Artikel / Feature / Lain lain / September 9, 2013

Yes, Liverpool Aren’t Shite. Sarcasm is.

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya dari penulis yang sama, dengan judul “Liverpool Are Shite”. (red)

“Anybody who is unpredictable is waste of time. Being predictable is not too bad. We were predictable, but the opposition couldn’t stop us”

Membuat gol cepat, unggul lebih awal lalu bertahan. Predictable.

Untuk memenangkan suatu kompetisi (pendek atau panjang) – atau sekedar bertahan dalam kompetisi tersebut, contoh Stoke City – tidak ada yang salah dengan strategi apapun yang digunakan, termasuk di dalamnya defensive football (negative football) yang kemudian berakhir dengan scrappy win. Apalagi ketika strategi tersebut dianut oleh tim yang kita dukung. Peduli setan, masa bodo kata orang.

Italia pernah sukses dengan catenaccio nya, Yunani adalah juara yang membosankan di Euro 2004, Spanyol memenangkan Piala Dunia 2010 dengan sangat tidak impresif jika melihat skor pertandingan sejak di grup. Inter menjadi satu-satunya klub Italia yang berhasil meraih Treble Winners, setelah memenangi UCL 2009-10 dengan melewati pertandingan paling membosankan saat mengalahkan Barca di leg ke-2 semifinal, dengan hanya unggul 1-0. Langkah yang di duplikasi Roberto Di Matteo saat mengatasi Barcelona dan Bayern Muenchen ketika membawa Chelsea juara UCL pertama kalinya.

Debut Mourinho di Premier League musim 2004-05, berhasil membawa Chelsea menjadi kampiun, setelah melewati 38 pertandingan dengan 11 kali di antaranya adalah kemenangan 1-0. Musim 2008-09 yang merupakan pencapaian terbaik Liverpool di era Premier League, dengan menempati posisi 2 klasemen akhir berada di bawah Manyoo, dan hanya selisih 4 poin. Manyoo, saat itu memenangi 28 dari 38 pertandingan dengan 10 diantaranya kemenangan tipis 1-0.

Itu adalah sedikit bukti bahwa tidak ada yang salah dengan kemenangan 1-0 sebagai hasil sebuah strategi yang pragmatis (bukan cuma defensive football), demi meraih prestasi. Apalagi untuk kompetisi yang panjang. Singkatnya bisa disebut Sepakbola Hasil, seperti sudah dituliskan rekan saya dalam salah satu artikel di blog ini juga.

Pragmatis, mungkin istilah yang sering anda dapati di banyak artikel tentang gaya bermain Liverpool asuhan Rodgers belakangan ini. Dan bicara tentang pragmatisme ini, ada banyak faktor yang mungkin menjadi latar belakangnya. Saya mungkin sok tau, dan hanya menduga-duga, tapi jika tidak keberatan dengan pemikiran saya – yang seringkali dibilang hanya bisa nyinyir – , silahkan baca beberapa paragraf di bawah ini.

Terlepas dari kegagalan mendatangkan 1 pemain lagi untuk memperkuat lini serang Liverpool, Rodgers mungkin berkaca dari raihan di paruh ke-2 musim lalu. Pada periode tersebut (Januari – Mei) Liverpool berhasil menyarangkan 40 gol ke gawang lawan. Meskipu, itu tidak cukup membawa Liverpool untuk masuk zona Champions League, namun boleh dibilang berhasil dalam upaya peningkatan produktifitas mencetak gol.

Ketika lini serang sudah dianggap cukup bisa diandalkan, Rodgers mungkin berpikir bahwa yang patut dibenahi adalah, cara bertahan. Termasuk di dalamnya, bagaimana cara bertahan Liverpool saat menghadapi serangan balik, set piece dan yang paling krusial kesulitan deal dengan tim-tim yang mengedepankan physical approach. Seringkali kita lihat, Liverpool kebobolan dari situasi situasi seperti yang saya sebut tadi.

Rodgers menginginkan sepakbola kolektif, termasuk saat bertahan. Semua lini diharapkan kontribusinya dalam membangun pertahanan. Dan mungkin menurut Rodgers, cara paling tepat untuk melatih pola bertahan kolektif adalah dengan langsung menerapkannya dalam pertandingan kompetitif.

