Young kan lebih kenceng larinya and lebih lincah”

“Mendingan Adam Johnson deh, gocekannya mantap”

“Loh, bukannya Juan Mata tadinya?”

Dan banyak komentar lainnya yang bertema serupa.

Gejala apakah ini? Di masa musim transfer ini, Liverpool dirumorkan dengan banyak sekali pemain. Bahkan situs klub pernah melansir di laman jejaring mereka bahwa selama periode Mei-Juni 2011 saja, media telah mengaitkan Liverpool dengan hampir 70 pemain. Tujuh Puluh. Bila rumor tersebut benar adanya semua, tentunya Liverpool akan menjadi klub dengan skuad yang paling gemuk di di seantero jagat :D.

Di era internet ini, supporter mendapatkan banyak media untuk menyuarakan keinginan mereka, berbagai laman jejaring sosial dan forum-forum menjadi lahan mereka menumpahkan mulai dari keluh kesah, keinginan, pujian, hingga sekedar caci maki. Tetapi ada satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa selain internet, banyak dari kita saat ini yang menikmati bermain video game sepakbola. Dari mulai yang berbau statistik dan taktik macam Football Manager hingga yang berbasis real time action game  macam PES, Winning Eleven atau FIFA Series.

Keterikatan para supporter terhadap permainan sepakbola sendiri pun akhirnya meningkat melalui game-game tersebut. Mereka (termasuk penulis), menjadi lebih paham dengan taktik yang digunakan saat bermain, atau atribut teknik dari para pemain. Dalam game berbasis taktik dan statistik, ketika kita mencari pemain sayap untuk tim kita, attribut awal yang kita cari adalah seberapa cepat sang pemain bisa berakselerasi (acceleration), seberapa akurat umpan silangnya (crossing, dan seberapa lincah dan trengginas pemain tersebut dalam menggiring bola (agility and dribbling). Banyak dari kita yang tidak terlalu memperhatikan attribut mental dari pemain tersebut,toh, kita berpikir, bila seorang pemain menjadi tidak kerasan, atau bahkan bertikai dengan kita sebagai manager, kita tinggal menjualnya dengan harga murah, atau bahkan dengan sedikit curang, kita bisa mengambil alih suatu klub kaya, untuk kemudian membeli pemain bermasalah tersebut dengan harga yang sangat mahal. Di dunia video game, mudah tentunya melakukan hal tersebut. Di dunia nyata?

Dalam game yang berbasis real time action game-pun, ketika kita bermain PES atau FIFA, ketika memilih pemain sayap atau penyerang, sedapat mungkin kita akan memilih pemain yang dapat berlari kencang dan meliuk-liuk melewati pemain bertahan lawan. Kita akan malas, misalnya, untuk memasang Kuyt di sayap kanan Liverpool, karena larinya tidak terlalu kencang dan kemampuan menggiring bolanya yang tidak seistimewa pemain idaman kita. Di PES atau FIFA, hal ini akan sangat signifikan, bahkan penulis mendapati beberapa yang lebih memilih Shaun Wright-Phillips untuk tim Liverpoolnya, dibandingkan Dirk Kuyt. Padahal kita semua tau, siapa yang lebih baik bagi tim secara keseluruhan di dunia nyata.

Dari paragraf di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa variabel pemilihan pemain di dunia nyata dan di game itu sama, tapi beda. Loh, kok gitu? Seperti Damien Commolli pernah katakan di wawancaranya dengan media, ia berujar :

“Dulu kami memilih pemain berdasarkan atribut teknik dan fisiknya, saat ini, atribut mental menjadi lebih utama. Bagaimana kemampuan pemain tersebut beradaptasi dengan lingkungan baru, bagaimana kemampuan adaptasinya dengan alur permainan tim. Itu yang utama.”

