Artikel / Berita & Rumor / Lain lain / January 1, 2014

WTF

What The Fuck ?

Bukan, saya tidak akan menuliskan ratusan kata berisi maki-makian di hari pertama tahun 2014 ini. Meskipun saya juga tidak terlalu menganggap spesial pergantian tahun ini, kecuali dalam satu hal.

Winter Transfer

images_posts_Winter-Transfer-Window-2014

Transfer musim dingin seringkali disebut sebagai window transfer yang agak sulit untuk mendapatkan pemain bagus. Disebabkan karena periode yang pendek, availability dan kemauan pemain untuk pindah. Ada yang mungkin masih berharap tim nya akan membaik performanya, atau akan mendapat tawaran kontrak baru.

Meski bagi Liverpool, seringkali perekrutan pemain di transfer musim dingin berujung dengan mendapat pemain yang langsung menempati posisi inti. Yang paling jelas kita ingat di periode 2000-an ada nama-nama seperti Skrtel, Mascherano, Arbeloa, dan yang paling anyar di tahun lalu, Sturridge dan Coutinho.

Ada juga “unfinished business” dari transfer musim panas lalu, yaitu mendapatkan pemain untuk posisi Attacking Midfielder. Masih ingat kan, bagaimana ekspresi frustasi Rodgers dalam sebuah interview di bulan September terkait hal ini? Kandidat pemain yang diusulkan oleh komite transfer yang dibentuk di musim panas lalu, semua gagal di rekrut karena berbagai alasan.  Mkhitaryan ke Dortmund, Diego Costa bertahan di Atletico dan Willian lebih memilih tinggal di ibukota.

Apa yang kita lihat sepanjang Desember kemarin, saat periode sibuk, pemain inti bermain terus, karena pelapisnya belum layak tampil, atau kualitasnya tidak sepadan.

Squad depth, menjadi concern lain dalam periode transfer musim dingin ini. Klub harus bisa segera menuntaskan issue ini dalam periode yang relatif pendek ini, jika ingin ambisi paling sederhana yang menjadi target klub musim ini, yaitu masuk zona Liga Champion bisa tercapai. Sukur-sukur, upaya menambah squad depth ini bisa menghasilkan jackpot memenangi gelar Premiership yang sudah sekian lama kita tunggu.

Satu striker, seorang attacking midfielder, bek kiri, dan defensive midfielder buat saya adalah prioritas. Dan nama-nama dalam gossip transfer belakangan ini, kurang lebih memang sudah mengarah kepada pemain yang berposisi seperti yang saya sebutkan.

Faktor finansial akan menjadi faktor kesulitan yang lain. Kita harus sadar, bahwa kekuatan finansial Liverpool, tidak bisa menandingi para pesaing utama, Manchester City, Chelsea, Manchester City, Arsenal maupun Tottenham Hotspur.

Terkait masalah finansial itulah, maka pada musim panas lalu dibentuk komite transfer. Komite ini bertugas menyusun daftar kandidat pemain yang akan direkrut, yang sesuai dengan kebutuhan tim dan kemampuan finansial klub., melalui analisa dari sisi teknis (type, skill, posisi dll) dan non teknis (market price, salary, usia dsb)

Liverpool’s Transfer Committee

Bisa kita lihat pada musim panas lalu, ketika Mkhitaryan yang menjadi target utama gagal direkrut, muncul nama berikutnya yaitu Diego Costa, lalu Willian. Komite berhasil menyusun daftar pemain yang dijadikan target utama, berikut nama-nama alternatif jika gagal.

Hal yang berikut ini akan menjadi faktor kesulitan lain dalam bursa transfer, khususnya di transfer musim dingin yang hanya punya waktu 1 bulan. Kesulitan yang menurut saya diciptakan sendiri oleh klub, dalam hal ini para negosiator dan pengambil keputusan pembelian pemain.

Terlalu hati-hati, atau kalau boleh saya bilang, bertele-tele dalam mengambil keputusan.

Kesadaran atas kemampuan finansial klub, bermuara pada penetapan harga maksimal dari seorang pemain oleh klub. Contoh konkrit adalah pada kasus Mkhitaryan, Diego Costa, Willian. Dari berita yang beredar saat itu, Liverpool memberikan tawaran untuk masing-masing pemain dengan harga 20-25 juta Poundsterling.

Kondisi yang sama pernah terjadi di era Shankly, sesaat setelah Liverpool dibawa nya promosi ke Divisi Utama. Saat itu Shanks mengajukan nama-nama pemain yang menurutnya dibutuhkan Liverpool untuk dapat bersaing di kasta yang lebih tinggi. Board saat itu, tidak menyanggupi dengan alasan terbatasnya budget transfer. Beberapa pemain disetujui, tapi dengan batas maksimum penawaran sudah ditetapkan. Jack Charlton, dipatok dengan harga 18 ribu Poundsterling, sementara Leeds meminta 20 ribu Poundsterling. Akhirnya lepas.