Stoke dan Aston Villa, adalah tim yang semestinya menjadi lumbung poin untuk Liverpool. Kenyataannya, kedua tim ini musim lalu sangat merepotkan. Hal yang identik dari kedua tim ini adalah physical approach baik dalam menyerang, menguasai bola maupun bertahan. Bukan suatu kebetulan saya rasa, ketika di 2 pertandingan awal kemarin, Rodgers menerapkan strategi yang sama saat menghadapi klub-klub tersebut. Kalau boleh saya bilang, Rodgers berhasil mengalahkan kedua tim tersebut dengan strategi mereka sendiri. Gol cepat, lalu bertahan secara kolektif. Menang.

Jika kemudian saat melawan Manyoo strategi tersebut masih dipakai, jelas bukan suatu langkah membunuh lawan dengan strategi mereka sendiri. Lagi-lagi bisa saya katakan ini pragmatisnya Rodgers. Mengutamakan permainan cantik melawan Manyoo, adalah bunuh diri pelan-pelan. Jadi, ketika sudah berhasil unggul cepat, bagaimana mempertahankannya, sambil mencuri peluang untuk menyerang balik. Coba ingat kembali peluang Sterling di menit akhir pertandingan saat itu. Rodgers – untuk sementara – meninggalkan idealisme nya, possession football.

Belum saatnya berpuas diri dengan cara bertahan, yang dalam 3 pertandingan terakhir membawa hasil positif. Akan tetapi, saat cara bertahan melawan tim yang mengandalkan fisik dan tim yang menyerang dengan atraktif, membuahkan hasil. Berharap agar cara bertahan ini, bisa diterapkan seterusnya. Kolektif.

Kita mungkin akan menyaksikan lagi sepakbola atraktif, atau paling tidak sepakbola yang seimbang, saat nanti Suarez sudah bisa kembali bermain. Sexy saat menyerang, gagah saat bertahan. Dan saya pun tidak peduli akan seperti apa penampilan Liverpool nanti, selama 3 poin selalu dapat diraih.

Hal lain yang mungkin menjadi latar belakang Rodgers, mengedepankan Sepakbola Hasil yang pragmatis ini, yaitu moral booster.

Masih jelas dalam ingatan kita di beberapa musim belakangan (paling tidak sejak era Rafa), kapten, vice kapten, manager tim menyampaikan melalui interview mereka, betapa pentingnya good start sebagai modal mengarungi kompetisi.  Dan sudah berapa pertengahan Mei kita lewati, untuk melihat posisi akhir klasemen, sebagai akibat dari kegagalan mewujudkan good start tadi.

Hasil positif di 3 laga pembuka adalah hal langka buat Liverpool dalam beberapa tahun belakangan. Maka, ketika berhasil meraih 3 kemenangan dari 3 laga pembuka, diharapkan moral tim meningkat. Secara psikologis, kondisi ini akan jadi modal untuk penampilan-penampilan di laga berikutnya.

Sekali lagi, untuk mewujudkan pertahanan kolektif, 3 angka, good start tersebut, strategi apapun tidak ada yang salah. Dan kebetulan, Rodgers menempuh strategi yang buat sebagian orang – termasuk supporter Liverpool sendiri – adalah strategi yang membosankan.

The truth : Liverpool’s Pragmatism Football Aren’t Shite.

***

Dalam artikel provokatif terakhir yang saya tulis , poin utamanya adalah “Liverpool bermain membosankan, negative football” . Sementara poin lain seperti masalah kenaikan harga tiket yang dikeluhkan para regular match goers di Liverpool sana, marquee signing, momen ulang tahun Shankly, adalah bumbu bagi tulisan saya, sekaligus informasi yang saya sampaikan dengan cara saya.

unusual_sarcasm_notice

Ada salah satu thread di forum diskusi supporter Liverpool luar sana (RAWK), yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis artikel terakhir saya itu. Judul thread tersebut, sama dengan judul artikel saya. Perbedaan kultur, menjadikan respon atas tulisan (thread) dengan judul provokatif tersebut, juga berbeda. Jika di forum tersebut, thread yang saya maksud akhirnya menjadi lucu-lucuan, tulisan saya mendapat banyak respon seolah saya secara blak-blak’an mencela cara bermain tim yang saya dukung sejak saya remaja.