Nah, menginjak pada highlights dan YouTube, banyak dari kita yang beranjak dari pengetahuan yang kita dapat dari video game yang kita biasa mainkan. Saat ini banyak pengetahuan yang kita dapatkan tentang seorang pemain, datang dari highlights di televisi dan kompilasi video di laman YouTube. Kelemahan dari klip video ini adalah, si pembuat klip tentunya ingin menyajikan video yang menarik untuk ditonton, ia tak akan menyajikan klip yang berisi seorang pemain sayap sedang turun membantu pertahanan saat timnya diserang, itu akan menjadi hal yang tidak menarik. Akan menarik baginya sebagai pembuat klip video untuk menyajikan cuplikan-cuplikan ketika seorang pemain meliuk-liuk melewati bek lawan, atau ketika pemain tersebut melakukan percobaan tendangan jarak jauh yang spektakuler (meminjam istilah Hardimen Koto :D). Karena hal itulah mengapa untuk menilai seorang pemain hanya dari klip video saja kuranglah tepat. Dalam level tertinggi sepakbola, seorang pemandu bakat (scout) perlu melihat seorang pemain secara langsung beberapa kali, sehingga ia akan dapat memberikan penilaian yang optimal.

Bila kita membahas Downing, para fans Aston Villa mengatakan bahwa sebagai pemain tim, Downing jauh lebih unggul daripada Ashley Young. Ia mampu mengikuti alur permainan tim dengan baik, lalu ia tak sungkan untuk membantu lini pertahanan. Dan ketika ada komentar yang mengatakan bahwa Pemain A lebih baik daripada Downing, dengan alasan bahwa Pemain A dapat berlari lebih kencang atau memiliki keunggulan atribut fisik lain dari Downing, pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. Tetapi apakah Pemain A tersebut akan bermanfaat lebih banyak bagi tim daripada Downing? Waktu yang akan membuktikan.

Contoh yang mungkin bisa dikemukakan adalah Robinho. Dengan bakat yang sangat besar dan juga kemampuan teknik yang mumpuni, bila kita lihat klip-klip tentang Robinho di internet, maka kita akan terpana melihat giringan bolanya. Dan dalam video game, ketika kita memainkan tim yang berisi Robinho di dalamnya, maka ia akan menjadi tumpuan kita dalam melakukan penyerangan. Di dunia nyata, satu-satunya yang konsisten dari Robinho adalah konsistensinya untuk berpindah-pindah klub, dari Real Madrid, Manchester City, Santos, hingga saat ini di AC Milan. Dari sini terlihat bahwa bakat dan teknik bukan segalanya, mental lebih penting. Dan walaupun seseorang memiliki bakat besar, tetapi tanpa karakteristik mental yang tepat dan konsistensi, maka bakat tersebut akan lebih besar peluangnya untuk terbuang sia-sia.

Karena itulah, sebagai supporter, ada baiknya kita tidak semata-mata menilai seorang pemain hanya dari klip video atau video game semata. Masih banyak variabel lain yang dapat menentukan kualitas seorang pemain. Dan untuk memberi argumen mengapa Liverpool tampaknya belum mengontrak seorang pemain kelas dunia, proyeksi saat ini adalah untuk membentuk Liverpool kembali lagi menjadi sebuah tim kelas dunia, dan untuk itu, kita memerlukan pemain tim yang dapat mengintegrasikan dirinya ke tim dengan baik.

Kutipan dari Marcus Aurelius ini dirasa tepat untuk menutup artikel ini :

“To understand the true quality of people, you must look into their minds, and examine their pursuits and aversions.”

Terjemahan singkatnya adalah :

“Untuk memahami kualitas seseorang, kita harus melihat cara berpikir mereka, dan memahami tujuan mereka.”

 

Kenny Knows.

 

 


Tags:  downing

Bookmark and Share




Previous Post
Pemain Tengah Terlalu Banyak?
Next Post
[Terjemahan] Mengintip latihan Liverpool FC bersama Darren Burgess







1 Comment

Jul 22, 2011

Mantap bro artikelnya,nambah wwsan bwt kta bhwa melihat pmain bkn dari skillnya saja,pdhl gw lbh stuju liverpool lbh memilih ada jhonson,tp stelah bca artikel ini gw bru pham knpa liverpool lbh memilih drowning,di tunggu artikel yg lain.YNWA



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Pemain Tengah Terlalu Banyak?
Kita semua tahu di jendela transfer ini, siapa-siapa saja yang telah dikontrak oleh Liverpool. Dari mulai Jordan Henderson,...