Artikel / Feature / August 23, 2015

Your Second Chance, Mr Lovren

lovren2Sebuah kesempatan memang datang tak terduga. Terkadang kesempatan datang di saat yang tidak tepat namun juga ada yang datang di situasi tepat. Kesempatan bisa jadi sebuah jawaban dari hal yang kita idam-idamkan selama ini. Semuanya sudah dirancang Tuhan sedemikian rupa, kita hanya bisa menunggu dan melakukannya saja.

Namun tidak semua orang bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Tak peduli mereka menunggu berapa lama untuk menantikan datangnya kesempatan itu. Maka dari itu, kesempatan akan bermuara kepada dua hal: sukses dan gagal. Jika Anda sukses, Anda patut berbangga akan hal itu. Bagaimana jika gagal? Berharap saja kepada kesempatan kedua. Tapi yang pasti, kesempatan kedua hanya datang kepada beberapa orang tertentu saja.

 

***

Kalimat pengantar di atas kurang lebih mengggambarkan sepenggal karir Dejan Lovren di Liverpool  sampai saat ini. Murni sebuah kesempatan ketika dirinya mendapatkan tawaran dari klub sebesar Liverpool. Lovren mungkin tidak tahu harus berkespresi apa saat itu. Ada rasa senang karena ini merupakan kesempatan yang besar, tapi ada rasa takut jika bermain di Liverpool nanti tak sesuai yang ia harapkan. Pastinya, yang pertama kali muncul di pikirannya saat itu adalah bagaimana caranya mendapatkan tanda tangan Steven Gerrard.

Lovren bermain gemilang di bawah armada Mauricio Pocchetino pada musim 2013/14. Bersama Jose Fonte ia membuat lini belakang The Saints menjadi benteng yang tangguh dan solid. Ditambah lagi peran dua anak muda yang menemaninya di sisi sayap, Nathaniel Clyne dan Luke Shaw. Soton pun menjadi salah satu tim dengan lini pertahanan terbaik di lima Liga top Eropa kala itu.

Musim lalu, melihat Lovren bermain di samping Skrtel/Sakho adalah hal yang lebih kejam dibandingkan uji nyali. Kita dituntut menyaksikan bagaimana cara pemain asal Kroasia bertahan menghadang serangan lawan. Sampai-sampai Rodgers menarik Emre Can bermain ke belakang di beberapa laga karena buruknya performa Lovren . Yang paling unik tentunya saat ia berhadapan dengan winger berbakat (yeah,they called it so) Yannick Bolasie.

Saat itu Lovren terlihat seperti pemain trial yang ingin menunjukkan bakat aslinya namun gagal. Ia justru dipermalukan Bolasie yang saat itu tengah bersemangat menyusul rumor ketertarikan Liverpool pada dirinya. Liverpool pun kandas 1-3 dan saya meminta pertanggung jawaban Lovren karena sudah merusak pesta perpisahan Steven Gerrard di Anfield saat itu.

Lembaran baru dimulai Lovren di musim 2015/16. Kesempatan untuk membuktikan kualitasnya di musim lalu bisa dibilang gagal. Sang pemain juga menyadari kegagalannya. Lebih bijak, ia mengatakan jika ia lebih sering dijadikan kambing hitam atas kegagalan The Reds di musim lalu.

“I think it was a tough year for everyone at the club and the fans. I was quiet last season, I just wanted to concentrate on myself .I knew what was happening with how I was playing was not right and I didn’t want to speak about it. At Southampton it was different. There was a good atmosphere and I was happy. If I am not playing well, I cannot be happy. I didn’t pretend. But it is not Dejan Lovren-Liverpool, you know? I cannot defend all alone. It is 11 players. When we are good, everyone is good. When we are bad, everyone is bad, not just me. I think we need to look like this, not just put the pressure on me or point the finger. I don’t agree with this. I know what the papers were writing about me. I don’t want to have to listen to this again. We want to move on as a team. When we are better, it is because we will be doing all together good.”

Pernyataan Lovren di atas memang ada benarnya. Lagipula, kegagalan di musim lalu sepenuhnya tanggung jawab tim, bukan personal-personal tertentu. Banyak faktor yang membuat Lovren gagal di kesempatan pertamanya. Mulai dari adaptasi, komunikasi dengan pemain lain sampai ketidakpahamannya dengan taktik Rodgers.

lovren1Faktor-faktor tersebut harusnya bisa dimaklumi para fans mengingat Lovren baru menghabiskan satu musim bersama Liverpool. Kini kesempatan kedua datang untuk memperbaiki lembaran buruk di musim sebelumnya. Tak etis memang menilai kontribusi pemain dari satu musim saja. Jika melihat performa Lovren di dua laga awal, mestinya sudah bisa membungkam para hatersnya.

Persetan dengan para fans yang masih mengharapkan Sakho berduet dengan Skrtel. Dengan adanya kompetisi antara Sakho dan Lovren akan membuat lini belakang semakin kuat. Bahkan Skrtel juga perlu diberi kompetitor agar performanya terus konsisten (I hope it’s not Kolo).

Kiprah Lovren di musim ini akan menarik untuk diikuti. Tapi, kesempatan tetaplah kesempatan. Jika tidak bisa dimaksimalkan akan berujung kepada kegagalan. Jangan heran jika Lovren akan pergi di akhir musim pabila ia gagal memperbaiki performanya.

Pembuktian selanjutnya bagi Lovren adalah Emirates Stadium. Markas yang cukup sulit ditaklukkan armada The Kop dalam beberapa musim terakhir. Terakhir kali Liverpool bermain disana mereka membiarkan Olivier Giroud dan Alexis Sanchez berdansa dengan indah di dalam kotak penalti Reds. Lovren wajib mematikan pergerakan dua nama tersebut guna mendapatkan kembali kepercayaan penuh dari fans. Sebuah kesempatan emas baginya.

Jika yang dibutuhkan Lovren memang jam bermain yang banyak, maka Rodgers sudah melakukan hal tepat sejauh ini. Memang janggal melihat status Sakho sebagai mantan kapten PSG kini tersisihkan olehnya. Namun selama menghasilkan kemenangan kenapa tidak? Lovren hanya perlu membuktikan diri jika ia layak dibanderol mahal.

Kini pertanyaannya adalah, jika Lovren mendapatkan kesempatan kedua mengapa tidak dengan Mario Balotelli?

 

Artikel ditulis oleh Jordy Billy – @Jordi_maramiS



Bookmark and Share




Previous Post
[loan watch] Danny Ward : Menebar Pesona Di Skotlandia
Next Post
IF NOBODY CAN’T (DEFEND), EMRE CAN







0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



More Story
[loan watch] Danny Ward : Menebar Pesona Di Skotlandia
Simon Mignolet memang selama ini menjadi pilihan utama dibawah asuhan Brendan Rodgers, sedangkan Brad Jones hanya mengisi...