Keputusan untuk menuliskan artikel dengan judul provokatif tersebut adalah kejengahan saya dengan beberapa komen di forum luar, twitter, dsb atas rasa tidak puas dengan permainan Liverpool belakangan ini, meskipun untuk dua pekan (semoga bertahan terus) sedang memimpin klasemen Liga Inggris.

Tulisan saya, adalah upaya saya untuk memberikan counter argument atas opini tersebut.  Saya juga berharap tulisan saya bisa menjadi pengingat, bahwa ini baru 3 pertandingan, tidak perlu khawatir dengan permainan yang nampak negative, sekaligus jangan terlalu berbesar kepala karena musim masih panjang.

Jika saja saya adalah termasuk orang yang komplain dan menolak negative football – sebagai bagian dari strategi pragmatis manager klub sepakbola yang saya dukung, dalam upayanya untuk meraih hasil maksimal –  saya mungkin sudah berhenti jadi supporter Liverpool sejak 2005. Jelas masih ingat bagaimana cara Rafael Benitez membawa Liverpool memenangi UCL 2004-05 sejak perempat final leg 2 di Turin, 2 leg semifinal,  hingga bagaimana terciptanya momen heroic di Istanbul – yang masih saja memeras air mata, tiap kali menontonnya lagi – saat bertahan mati-matian dari gempuran AC Milan setelah berhasil menyamakan kedudukan di awal babak ke-2, hasilnya? 5 times European Champions.

Sayangnya, sepertinya saya mengambil langkah yang kurang efektif (buat sebagian orang) dengan menuliskannya dalam balutan sarkasme, utamanya pada judul artikel.

Saya mungkin bukan supporter yang baik, dan kadar ke-Liverpoolan saya sangat rendah (menyedihkan), saya pun tidak memiliki bakat menulis manis seperti Freddy S atau penulis penulis di Anita Cemerlang yang berjaya pada jamannya, dengan novel dan cerpen romantisnya. Saya pernah (dan masih) bergabung di sebuah forum diskusi berbahasa Indonesia yang sempat terkenal dengan sarkasme para moderatornya.

Pengelola blog ini adalah kawan-kawan yang saya kenal, yang tidak mungkin sebodoh itu mem-publish tulisan saya, jika memang tujuannya hanya untuk mencela cela Liverpool. Bukan baru sekali saya mengirimkan tulisan di blog ini, sampai akhirnya saya diberikan akses langsung untuk posting di sini. Blog ini (juga akun Twitter) nya adalah salah satu dari sekian banyak akun dan blog yang mempunyai cara unik dalam menyampaikan informasi tentang Liverpool.

Dalam hal cara menyampaikan pesan ini, seluruh pengelola web dan pemegang akun twitter LFC_ID, tidak ingin jadi predictable.

Sarkasme, sepertinya bukan cara yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan. Lebih sering membuat orang jadi meradang. kebanyakan pembaca mungkin akan lebih mudah menangkap pesan dalam tulisan yang bagus (ini bukan sarkas!) seperti tulisan mas @takur_singh – “Liverpool Aren’t Shite”, sebuah counter artikel yang sangat saya harapkan atas tulisan saya sebelumnya, daripada sekedar nyinyir ga jelas di twitter.  Jadi, jika ada waktu dan kesempatan  nanti saya akan menulis dengan gaya lain selain sarcasm,  gaya suspense seperti Enny Arrow, agar lebih bisa dinikmati untuk dibaca.

Suspense? Yes, suspense in our f*cking pants.

Walk On ! 



Bookmark and Share




Previous Post
Liverpool Aren't Shite
Next Post
Alasan Kopites Tak Boleh Pesimistis Musim Ini







1 Comment

Sep 10, 2013

Doyan dengan gaya tulisan seperti ini, lanjooot ndan…



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
Liverpool Aren't Shite
Sebuah counter artikel dari @takur_singh atas tulisan bergaya sarcasm "Liverpool Are Shite" dari Yorke. Tulisan ini telah...