Shankly merespon keputusan board dengan pemikiran sederhana namun sangat mengena “No one could ever hope to best unless they aimed for the best. To be big there must be bigger thinking”

shanklysign

Dalam kaitannya dengan perekrutan pemain, nilai dari yang disampaikan Shanks dalam pokok pemikiran di atas adalah Liverpool harus bisa mendapatkan pemain yang sesuai dengan standar level Liverpool. Dan sebagai nilai-nilai dasar, semestinya sampai sekarang pemikiran tersebut juga harus tetap dipertahankan.

Football in modern day ? Tidak bisa lagi hal-hal klasik era Shankly diterapkan di sepakbola era modern ini? Hmm, baiklah. Hapus saja Liverpool Way a’la Shankly kalau begitu. Hapus saja nilai-nilai yang menjadi core klub ini, demi mengimbangi football in modern day, dan dinding indah dan kokoh untuk bersembunyi bernama Financial Fair Play.

Well, football in modern day.

Mkhitaryan dikabarkan memilih Dortmund yang berlaga di Liga Champion, demikian juga dengan Diego Costa yang kemudian juga mendapat perpanjangan kontrak. Willian ditinggalkan Liverpool karena konon ada agent fee yang nilainya tidak disepakati oleh klub, hingga kemudian memilih ke London utara untuk menjalani tes medik dengan Spurs, meski akhirnya berlabuh di Chelsea.

Dalam beberapa interview terkait kegagalan merekrut pemain-pemain tersebut, eksekutif klub menjawab dengan penegasan akan satu hal. Klub tidak akan membayar lebih di atas value sebenarnya dari pemain tersebut. Siapa yang menentukan value dari seorang pemain yang akan di rekrut, apa saja poin poin dari value tersebut?

Apakah real value of a player ini akan menjadi sesuatu yang saklek tidak boleh dilanggar? Untuk kemudian “mengorbankan” satu jendela transfer, dan membiarkan tim bermain dengan pemain yang di dapat, minus incaran utama? Belajar saja dari musim lalu.

Jika saja LFC mau membayar sedikit lebih untuk agent fee untuk Willian,  atau memberikan paket lebih besar dari yang ditawarkan Dortmund untuk Mkhitaryan (signing on fee, salary, bonus dsb), atau meyakinkan Diego Costa bahwa jika dirinya bergabung di LFC , dia akan mendapat gaji lebih besar dari yang ditawarkan Atletico, dia juga bisa menjadi pemain kunci yang membawa klub akan masuk Liga Champions dan bahkan mungkin memenangi beberapa gelar?

Mungkin terlalu naif, sederhana atau bahkan bodoh, tapi buat saya langkah-langkah tersebut di atas relevan dengan pesan dibalik kalimat penyangkalan “football in modern day” . Uang.

***

Ada satu hal yang  kita harus ingat, sejak 2008/2009 musim ini adalah yang identik, jika tadinya musim ini hanya memasang target masuk zona Liga Champions, sekarang ini dengan melihat fixture ke depan dan performa tim sejauh ini, tidak akan berdosa jika kita berharap serius, menjadi penantang juara.

Itulah kenapa, jendela transfer musim dingin ini akan menjadi sangat krusial, jangan sampai ada kegagalan untuk bisa memenuhi kebutuhan tim. Demi menjaga mimpi bersama.

Tidak akan selalu bisa kita mendapatkan pemain seperti Skrtel, Arbeloa, Coutinho, Sturridge, yang kita dapatkan dengan fee yang reasonable, langsung cocok dan beradaptasi dengan skema permainan dan iklim liga.

Progres pekerjaan Rodgers menukangi tim, bisa menjadi faktor yang memunculkan optimisme bagi kita semua untuk bisa mendapatkan pemain yang sesuai dengan kebutuhan tim dan berkualitas sesuai standar klub.

Selebihnya, mari kita berharap agar kinerja komite transfer, negosiator dan para pengambil keputusan bisa membaik. Belajar dari kegagalan transfer musim panas. Jika masih bertele-tele dengan apa yang disebut value of the player tadi, maka bersiaplah melihat Liverpool FC berjuang mengarungi paruh musim kedua nanti dengan pemain yang ada sekarang.

Dan menanggalkan semua mimpi itu.

WTF !



Bookmark and Share




Previous Post
Catatan Akhir Tahun 2013 - Liverpool FC
Next Post
Makin Dalam, Gerrard!



Yanuar Ryswanto




0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Catatan Akhir Tahun 2013 - Liverpool FC
2013 akan segera berlalu, tentunya dalam 365 hari tersebut ada banyak hal yang terjadi. Menyenangkan, ataupun tidak menyenangkan....